RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Seorang advokat dituntut menguasai berbagai bidang. Tidak sekadar ilmu hukum. Sebab, banyak persoalan atau sengketa dengan latar belakang permasalahan yang berbeda.

“Misalnya, jika menghadapi sengketa laut, maka advokat harus menguasai ilmu kelautan. Jadi menjadi advokat itu juga tidak mudah, harus menguasai berbagai ilmu,” kata Ketua DPD Kongres Advokat Indonesia (KAI) Jawa Tengah, John Richard Latuihamallo, dalam kegiatan pendidikan khusus profesi advokat angkatan X bekerja sama dengan Fakultas Hukum Undaris Ungaran di Hotel Grasia Semarang, Sabtu (24/3).

“Bicara kebenaran dan keadilan merupakan dasar utama seorang advokat bekerja. Dia harus menjaga moralitas advokat dalam menegakkan hukum,” tegasnya.

Menurutnya, jika belum memegang prinsip-prinsip tersebut maka seorang advokat belum bisa dikatakan sebagai advokat yang terhormat. Akan menjadi sia-sia jika seorang advokat hanya memikirkan keberhasilan dalam segala hal namun bisa masuk penjara lantaran hal yang dilakukannya sendiri.

“Advokat pada saat bekerja harus sudah bisa mengetahui risiko yang dilalui dalam apekerjaannya. Ibaratnya advokat itu satu kaki di surga dan satu lagi di neraka, karena dia sudah mengerti apa kasus yang ditangani dari orang lain,” jelasnya.

Menjadi Advokat, sambung John, harus memiliki kemampuan di atas rata-rata. Dalam pekerjaannya, advokat harus memiliki otak dan pikiran yang cerdas untuk mencari dalil-dalil hukum dari apa yang dibelanya.

Diklat Khusus Profesi Advokat yang digelar oleh DPD KAI Jateng bekerjasama dengan Fakultas Hukum Undaris ini berlangsung mulai 24 Maret hingga 8 April 2018. Selain mendapatkan pelatihan, para peserta angkatan X ini akan disumpah sebagai tanda kelulusan menjadi advokat.

Sekjen DPP KAI Apolos Djara Bonga SH mengatakan, menjadi advokat harus memiliki integritas yang baik. Ketika mereka lulus menjadi advokat, hal itu akan berdiri setara dengan penegak hukum lainnya.

“Ini dampaknya pertama untuk dirinya sendiri, terjaga dari berbagai penyimpangan dan tidak merugikan klien. Kan banyak contoh kasusnya kalangan advokat terlibat dan terjerumus dalam permasalahan,” terangnya. (tsa/zal)