WIRAUSAHA: Sejumlah Difabel di Semarang saat mengikuti acara Bhinaya Bicara, Speak up and Be Awesome, Menyiapkan Difabel Mandiri Lewat Usaha, Jumat (30/3). (Sigit Andrianto/ Jawa Pos Radar Semarang)
WIRAUSAHA: Sejumlah Difabel di Semarang saat mengikuti acara Bhinaya Bicara, Speak up and Be Awesome, Menyiapkan Difabel Mandiri Lewat Usaha, Jumat (30/3). (Sigit Andrianto/ Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Sejumlah difabel di Semarang sudah memiliki usaha. Mulai dari kerajinan tangan, lukisan, catering, hingga usaha pakaian. Usaha para difabel ini, sudah siap untuk dikembangkan.

Puput Isnaini, salah satu anggota Komunitas Sahabat Difabel memiliki usaha jasa lukis wajah dan lukisan lainnya. Tidak main-main, hasil lukisan Puput dan adiknya, Zulfikar terjual 750 dan 800 dolar, oleh pembeli asal Australia melalui lelang.

”Dari kegemaran melukis, kemudian dikembangkan. Sekarang Alhamdulillah sudah bisa membeli alat-alatnya sendiri,” jelas Puput dalam acara Bhinaya Bicara, Speak up and Be Awesome, acara yang ditujukan untuk mendorong para difabel mandiri melalui wirausaha.

Guntur Raditya Wardhana, CEO Laxita Kayana Corp menilai wirausaha sangat penting untuk dilakukan para difabel. Sebab, selain menjadi mandiri, difabel juga bisa memberikan manfaat kepada banyak orang.

”Menjadi mandiri sangat penting untuk dapat meningkatkan kualitas hidup. Dan Biarkan orang bersandar pada kita melalui usaha yang kita jalankan,” ujar Radit –sapaan akrabnya- memberikan semangat kepada anggota Komunitas Sahabat Difabel Semarang, Jumat (30/3) kemarin.

Terkait menjalankan usaha, Radit mendorong para difabel untuk mengelola kelebihan yang dimiliki. Pengembangan ini harus diikuti dengan menghilangkan rasa takut. Sebab, ditekankan oleh Radit, rasa takut berlebihan tidak akan membuat seseorang menjadi maju.

”Ketakutan sama halnya tidak percaya kahadiran Tuhan. Yakin, bahwa Tuhan selalu menemani kita. Kita start dari titik yang sama, tinggal bagaimana kita menemukan cara kita. Tuhan sudah sediakan jalan,” ujar pria 28 tahun yang sudah memiliki 16 perusahaan ini. (sga/ida)