Sempat Dianggap Gila, Kini Sedot Wisawatan, Gerakkan Ekonomi Warga

Lebih Dekat dengan Siswanto Pencetus Kampung Jawi

227
PERTAHANKAN BUDAYA : Siswanto, mendampingi anak-anak di kampungnya Kalialang Lama Kelurahan Sukorejo Gunungpati Semarang latihan seni tradisional berupa jathilan. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PERTAHANKAN BUDAYA : Siswanto, mendampingi anak-anak di kampungnya Kalialang Lama Kelurahan Sukorejo Gunungpati Semarang latihan seni tradisional berupa jathilan. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Khawatir dimanfaatkan teknologi, Siswanto berupaya mendampingi anak–anak dengan kebudayaan. Seperti apa?

SIGIT ANDRIANTO

Kanthi Budaya Urip Bakal Tumata. Falsafah ini dituliskan Siswanto di salah satu dinding kampungnya, Kalialang Lama Kelurahan Sukorejo Gunungpati Semarang. Ia yakin bahwa hidup akan semakin tertata dengan kebudayaan. Itu pula yang ingin ia terapkan ketika mencetuskan Kampung Jawi.

Siswanto khawatir perkembangan teknologi akan memberikan pengaruh negatif kepada generasi muda. Ia tidak rela teknologi membuat generasi muda melupakan nilai-nilai kebudayaan. Sebagai salah seorang pemerhati budaya, ia memutuskan untuk mendampingi generasi muda, terlebih yang ada di kampungnya, dengan nilai-nilai kebudayaan. Salah satunya lewat permainan tradisional dan kesenian Jawa yang kaya akan makna filosofis.

”Banyak permainan tradisional yang sebenarnya mengandung makna-makna bagi kehidupan. Saya tidak ingin, karena gadget mereka tidak kenal semua itu,” jelas pria tiga anak ini.

Pada mulanya, banyak celaan yang dilontarkan kepada pekerja swasta ini ketika berniat mengembangkan Kampung Jawi. Banyak yang menganggapnya gila. Bahkan tidak sedikit yang meyakini bahwa Siswanto tidak akan pernah bisa mewujudkan mimpinya.

Namun dengan tekad yang kuat, bukan hanya bisa menciptakan Kampung Jawi. Kini Siswanto mampu mendatangkan manfaat bagi masyarakat sekitarnya. Benar saja, setelah dikenal, Kampung Jawi banyak menyedot wisatawan. Dari dalam maupun luar kota. Praktis, perekonomian warga pun tergerakkan.

Siswanto bercerita, saat itu ia menuliskan apa yang menjadi keinginannya di tembok rumahnya. Kini, satu persatu cita-cita itu sudah terwujud. Salah satunya adalah ia ingin di kampungnya setiap saat terdengar bunyi gamelan yang sebelumnya tidak pernah terdengar di kampungnya.

”Karena sekarang di sini ada latihan rutin karawitan. Di sini juga dipentaskan berbagai kesenian Jawa, seperti jathilan, jaran kepang dan sejumlah kesenian Jawa lainnya,” ujarnya sembari menceritakan bahwa sejumlah peralatan memang masih pinjam.

Pria yang juga sering menjadi Pranata Cara ini memang tidak menguasai berbagai jenis kesenian. Untuk itu, ia menggandeng sejumlah rekannya untuk melatih anak-anak di kampungnya untuk berkesenian.

Untuk terus melambungkan nama Kampung Jawi, Siswanto menggelar sejumlah kegiatan. Ia juga telah mengembangkan sebuah pasar di bawah pohon jati di kampungnya. Pasar Jaten namanya. Semua ia lakukan dengan mengesampingkan kepentingan pribadinya. Sebab, tak jarang ia harus merogoh kocek pribadi untuk memenuhi kebutuhan acara yang ia buat. Tak mengapa, demi sebuah capaian besar, ia tidak pernah merasa dirugikan.

Upaya Siswanto pun telah mendapatkan apresiasi dari Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi. Apa yang dilakukan Siswanto, sejalan dengan upaya pemerintah kota untuk menciptakan kampung tematik di Kota Semarang. Tak tanggung-tanggung, saat peresmian Pasar Jaten, Hendi datang langsung untuk membuka acaranya.

Lebih lanjut, ke depan, Siswanto ingin membuat Kampung Kalialang Lama menjadi ladang rejeki bagi warganya. Tidak perlu mencari kerja di luar, anak-anak di Kalialang Lama diharapkan bisa mencari rejeki di tempat kelahirannya sendiri, jika Kampung Jawi yang kini menjadi destinasi wisata kebudayaan bisa semakin berkembang. ”Namun tetap seperti tujuan awal, mengenalkan dan mengembangkan budaya Jawa,” tandasnya. (*/ida)