Pernah Jadi Sopir Taksi, Sekuriti hingga Penjual Tusuk Sate

Sugeng Subagio, Anak Sopir Angkot Kini Jadi Advokat Terkenal

470
PANTANG MENYERAH: Sugeng Subagio (kanan) bersama tim advokatnya usai menangani perkara pidana di PN Semarang, kemarin. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Terlahir dari keluarga tak mampu, tak membuat advokat Sugeng Subagio hilang asa. Ia terus berjuang hingga kini mampu meraih kesuksesan dalam berkarir. Seperti apa?

JOKO SUSANTO

AYAH Sugeng bekerja sebagai sopir angkot dengan penghasilan pas-pasan. Meski begitu, tak menyurutkan semangat pria kelahiran Semarang, 16 Mei 1979 ini untuk mengejar cita-citanya. Di sela bekerja di perusahaan sirup PT Heinz ABC Semarang,  suami dari Jumirno Wanti ini nyambi kuliah di Fakultas Hukum (FH) Universitas Boyolali (UBY) pada 2014. Sugeng mengaku bekerja di perusahaan sirup ABC itu selama 10 tahun.

Namun baru menempuh kuliah semester 1 bersamaan dengan ujian mid semester menjelang lebaran, ia dipanggil supervisornya. Saat itu, ia diberikan dua pilihan melanjutkan kuliah atau fokus bekerja. Sebab, saat itu kondisi perusahaan tengah mengalami penurunan.

“Itu pilihan yang benar-benar membingungkan. Satu sisi, saya ingin tetap kuliah, namun jika keluar kerja, saya butuh dana untuk biaya kuliah. Akhirnya,  dengan berat hati saya memutuskan keluar kerja,” kenangnya.

Setelah keluar kerja, ia kebingungan karena biaya kuliahnya belum ada. Sedangkan ayahnya hanya sopir angkot. Saat itulah, salah satu sahabatnya datang menawarkan pekerjaan menjadi sopir taksi bandara. “Saya jadi sopir taksi selama 1 tahun,” akunya.

Ia mengaku, kesulitan membagi waktu antara kuliah dan menjadi sopir taksi. Sehingga ia memutuskan berhenti.  Beberapa saat sempat menganggur, akhirnya Sugeng diterima bekerja sebagai sekuriti kafe dan karaoke Hits di Poncol Semarang.

“Setelah setahun jadi sekuriti, akhirnya manajemen mengangkat saya jadi supervisor sekuriti. Di sini, saya sempat dibantu biaya kuliah dan KKL sama manajer dan ladies company (Pemandu Karaoke) hingga lulus,”kenang Sugeng sambil tersipu.

Pria yang pernah jualan tusuk sate dari warung ke warung dan pasar ke pasar ini sempat kebingungan saat akan mengikuti Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Semarang. Sebab, dirinya tak memiliki biaya. Beruntung, sejumlah teman dekatnya membantu seluruh biaya, hingga dia resmi disumpah sebagai advokat.

“Setelah jadi pengacara, saya banyak menangani kasus-kasus perceraian, termasuk kasus pidana dan perdata. Dari sini, kehidupan saya mulai meningkat,” ujar alumni SMP Agus Salim Semarang 1995 dan SMK Veteran Semarang 1999 ini.

Setiap menangani kasus perceraian, kebanyakan pasangan tersebut berakhir damai. Dari situ, Sugeng mendapat sukses fee yang lumayan besar.

Putra keempat dari lima bersaudara pasangan almarhum Sukirman dan Sri Murtini ini mengaku, kesuksesannya mulai dirasakan sejak 2012 lalu. Kehidupannya semakin membaik sejak 2015. Saat ini, Sugeng juga memiliki banyak kesibukan di organisasi. Ia aktif sebagai pengurus Himpunan Advokat Muda Indonesia (HAMI) Kota Semarang, Kordinator Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) di Pusat Bantuan Hukum (PBH) Peradi Semarang, dan anggota Badan Penyuluhan dan Pembelaan Hukum (BPPH) Pemuda Pancasila (PP) Jawa Tengah. Sugeng memutuskan menjadi advokat, karena profesi ini sangat mulia dan terhormat (officium nobile).

“Dulu pengin jadi TNI, cuma ndak ada biaya. Akhirnya memutuskan jadi advokat. Saya pengin jadi advokat sejak banyak tetangga maupun teman-teman yang mencemooh dan memandang saya orang ndak mampu,” kenang mahasiswa Magister Hukum (MH) Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Solo ini.

Namun cemoohan itu justru memotivasi Sugeng meraih kesuksesan. Ia memiliki motto hidup membela yang lemah dan tertindas.  “Saya punya prinsif, sekalipun bisa sukses harus tetap rendah hati, itu yang saya terapkan sampai sekarang. Bagaimanapun tiada hasil yang mengingkari usaha,”katanya bijak.

Sugeng juga tidak pernah lupa kepada orang-orang yang pernah berjasa pada dirinya. Namun ia mengaku menemui kesulitan mencari sahabat-sahabatnya yang pernah membantunya selama kuliah.  “Banyak yang sudah hilang kontak. Tapi, saya sangat ingin bertemu dengan mereka,” ucapnya. (*/aro)