KARNAVAL BUDAYA: Meski sempat diguyur hujan, karnaval seni budaya lintas agama dan pawai ogoh-ogoh berlangsung meriah di sepanjang Jalan Pemuda Semarang, Minggu (25/3). (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KARNAVAL BUDAYA: Meski sempat diguyur hujan, karnaval seni budaya lintas agama dan pawai ogoh-ogoh berlangsung meriah di sepanjang Jalan Pemuda Semarang, Minggu (25/3). (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG Karnaval Seni Budaya Lintas Agama dan Pawai Ogoh-Ogoh berlangsung meriah, Minggu (25/3). Meski sempat diguyur hujan, pawai tetap disambut antusias warga Semarang dan sekitarnya.

Pawai yang digelar di sepanjang Jalan Pemuda, mulai Titik 0 Km di depan Kantor Pos Johar menuju Balai Kota Semarang, diikuti 24 kelompok dari berbagai unsur agama, kelompok penganut kepercayaan, dan sejumlah komunitas. Totalnya ada sekitar 800 orang mengikuti pawai dengan menampilkan berbagai macam kebudayaan. Diarak pula ogoh-ogoh Cluluk, Rahwana dan Wishnu yang melambangkan sifat baik dan buruk dalam kehidupan. Bahkan, beberapa kali, ogoh-ogoh tersebut ditabrakkan layaknya sedang dalam pertarungan.

Pawai berakhir di halaman Balai Kota Semarang ditutup epik drama sendratari berjudul Rahwana Galau yang dibawakan oleh sanggar tari Saraswati

Koordinator event, I Kade Winaya Aluen, mengatakan, karnaval tersebut untuk membuktikan bahwa Semarang merupakan kota yang merangkul seluruh elemen masyarakat. ”Di dalam event ini yang ingin disampaikan adalah bahwa perbedaan itu sesuatu yang sangat indah. Selain itu, juga untuk menggairahkan kreativitas berkesenian dan berbudaya di Kota Semarang,” ujarnya.

Ia menegaskan, pawai ogoh-ogoh ini tidak ada kaitannya dengan ritual seperti yang ada di Bali. Karena itu, ogoh-ogoh tidak dibakar. Penekanannya ini sebagai pawai seni budaya lintas agama. ”Persiapannya, untuk yang ogoh-ogoh kurang lebih satu bulan, karena mendatangkan langsung dari Bali,” jelasnya.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, sangat mengapresiasi animo masyarakat yang terlibat dalam karnaval dan pawai ogoh-ogoh tersebut. Menurut Hendi, ini merupakan perlambang kolaborasi berbagai kebudayaan yang ada di Kota Semarang untuk tetap menjadi sebuah simbol harmoni.

“Harmoni ini harus tetap dijaga dan dirawat dengan baik untuk membawa Kota Semarang tetap dalam keadaan damai, aman, nyaman, dan tentram. Kita harus saling menghormati dalam setiap aktivitas dan kehidupan bermasyarakat,” ujar Hendi.

Erlinda, salah satu penonton mengaku senang dengan adanya event tahunan ini. Ia menilai karnaval dan pawai ini menjadi tontonan tersendiri bagi masyarakat Semarang.  ”Bisa kenal berbagai budaya juga. Dan ini mengingatkan kita bahwa toleransi beragama itu wajib,” katanya. (sga/aro)