Pasar Modal Bukan Judi

394

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pertumbuhan investor di pasar modal menjadi salah satu indikasi masyarakat mulai tertarik berinvestasi melalui industri ini. Sayangnya, masih terdapat sejumlah stigma negatif terkait pasar modal.

Ketua Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Pasar Modal (LP3M) Investa Hari Prabowo mengatakan, investasi di pasar modal ini beda dengan investasi bodong. Memang, salah satu indikasi investasi bodong adalah keuntungan yang spektakuler, di antaranya bunga 10 persen per bulan.

“Kalau ada yang tawarkan return per bulan 5 persen saja itu sudah harus diwaspadai. Perlu ditanya perizinannya, kemudian memutar uangnya bagaimana kok bisa dapat bunga yang spektakuler tersebut,”ujarnya dalam Forum Bisnis, baru-baru ini.

Namun demikian, lanjutnya, beda lagi dengan pasar modal. Peraturan di bursa saham paling tinggi bisa naik hingga 35 persen, begitu juga penurunannya per hari dibatasi. “Artinya kalau mau cari return yang legal secara undang-undang ya di pasar modal,” ujarnya.

Fluktuasi yang cukup tinggi tersebut karena dari ratusan perusahaan yang ada di pasar modal memiliki karakter masing-masing. Ada yang cukup landai, ada yang cukup cepat dan ada yang naik turunnya sangat cepat.

“Di sinilah keunikan dan seninya. Namun demikian, tingginya fluktuasi naik turun harga bukanlah judi, tapi lebih karena adanya sentimen pasar. Semakin banyak permintaan harga akan naik, semakin banyak penawaran maka harga akan turun. Dan hal ini bisa dipelajari,” ujarnya. (dna/ton)