Promosi Kampung Wisata, Gelar Festival Lukis Payung

999
JADI TONTONAN: Sejumlah penampilan tari dan talent dalam lukis Payung di Kampung Ragam Warna, Dukuh Mranggen dan Kuthoharjo, Kecamatan Kaliwungu, Minggu (25/3) kemarin. (BUDI SETIYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
JADI TONTONAN: Sejumlah penampilan tari dan talent dalam lukis Payung di Kampung Ragam Warna, Dukuh Mranggen dan Kuthoharjo, Kecamatan Kaliwungu, Minggu (25/3) kemarin. (BUDI SETIYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, KENDAL—Masyarakat Dukuh Mranggen Desa Kuthoharjo Kecamatan Kaliwungu menggelar lomba melukis di atas payung yang dikemas dalam Festival Kampung Mranggen, Minggu (25/3). Dalam kesempatan tersebut, ditampilkan pula aneka ragam budaya lokal, seperti tari-tarian, drum blek, musik rebana serta makanan khas Kampung Mranggen dan lainnya.

Antusiasme warga sangat tinggi memeriahkan acara tersebut. Mereka berduyun-duyun mengunjungi kampung di bawah pemakaman umum Bukit Jabal Auliya, Kaliwungu itu.

Insiator Kampung Ragam Warna dan Festival Kampung Ragam Warna Mranggen, Sri Wijayanti Yogi mengatakan jika festival tersebut untuk mempromosikan Dukuh Mranggen sebagai kampung wisata yang telah ia bina selama empat bulan terakhir.

Ia melihat warga Dukuh Mranggen sangat kompak dan bersemangat untuk menjadikan kampung wisata. Apalagi warganya memiliki ciri khas yang menjadi potensi kampung. Seperti seni lukis, sastra puisi, teater, tari, drumblek dan seni musik lainnya. “Selain itu didukung produk home industry seperti krupuk, tempe, ceriping dan sebagainya. Masyarakatnya juga sangat kompak dan ramah dalam melayani pengunjung yang masuk,” katanya, kemarin (25/3).

Sedangkan ide untuk membuat Kampung Ragam Warna tidak lain karena ia melihat Kaliwungu ini akan menjadi daerah yang akan banyak dikunjungi. Yakni dengan adanya Kawasan Industri Kendal (KIK) serta potensi wisata baik alam dan religi yang ada di Kaliwungu.
“Saya melihat 60 persen lebih anak-anak dan pemuda di Mranggen ini pandai melukis. Lalu mengapa tidak untuk membuat kampung ragam warna. Jadi mereka menjadikan dinding dan jalan-jalan sebagai media lukis, saya carikan sponsor untuk cat dan perlatan lukis lainnya,” tandasnya.

Sedangkan lukis payung diakuinya sebenarnya sudah lama ada di Kaliwungu. Namun beberapa tahun terakhir ini tidak ada lagi geregetnya. “Nah dengan Festival Lukis Payung ini kami harapkan bisa menghidupkan lagi tradisi lukis payung di Kaliwungu,” tambahnya.
Camat Kaliwungu, Dwi Cahyono mengaku kagum dengan kekompakan dan kebersamaan warga di Dukuh Mranggen. Ia mengaku terharu karena anak-anak sampai orang tua ikut mengecat kampungnya menjadi aneka warna yang indah. “Lukis payung juga demikian, anak-anak sampai orang tua bahkan ibu-ibu sambil menggendong anaknya, ikut melukis,” tambahnya. (bud/ida)