RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Peredaran narkoba semakin memprihatinkan. Sasaran para bandar untuk meraup keuntungan sudah tidak pandang bulu. Tak hanya kalangan dewasa, tapi juga anak-anak. Terbukti, berdasarkan pengungkapan kasus narkoba oleh Satresnarkona Polrestabes Semarang, mendapati adanya anak di bawah umur yang terlibat sebagai pengedar narkoba.

Kasat Resnarkoba Polrestabes Semarang, AKBP Sidik Hanafi mengatakan bahwa Januari-Maret 2018 telah menangkap 76 tersangka kasus narkotika dan obat terlarang. “Dari 76 orang tersangka, memang mayoritas kalangan dewasa, tapi ada satu di antaranya masih di bawah umur,” ungkapnya, kemarin.

Terkait anak di bawah umur tersebut, Hanafi menegaskan akan tetap diproses sesuai hukum yang berlaku yang mengacu undang-undang 11 tahun 2012, terkait sistem peradilan anak. “Penanganan anak harusnya mengacu ke undang undang peradilan anak. Tapi kasusnya ini, sebagai pengedar,” tegasnya.

Hanafi menjelaskan pengungkapan peredaran narkoba terus mengalami peningkatan tiap bulannya di tahun 2018 ini. Januari mengungkap 20 kasus, Pebruari 18 kasus dan hingga pertengahan Maret sudah mencapai 20 kasus. “Wilayah yang paling rawan di Semarang bagian Utara, Tengah dan Barat. Namun selama ini, menangkap pelaku di tempat kos,” bebernya.

Hanafi membeberkan, jenis narkoba yang mendominasi saat ini adalah sabu. Namun peredaran narkobanya telah meluas. Kalau sebelumnya, sasaran mulai dari pengguna hingga pengedar kebanyakan kalangan menengah ke atas. Sekarang menyasar menengah ke bawah.

“Sekarang ada paket kecil, Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu. Bandar-bandar ini mencari mangsa dari kalangan yang terhimpit ekonomi. Mereka memanfaatkan ekonomi lemah yang membutuhkan pemasukan ditawari sebagai pengedar,” bebernya.

Sedangkan tahun 2016, pengungkapan narkoba sebanyak 175 kasus dari target 89 kasus. Tahun 2017 meningkat menjadi 198 kasus, dari total target 90 kasus. “Target tahun ini mengungkap 94 kasus, namun sudah sebentar lagi terpenuhi. Kami tetap meneruskan pengungkapan sampai akhir tahun,” ujarnya.

Hanafi mengakui, peredaran jaringan narkoba sebagian besar melibatkan narapidana di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Modusnya pengedar menggunakan handphone berkomunikasi dengan orang luar untuk mengantarkan pesanan ataupun mengedarkan. “80 persen jaringan narkoba melibatkan narapidana. Cuma kalau kita cek susah, karena mereka menggunakan nama samaran,” bebernya.

Sejauh ini, pihaknya mengakui belum mendeteksi adanya narkoba jenis baru. Namun demikian, pihaknya akan terus melakukan upaya-upaya pendeteksian hingga pemberantasan narkoba di wilayah hukum Polrestabes Semarang. “Kami akan terus melakukan penyuluhan dan penindakan,” imbuhnya. (mha/ida)