Bertato, Jadi Sulit Dapat Sekolah

981
MENAHAN PANAS: Warga manfaatkan layanan hapus tato gratis dari Solo Medicare di Masjid Jami MUI Surakarta kemarin. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
MENAHAN PANAS: Warga manfaatkan layanan hapus tato gratis dari Solo Medicare di Masjid Jami MUI Surakarta kemarin. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

RADARSEMARANG.COM, SOLO – Layanan hapus tato gratis yang digelar Solo Medicare di Masjid Jami Majelis Ulama Indonesia (MUI) Surakarta, Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon siang kemarin dibanjiri warga. Tidak hanya orang dewasa, sejumlah remaja ikut antre untuk menghapus tatonya.

Di antaranya Putri (nama samaran). Murid SMP ini ikut berjubel dengan ratusan orang lainnya. Sejak panitia mem-posting kegiatan tersebut, dia antusias ingin mengikutinya. Bersama ibunya, Putri beberapa kali bertemu dengan panitia acara.

Itu dilakukan sebagai upaya lobi karena niat Putri menghapus tato ditolak panitia penyelenggara. Penyebabnya, usianya di bawah umur.“Sebetulnya sudah diberi tahu sama panitia kalau belum cukup umur. Tapi saya pengin hapus tato karena susah cari sekolah. Suruh menunggu 18 tahun dulu baru bisa dihapus. Tadi juga ditawari sekolah di pondok tapi saya tidak mau,” beber Dara.

Kenapa membuat tato? Dara mengaku hanya iseng karena temannya juga memiliki tato. “Saya tato di punggung dan dada atas. Awalnya itu tidak tahu kalau ini permanen,” ujar dia.

Terpisah, Ketua Dewan Pendidikan Kota Surakarta Joko Riyanto menegaskan, aturan murid bertato belum dibahas secara detail. Namun, secara emplisit memang tidak diperkenankan. Artinya, setiap sekolah berhak menjalankan aturannya masing-masing terkait murid bertato. “Anak-anak cenderung tidak tahu dampak bertato ketika masih berstatus sebagai pelajar,” ungkapnya.

Di sisi lain, Joko mengapresiasi sejumlah pelajar yang berniat menghapus tatonya. Dia juga berpesan, bagi siapa saja yang hendak membuat tato harus bisa menempatkan diri dan paham posisi dan statusnya. “Tato itu seni. Tapi, jika dilakukan di dunia pendidikan masih tabu. Makanya kami berharap kegiatan ini (hapus tato gratis, Red) bisa dilakukan secara berkala,” paparnya.

Kepala Dinas Pendidikan Surakarta Etty Retnowati menjelaskan, masing-masing sekolah memiliki aturan sendiri soal murid bertato. “Jujur belum pernah ada laporan terkait itu (murid bertato, Red). Yang perlu diperhatikan, jika ada sanksi, pihak sekolah harus melihat berbagai aspek. Masalah ini tidak bisa dipukul rata, namun harus dilihat dari kasus per kasus,” ungkapnya. (ves/wa/bas)