Nuansa di Balik Full Day School

278
Oleh : Dra Kartilah Kons
Oleh : Dra Kartilah Kons

RADARSEMARANG.COM – DALAM proses pembelajaran atau pelayanan bimbingan dan konseling sangat diperlukan adanya suasana yang kondusif, agar siswa merasakan nyaman, senang dan tanpa adanya suatu tekanan apapun. Namun kenyataan masih ada sebagian siswa dalam proses pembelajaran yang merasa tidak nyaman, bosan, dan merasa kurang bahagia. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang berasal dari individu atau siswa yang bersangkutan, baik faktor fisik (Mudah capai, mudah lelah, sering sakit, pusing) maupun psikis (gelisah, cemas, sedih, murung).

Basuki (2013) mengungkapkan pendapatnya terkait Full Day School merupakan kegiatan sekolah yang sebagian waktunya digunakan untuk program-program pembelajaran yang suasana informal, tidak kaku, menyenangkan bagi siswa serta dapat mengembangkan potensi siswa. Full Day School memiliki suatu tujuan yang sangat baik, di antaranya untuk dapat mengatasi berbagai masalah pendidikan dan sebagai salah satu upaya pembinaan akidah dan akhlak siswa untuk menanamkan nilai-nilai positif, juga memberikan dasar yang kuat dalam belajar pada segala aspek, yaitu perkembangan intelektual, fisik, sosial dan emosional, dan penanaman pendidikan karakter.

Permasalahannya Full Day School sekarang ini masih terjadi suatu persepsi yang kurang tepat dan dipandang sebelah mata oleh beberapa kalangan masyarakat, karena dapat menimbulkan beban siswa, menurunkan kreativitas siswa, dapat melelahkan siswa baik secara fisik maupun psikis, bahkan dikatakan dapat menimbulkan rasa stres pada diri siswa. Secara umum dapat dikatakan bahwa timbulnya persepsi yang kurang tepat tentang program Full Day School ini dikarenakan masih kurangnya pemahaman akan makna yang tersirat dibalik arti dan tujuan dari Full Day School itu sendiri, baik dari siswa, guru maupun orang tua atau masyarakat.

Dalam upaya untuk memasyarakatkan program Full Day School bagi siswa, guru, orang tua dan masyarakat agar tidak memandang sebelah mata, maka dapat dilakukan beberapa hal sebagai satu terobosan antara lain, (a) Pemanfaatan media pembelajaran / layanan bimbingan dan konseling yang sifatnya cooperatif learning yang membuat siswa senang, tidak bosan, (b) Selama belajar di sekolah siswa tidak harus berada di dalam kelas, (c) Menerapkan pembelajaran formal sampai dengan setengah hari, selanjutnya dapat diisi dengan kegiatan ekstrakurikuler sebagai wadah pengembangan kreativitas siswa dan potensi siswa, (d) Menciptakan lingkungan sekolah yang menyenangkan, (e) Guru senantiasa meningkatkan kreativitas dan berinovasi, (f) Murid tidak hanya dipaksa menguasai mata pelajaran / tugas –tugas saja tetapi juga membangun karakter mereka. (g) Meningkatkan komonikasi yang lebih intensif antara sekolah dan orang tua / masyarakat, (h) Meningkatkan kwalitas pelayanan kepada siswa bagi guru BK dan wali kelas secara maksimal, (i) Murid perlu mengelola waktu secara efektif, (J) Murid perlu menjaga stamina dengan pola makan dan olah raga yang baik.

Ternyata apabila konsep Full Day School tersebut dapat dipahami dengan benar, justru banyak makna yang tersirat dan sangat mendukung pengembangan karakter siswa. Full Day school ini bukan berarti para siswa belajar selama sehari penuh di sekolah. Program ini memastikan siswa dapat mengikuti kegiatan-kegiatan penanaman pendidikan karakter, belajar setengah hari, hendaknya para siswa tidak langsung pulang ke rumah, tetapi dapat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang menyenangkan dan membentuk karakter, kepribadian, serta mengembangkan potensi siswa dan tak akan lagi siswa membebani siswa, siswa tidak akan berada di dalam kelas selama delapan jam sehari dan diberi pelajaran terus-menerus, tapi bisa di lingkungan sekitar sekolah, bahkan di luar sekolah, yang penting semua jadi tanggung jawab sekolah di mana pun anak belajar.

Program Full Day School akan dapat berhasil dan dapat berjalan lancar, tidak lagi akan dipandang sebelah mata, apabila adanya tingkat pemahaman yang benar tentang Full Day School itu sendiri dan hendaklah didukung adanya jalinan kerja sama dan komunikasi yang lebih efektif di antara guru, kepala sekolah dan orang tua atau masyarakat. (as3/aro)

Guru BK SMA Negeri 1 Ambarawa