194 Rider Ambil Bagian

219
MENANTANG: Salah satu rider ketika beraksi dalam 76 IDH URBAN 2018, hari pertama kemarin (31/3). (NIKO AUGLANDY/JAWA POS RADAR SOLO)
MENANTANG: Salah satu rider ketika beraksi dalam 76 IDH URBAN 2018, hari pertama kemarin (31/3). (NIKO AUGLANDY/JAWA POS RADAR SOLO)

RADARSEMARANG.COM, BOYOLALI – Kabut tipis yang turun dari puncak Merapi ke arah New Selo saat track 76 IDH URBAN 2018, hari pertama kemarin (31/3) ternyata tak membuat para peserta ciut untuk melibas setiap track yang dibuat panitia lomba.

”Seperti kejuaraan yang sudah-sudah, para peserta akan mengetes mental mereka untuk bisa menaklukkan setiap track. Suasana panorama Merapi dan Merbabu yang indah, ditambah tantangan track tanah pasir hingga aspal yang dari sisi tekstur akan sulit untuk ditaklukkan,” beber ketua Indonesian Downhill (IDH), Parama Nugroho kepada Jawa Pos Radar Solo kemarin.

Tahun ini, track New Selo cukup banyak berubah bentuk salah satunya penambahan  panjang lintasan menjadi 1070 meter. Begitu pula dengan tingkat elevasi yang terhitung cukup curam yakni mencapai 120 meter.

Untuk mengganti bagian wallrock berm yang terkendala akibat cuaca, akhirnya dibuatlah gap step up yang hanya bisa diakses rider kelas elite. Seperti di marshall 5 dibuat dua jalur dipisah untuk elite dan hobby, yakni ada step up dengan gap yang untuk keamanan hanya diperuntukkan bagi rider elite.

Hingga batas registrasi ulang di hari pertama, jumlah peserta di 76 IDH URBAN 2018 New Selo tercatat 194 rider. Para riders tersebut bakal bertarung di 11 kelas baik hobi maupun prestasi di mana masing-masing kelas akan diambil lima terbaik.

Rencananya final kejuaraan ini akan digelar hari ini (1/4), mulai dari pukul 10.30-15.00 WIB. Kelas yang dipertandingkan sendiri mulai dari Run Master A-D, Run Master Expert, Run Men Sport A-B, Run Menspoert Hardtail, Run Women Open, Run Junior, hingga Run Men Elite.

Kejuaraan Urban Downhill ini memang sedikit berbeda dengan kejuaraan downhill yang biasa melibas track turunan. Di sini para peserta akan melalui track yang berada di di kawasan penduduk, atau tempat wisata yang otomatis akan semakin banyak dikunjungi masyarakat sekitar, hingga wisatawan.

”Kejuaraan ini sama-sama mencari catatan waktu tercepat, bedanya jelas di kondisi lingkungannya yang berada di kawasan penduduk. Dan bagi para peserta jelas akan mendapat tantangan tambahan jika dilihat lebih banyak orang, ditambah jadi ajang  bagu suntuk mempromosikan oleghraga downhill ke penggemar sepeda gunung (MTB),” ungkapnya.

Track yang dibuat dengan tantangan lebih ringan pun sengaja disuguhkan untuk menstimulasi partisipasi rider pemula. ”Harapannya memang rider pemula yang mulai tertarik sepeda gunung mencoba dan merasakan downhill,” sambungnya. (nik/bas)