YA alias Lina (DOKUMEN JAWA POS RADAR SEMARANG)
YA alias Lina (DOKUMEN JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Vonis cepat dijatuhkan kepada otak pembunuhan terhadap Meta Novita Handhayani, 38, istri pejabat Bank BRI, warga Jalan Bukit Delima B9 No 17 RT 03 RW 08 Perumahan Permata Puri, Beringin, Ngaliyan, Semarang. Begitu jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejari Kota Semarang, Adiana Windawati, selesai membacakan tuntutan kepada terdakwa YA bin Suradi alias Lina, 15, warga Boja, Kendal, dalam sidang tertutup di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Senin (26/3), hakim Fatchurahman langsung menjatuhkan vonis.

Dalam tuntutannya, JPU Adiana Windawati menuntut terdakwa Lina selama 10 tahun dikurangi selama yang bersangkutan dalam tahanan dengan perintah tetap ditahan. Jaksa menilai perbuatan terdakwa bersalah melanggar pasal 340 KUHP jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP tentang Sistem Peradilan Pidana Anak sebagaimana dakwaan primer. Kemudian menetapkan agar terdakwa membayar biaya perkara sebesar Rp 2 ribu.

Begitu tuntutan dibacakan, hakim langsung menjatuhkan vonis pidana yang sama dengan tuntutan dari JPU. “Vonis klien kami sama dengan tuntutan jaksa, yakni 10 tahun penjara. Hakim juga menganggap klien kami melanggar pasal 340 KUHP jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP,”kata kuasa hukum Lina, Andi Dwi Oktavian, kepada Jawa Pos Radar Semarang usai sidang, Senin (26/3).

Atas tuntutan dan putusan itu, pihaknya menyatakan sangat kecewa. Menurutnya, di dalam persidangan telah dibuktikan adanya hal-hal yang meringankan. Selain itu, sudah diuraikan di dalam pembelaan terdakwa, yakni penyesalan dari terdakwa. Kemudian, terdakwa juga bersikap sopan dalam persidangan, dan terdakwa belum pernah dihukum. “Klien kami juga masih mempunyai masa depan yang panjang, dan sudah mengakui perbuatannya. Namun hakim tidak melihat unsur itu, seolah hukum sebagai alat balas dendam,”tandasnya.

Dalam kasus itu, JPU Kejari Semarang, Adiana Windawati, mendakwa Lina telah melakukan tindak pidana dengan sengaja dan direncanakan lebih dulu menghilangkan nyawa orang lain.

Dalam dakwaannya, JPU menyebutkan, tindak pidana itu terjadi pada Kamis, 1 Maret 2018 sekitar pukul 08.25 di Perumahan Permata Puri, Ngaliyan. Awalnya, Lina sebagai pembantu rumah tangga di rumah korban Meta, selama dua bulan, tepatnya 11 Oktober 2017 sampai 25 Desember 2017. Tugasnya, bersih-bersih rumah, mengasuh anak korban, serta mengantar jemput anak korban ke sekolah.

Namun sejak 25 Desember, Lina diberhentikan dengan alasan korban akan liburan di Jakarta. Korban menyampaikan akan mempekerjakannya kembali sepulang dari Jakarta. Setelah pulang, Lina menemui korban di rumahnya untuk menanyakan perihal pekerjaan. Namun Lina tidak diterima, karena Meta sudah memiliki pembantu baru. Hal itu membuat terdakwa sakit hati, apabila mengingat  korban yang pernah mengatakan, Rifai, kekasihnya, dengan kata-kata jelek, hitam dan miskin. Karena itu, Lina bersama Rifai kemudian menyusun rencana untuk balas dendam dengan Meta. Korban akhirnya ditemukan tewas dengan luka tusukan di perut pada 1 Maret lalu.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Kota Semarang, John Richard Latuihamallo menilai, putusan hakim sesuai tuntutan dari JPU sudah memenuhi keadilan untuk masyarakat. Ia menilai, putusan itu sudah menyesuaikan Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA), karena hukum untuk anak itu memang lebih ke pembinaan. Ia berharap atas putusan tersebut, apabila sudah berkekuatan hukum tetap, terdakwa bisa segera di eksekusi oleh jaksa ke Lapas Anak Kutoarjo, hal itu sesuai perintah UUPA. “Keadilan masyarakat sudah terpenuhi, tapi pastinya dari keluarga tidak terima, karena korban sampai meninggal dunia, namun putusan hakim juga mempertimbangkan bahwa pelakunya adalah anak-anak,”kata John kepada koran ini.

Pihaknya juga meminta masyarakat luas dan pihak lainnya bisa memahami putusan itu. Menurutnya, dalam kasus itu, pelakunya juga ada anak-anak, yang berada dalam naungan hukum dan UUPA.  “Terdakwa ini anak-anak yang hukumnya pun harus disesuaikan sesuai dengan tuntutan jaksa, atau hakim juga bisa memberikan hukuman lebih dari jaksa. Tapi kan hakim juga mempertimbangkan hal lain, yakni pertimbangan yang diambil oleh jaksa, itu namanya keputusan confirm, yakni tuntutan jaksa yang dikuatkan oleh hakim,” jelasnya.

Terkait pernyataan kuasa hukum terdakwa yang kecewa dengan vonis tersebut, ia menegaskan kuasa hukum Lina bisa melakukan banding.  “Jika kecewa, banding saja, karena putusan ini kan putusan confirm, jadi ya memang itu hasilnya. Karena sekali lagi pelakunya adalah anak-anak, namun perbuatannya itu memang sangat memberatkan terdakwa, sehingga diambil putusan tersebut,” katanya. (jks/aro)