M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG
M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polrestabes Semarang menilai kesadaran masyarakat dalam tertib berlalulintas masih rendah. Hal ini terlihat, selama 14 hari digelarnya Operasi Keselamatan Candi 2018 menemukan sebanyak 20.669 pelanggaran, baik pengendara roda dua maupun roda empat. Pelanggaran ini didominasi usia produktif, 16 sampai 20 tahun.

Satlantas Polrestabes Semarang mencatat 20.669 pelanggaran tersebut sebanyak 3.404 dilakukan penilangan, dan sisanya 17.265 pelanggaran diberikan teguran. Penilangan ini, paling banyak dilakukan oleh pengendara roda dua mencapai 2.382 pelanggar, sedangkan roda empat sebanyak 1.019 pelanggar.

“Bila dilihat jumlah tersebut, kami menyimpulkan, taraf ketertiban masyarakat Kota Semarang terhadap berlalu lintas masih kurang, dan harus ditingkatkan kembali,” ujar Kasat Lantas Polrestabes Semarang, AKBP Yuswanto Ardi, saat ditemui di Pos Patwal, Simpang Lima, kemarin.

Ardi menjelaskan, penilangan terhadap pengendara roda dua ini didominasi usia produktif, 16-20 tahun. Kasus pelanggaran terbanyak adalah melawan arus. “Total ada 17 jenis pelanggaran, yang paling banyak dilanggar adalah melawan arus, dan itu dilakukan malam hari, seperti di Jalan MH Thamrin, Jalan Gajahmada, dan Jalan Woltermonginsidi,” bebernya.

Dari jumlah temuan pelanggaran roda empat sebanyak 1.019 pelanggar, penindakan penilangan sebanyak 175 kendaraan yang menerobos traffic light. Perilaku atau pelanggaran ini paling banyak dilakukan di daerah pinggiran Kota Semarang.

“Kalau lampu sedang merah ya harus berhenti, bukan berarti tanpa pengawasan petugas, pengendara bisa menerobosnya, ini perilaku yang sangat membahayakan, dan bisa menyebabkan kecelakaan,” tegasnya.

Menurut Ardi, pelanggaran menerobos lampu traffic light sangat membahayakan dengan alasan dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan lalulintas. Pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk selalu patuh berlalulintas di jalan raya, karena ini menyangkut keselamatan jiwa baik diri sendiri maupun orang lain. “Inilah yang menjadi persiapan kami sebelum melaksankan Operasi Patuh Candi 2018,” katanya.

Wakasatlantas Polrestabes Semarang, Kompol Sumiarta, menambahkan operasi tersebut dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia, dilaksanakan mulai 5 – 25 Maret 2018. Kegiatan dilakukan sebagai upaya penekanan jumlah angka kecelakaan lalu lintas di wilayah Kota Semarang.

“Hasil rata-rata setiap hari di Kota Semarang kita jaring 250 sampai 350 pelanggaran. Kalau yang sifatnya pelangaran-pelanggaran kecil itu kita hanya lakukan imbauan,” ujarnya.

Pihaknya mengimbau kepada pengendara motor, utamanya orangtua yang memboncengkan anak kecil, untuk selalu mengutamakan keselamatan saat berkendara. Menurut Sumiarta, mengenakan helm adalah hukumnya wajib ditaati oleh pengendara motor maupun pembonceng. (mha/aro)