TUNTUT HAK : Puluhan pekerja Sri Ratu Semarang yang di PHK berunjuk rasa di depan gedung Sri Ratu Jalan Pemuda, mereka menuntut pesangon yang menjadi haknya. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TUNTUT HAK : Puluhan pekerja Sri Ratu Semarang yang di PHK berunjuk rasa di depan gedung Sri Ratu Jalan Pemuda, mereka menuntut pesangon yang menjadi haknya. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Puluhan pekerja PT Sri Ratu (SR) Semarang yang di PHK, menggelar aksi unjuk rasa di depan tempatnya bekerja di Jalan Pemuda, Kamis (29/3). Mereka menuntut kepada perusahaan supaya memberikan pesangon sesuai haknya, dan tidak diangsur alias dicicil.

Mereka juga membentangkan berbagai spanduk bertuliskan “Tenagaku Diperas!
Pesangonku Dirampas!”, “Tolong Pikirkan Nasip Kami”, “Hai Pak Baleke Duwitku”, “Pesangonku Ojo Diangel Angel Yooo”, “Berani PHK Berarti Berani Kasih Pesangon”.

Koordinator aksi Heru Budi Utoyo, mengatakan, para pekerja Sri Ratu di PHK sejak Desember 2017. Pekerja menilai perusahaan tidak punya itikad baik untuk memenuhi kewajibannya sesuai UU Nomor 13 Tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan.

“Ini merupakan (aksi) yang ke empat kalinya sejak di PHK. Mereka menuntut pesangon sesuai dengan UU yang ada dan tidak dicicil,” ungkap Ketua DPD Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN) Kota Semarang.

“Sebenarnya putusan MA memutuskan perusahaan atau pengusaha untuk membayar pesangonya. Tapi sampai sekarang juga tidak diberikan,” bebernya.

Menurutnya, para pekerja yang di PHK tidak semuanya mereka tergabung dalam KSPN. Selain itu juga ada sebagian yang telah menerima pesangon dengan cara diangsur. Sedangkan mereka yang di PHK bekerja kisaran 18 tahun hinga 30 tahunan.

“Yang menolak diangsur ini ada sekitar 75 orang. Kebanyakan masa kerja mereka di atas 20 tahun sampai 30 tahun. Kalau aturan yang kita tuntut sesuai aturan dua kali ya paling nggak satu orang mendapat Rp 60 juta,” katanya. (mha/zal)