Gigi Bisa Jadi Sumber Penyebaran Infeksi

514

Diampu oleh : Drg Muhammad Reza Pahlevi Sp.BM

Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut dan Maksilofasial Kelompok Staff Medik Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut RSUP Dr Kariadi Semarang

RADARSEMARANG.COM – KELUHAN pada gigi dan rongga mulut seringkali dianggap hal yang ringan oleh sebagian masyarakat. Selain itu, banyak yang menganggap bahwa infeksi yang terjadi pada gigi hanya sebagai masalah biasa dan bisa sembuh dengan sendirinya.

Drg Muhammad Reza Pahlevi Sp.BM mengatakan berawal dari infeksi di rongga mulut dapat menyebabkan penyakit lain di tubuh kita. Penyakit gigi dan rongga mulut merupakan salah satu penyakit yang banyak dijumpai pada masyarakat Indonesia. Sayangnya banyak masyarakat yang menganggap jika infeksi pada gigi dianggap masalah sepele. “Tanpa disadari, keluhan penyakit gigi juga berdampak pada merosotnya produktivitas dari penderita,” katanya kemarin.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan yang dirilis pada 2014, jumlah penduduk Indonesia yang mengalami masalah pada gigi dan mulut meningkat dari 23 persen pada 2007, menjadi 26 persen pada 2013. Kelompok usia yang paling rentan dengan penyakit gigi dan mulut adalah usia lima hingga sembilan tahun, dan 45 hingga 54 tahun.

Muhammad Reza menjelaskan, fokus infeksi atau sumber infeksi dapat berupa gigi yang berlubang, sisa akar gigi, gusi yang sering berdarah dan juga gigi bungsu tertanam sebagian atau penuh yang kemudian dapat menyebabkan penyebaran suatu infeksi pada bagian tubuh yang lain. Infeksi di rongga mulut merupakan salah satu fokus infeksi yang dapat memperberat berbagai macam penyakit sistemik seperti penyakit kelainan katup jantung atau endokardititis, kencing manis, radang paru, stroke dan lain sebagainya.

“Rongga mulut sendiri memiliki banyak mikroorganisme, misalkan bakteri streptococcus mutans yang terdapat pada karies gigi. Bakteri ini akan berkembang apabila karies gigi tidak dirawat dengan baik dan akan menimbulkan penyakit lain dengan berbagai cara. Antara lain terjadinya kontaminasi dari fokus infeksi dengan jaringan sekitarnya, kuman dari fokus infeksi juga bisa masuk ke dalam aliran darah menyebabkan bakterimia dan dapat terjadi infeksi di tempat lain, misalnya pada jantung (subacute bacterial endikarditis) dan pada rongga hidung berupa sinusitiskronis,” tuturnya.

Adanya bakteri pada aliran darah, lanjut dia, akan menyebabkan terjadi penempelan bakteri pada permukaan endotel katup jantung. Bakteri ini dengan mudah menyerang katup jantung maupun otot jantung yang telah melemah. Katup akan menjadi rentan terhadap perlekatan koloni bakteri sehingga mudah terjadi peradangan.

“Selain melalui aliran darah, mikroorganisme dan toksin juga dapat menyebar melalui aliran kelenjar limfe. Penyebaran juga dapat melalui proses autoimun sehingga dapat menyebabkan kelainan di tempat lain. Misalnya di ginjal disebut glomerulonefritis, pada sendi disebut rheumatoid arthritis serta demam rheumatik,” ucapnya.

Rongga mulut merupakan cermin dari tubuh kita sehingga setiap perubahan di dalamnya dapat dipakai sebagai indikator akan kesehatan tubuh kita. Beberapa pencegahan terjadinya infeksi pada gigi dan mulut dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan mulut, seperti menggosok gigi secara teratur sesudah sarapan dan sebelum tidur dengan menggunakan pasta gigi.

Lalu membersihkan gigi dengan cara yang aman, seperti dengan dental floss untuk membersihkan daerah-daerah yang sulit terjangkau oleh sikat gigi dan juga mengurangi konsumsi gula yang tinggi karena dapat membuat kondisi mulut menjadi asam sehingga gigi berlubang dan memudahkan terjadinya infeksi.

“Pemeriksaan rutin untuk mengecek kondisi gigi ke dokter gigi setiap enam bulan sekali dilakukan untuk pencegahan dan deteksi dini kerusakan gigi dan mulut. Hal tersebut bermanfaat guna mencegah penyebaran infeksi menjadi penyakit yang lebih berbahaya,” paparnya.

Diharapkan dengan memelihara kesehatan gigi dan mulut dengan baik, bukan hanya mencegah masyarakat dari penyakit gigi dan mulut. Melainkan dapat pula menghindarkan masyarakat dari risiko memperberat penyakit sistemik. (den/ida)