PANEN: Ketua dan Sekretaris DPC PDIP Kabupaten Semarang, Ngesti Nugraha melakukan panen perdana padi jenis MSP di Dusun Kemasan, Klepu, Pringapus, kemarin. (ISTIMEWA)
PANEN: Ketua dan Sekretaris DPC PDIP Kabupaten Semarang, Ngesti Nugraha melakukan panen perdana padi jenis MSP di Dusun Kemasan, Klepu, Pringapus, kemarin. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – DPC PDI Perjuangan Kabupaten Semarang melalui anggota Fraksi PDIP DPRD Kabupaten Semarang memberikan pendampingan dan mendorong kelompok tani di Kabupaten Semarang untuk menanam padi varietas MSP (Mari Sejahterakan Petani).

Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Semarang, Ngesti Nugraha mengatakan hasil ujicoba penanaman padi jenis MSP seluas satu hektar oleh Kelompok Tani Sri Rejeki Dusun Kemasan, Desa Klepu, Kecamatan Pringapus sudah panen.“Varietas padi MSP sebenarnya sudah ada sejak lama,” kata Ngesti, Kamis (29/3).

Dijelaskan Ngesti, di Kabupaten Semarang sendiri padi tersebut diujicoba ditanam di sejumlah wilayah Kecamatan yaitu di Kecamatan Pringapus, Kecamatan Susukan, Kecamatan Pabelan, Kecamatan Tengaran, Kecamatan Banyubiru, Kecamatan Bawen dan Kecamatan Ungaran. “Kita kemarin panen bersama padi MSP yang ditanam di wilayah Kecamatan Pringapus,” katanya.

Adapun luas tanam padi MSP seluas satu hektar bisa menghasilkan 9,1 ton gabah, sedangkan IR64 hanya 4,8-5,2 ton per hektare. Menurut Ngesti, keunggulan padi MSP lainnya yaitu hemat penggunaan benih saat tanam dan lebih tahan hama.

Hal itu dikarenakan untuk lahan satu hektar hanya butuh 10 kilogram, lebih sedikit dibandingkan padi jenis IR64 yang butuh 25 kg benih saat tanam. “Padi MSP lebih tahan hama karena hanya disemprot sekali saja, sementara IR64 sampai tiga kali penyemprotan. Jadi lebih untung tanam padi MSP,” ujarnya.

Meski begitu jenis tersebut juga memiliki kelemahan. Dijelaskannya, kelemahan padi MSP butuh waktu 105 baru panen sementara IR64 bisa 95 hari. Ia mengaku mendapat informasi dari PPL (petugas penyuluh lapangan) jika penebas padi di sawah tidak pernah menanyakan jenis padi yang ditanam.

“Yang penting produksinya bagus, per kilogram gabah dihargai Rp 4.000. Sudah ada beberpa kelompok tani yang meminta benih padi MSP untuk ditanam di tempat lain,” tuturnya. dikatakannya, saat ini anak-anak muda kurang berminat untuk bergelut di  bidang pertanian.

Dia berharap anak-anak muda mau menjadi petani tetapi petani yang modern. “Kita punya tanggung jawab bersama berkaitan ketahanan pangan nasional. Harapan kita anak-anak muda mau menjadi petani modern, sekarang sudah ada bantuan alat pertanian dari pemerintah,” katanya. (ewb/bas)