Ciptakan Kesan Klasik hingga Glamour

Uniknya Tas Anyam Berbahan Kain Nusantara

306
TRENDSETTER : Pemilik JF Bags, Judi Kurnianto (kiri) berfoto bersama pengunjung stan tas buatannya di sebuah pameran. (ISTIMEWA)
TRENDSETTER : Pemilik JF Bags, Judi Kurnianto (kiri) berfoto bersama pengunjung stan tas buatannya di sebuah pameran. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM – Kecantikan serta keunikan kain-kain nusantara kian diakui. Pemanfaatannya pun tak lagi sebatas material untuk busana, namun merambah hingga ke sejumlah produk fashion dan aksesori. Diantaranya tas anyam berbahan kain nusantara.

“Motif-motif yang hadir dalam ragam kain nusantara tergolong unik. Desain serta padu padan yang tepat menjadikannya karya yang sarat nilai,” ujar pemilik JF Bags, Judi Kurnianto saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, baru-baru ini.

Batik Sogan misalnya. Nuansa coklat dengan motif-motif klasiknya menghadirkan tampilan yang elegan. Sedangkan untuk nuansa glamour, kombinasi permainan warna-warna gold dan silver dapat menjadi pilihan.

Oleh karena itu, sejak 2014 lalu ia mulai fokus ‘mengutak-atik’ ragam kain nusantara dikombinasi dengan beberapa bahan lain menjadi aneka tas. Mulai dari clutch, tas jinjing hingga yang terbaru tas punggung.

“Saya bersama istri sudah mulai serius memproduksi tas sejak tahun 2012. Kemudian kami ingin lebih memiliki ciri khas. Karena itu sekitar tahun 2014, istri saya mulai mendesain tas-tas yang memadukan batik, songket dan beberapa jenis kain lain,” ujarnya.

Hasilnya, tas-tas produksinya pun mendapatkan sambutan yang cukup baik. Mulai dari konsumen lokal hingga luar. Ya, selain memasarkan dengan sistem online melalui website dan media social. Ia juga rajin mengikuti sejumlah pameran, baik di dalam maupun luar negeri.

“Saya sempat ikut pameran di Belanda, Thailand, Taiwan dan Tiongkok. Saat di Batam juga ada pembeli dari luar negeri. Awalnya hanya membeli beberapa saja, setelah itu mereka kembali memesan,” ujar ayah dari dua anak ini.

Sejauh ini, untuk material ia mengaku tidak mengalami kesulitan. Mengingat kain-kain nusantara juga mulai banyak diproduksi. Hanya saja, untuk aksesoris tas seperti gesper, ia mengaku sedikit kesulitan dan harus mengimpor.

“Sekarang juga banyak pameran batik. Biasanya kami sering main kesana. Sambil jalan, sambil cari-cari inspirasi, kalau kira-kira ada yang menurut kami bagus untuk dijadikan tas baru kami beli dan desain,” ujarnya.

Ke depan, ia berharap bisa terus berkreasi dan berinovasi dalam memproduksi tas-tas, khususnya yang memasukkan unsur budaya. Kemudian untuk pemasaran diharapkan juga bisa tembus ke pasar internasional. “Dalam label juga kami sebutkan merek serta Kota Semarang. Sehingga saya harap bisa turut mengenalkan kota ini juga,” ujarnya. (dna/ric)