Tanah Amblas Kalongan Butuh Penanganan

433
AMBLAS : Warga Dusun Bandungan Desa Kalongan Kecamatan Ungaran Timur saat menunjukkan fenomena tanah amblas di wilayahnya, Selasa (27/3) kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
AMBLAS : Warga Dusun Bandungan Desa Kalongan Kecamatan Ungaran Timur saat menunjukkan fenomena tanah amblas di wilayahnya, Selasa (27/3) kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN–Tanah amblas kembali terjadi di Dusun Bandungan, Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur. Karena belum ada penanganan, tanah yang amblas tersebut terus bergerak hingga mendekati badan Jalan Arjuna Pringkurung.

Kepala Desa Kalongan, Yarmuji mengatakan, pihaknya meminta pihak terkait untuk segera menangani bencana tanah amblas tersebut. Jika tidak ditangani, dikhawatirkan memutus akses Ungaran ke Mranggen, Kabupaten Demak. “Tahun lalu baru setengah meter, sekarang yang paling dalam mencapai tiga meter,” kata Yarmuji, Selasa (27/3) kemarin.

Menurutnya, Jalan Arjuna Pringkurung merupakan akses penghubung utama Kabupaten Semarang dengan Kabupaten Demak via Kecamatan Ungaran Timur. Posisi tanah bergerak yang mendekati jalan kabupaten ini panjangnya sudah mencapai 30 meter. Sedangkan jarak dengan bahu jalan yang paling dekat adalah satu meter. Bahkan sejumlah pohon jati dan tiang lampu penerangan jalan umum ikut amblas.

Karena posisinya membahayakan pengguna jalan, pihak desa memasang tanda berupa batang kayu dan tali ala kadarnya. Kebetulan lokasinya berada di tanah milik desa. “Tanah bergerak di Dusun Bandungan ini merupakan rekahan dalam skala besar dan sudah bergerak dalam jangka lama. Bahkan tanah bergerak ini telah mencapai Dusun Dampu,” ujarnya.

Pihaknya sudah melaporkan kejadian tanah bergerak ini ke Pemkab Semarang. “Setahun lalu, kami sudah melaporkan ke BPBD dan Wakil Bupati langsung. Tapi belum ada tindak lebih lanjut,” katanya.

Fenomena tanah bergerak ini, lanjutnya, mengingatkan Yarmuji pada kisah desa-desa hilang yang lokasinya tidak jauh dari Dusun Bandungan. Saat ini, lokasi desa-desa yang hilang telah diakuisisi oleh PT Perhutani. Berdasarkan kisah yang diceritakan secara turun temurun ini, nama-nama desa yang hilang antara lain Desa Tugu Sari, Kewayuhan dan Jeruk Siring.

Penduduk desa tersebut telah diungsikan untuk menghindari korban jiwa. “Jadi pergerakan tanah itu sudah menjadi bagian dari cerita tentang migrasi bedol deso beberapa desa di bawahnya, yang diungsikan ke Dusun Ngaliyan, Glepung, Rejowinangun dan Mendiro Desa Kalongan pada era zaman Belanda,” katanya.

Jejak-jejak keberadaan desa yang hilang ini, lanjutnya, masih bisa dijumpai. Antaralain berupa bekas pemakaman umum dan bekas bangunan dan sisa-sisa barang becah belah milik warganya.

Hal serupa diungkapkan oleh Legiman, 54, warga Dusun Bandungan, Desa Kalongan. Dikatakannya, desa yang hilang meliputi Desa Jeruk Wangi, Jeruk Siring, Dadap Ayam dan Tugu Sari. “Bekas kuburan yang paling banyak di Jeruk Wangi. Di Jeruk Siring pernah kebakaran hutan, jadi nisannya sudah banyak yang hilang,” kata Legiman.

Saat ini bekas desa-desa yang hilang tersebut sudah berubah menjadi hutan yang ditumbuhi pohon keras. Namun beberapa lainnya dimanfaatkan oleh warga Desa Kalongan untuk bercocok tanam. (ewb/ida)