33 C
Semarang
Jumat, 10 Juli 2020

Bertato, Jadi Sulit Dapat Sekolah

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

RADARSEMARANG.COM, SOLO – Layanan hapus tato gratis yang digelar Solo Medicare di Masjid Jami Majelis Ulama Indonesia (MUI) Surakarta, Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon siang kemarin dibanjiri warga. Tidak hanya orang dewasa, sejumlah remaja ikut antre untuk menghapus tatonya.
Di antaranya Putri (nama samaran). Murid SMP ini ikut berjubel dengan ratusan orang lainnya. Sejak panitia mem-posting kegiatan tersebut, dia antusias ingin mengikutinya. Bersama ibunya, Putri beberapa kali bertemu dengan panitia acara.
Itu dilakukan sebagai upaya lobi karena niat Putri menghapus tato ditolak panitia penyelenggara. Penyebabnya, usianya di bawah umur.“Sebetulnya sudah diberi tahu sama panitia kalau belum cukup umur. Tapi saya pengin hapus tato karena susah cari sekolah. Suruh menunggu 18 tahun dulu baru bisa dihapus. Tadi juga ditawari sekolah di pondok tapi saya tidak mau,” beber Dara.
Kenapa membuat tato? Dara mengaku hanya iseng karena temannya juga memiliki tato. “Saya tato di punggung dan dada atas. Awalnya itu tidak tahu kalau ini permanen,” ujar dia.
Terpisah, Ketua Dewan Pendidikan Kota Surakarta Joko Riyanto menegaskan, aturan murid bertato belum dibahas secara detail. Namun, secara emplisit memang tidak diperkenankan. Artinya, setiap sekolah berhak menjalankan aturannya masing-masing terkait murid bertato. “Anak-anak cenderung tidak tahu dampak bertato ketika masih berstatus sebagai pelajar,” ungkapnya.
Di sisi lain, Joko mengapresiasi sejumlah pelajar yang berniat menghapus tatonya. Dia juga berpesan, bagi siapa saja yang hendak membuat tato harus bisa menempatkan diri dan paham posisi dan statusnya. “Tato itu seni. Tapi, jika dilakukan di dunia pendidikan masih tabu. Makanya kami berharap kegiatan ini (hapus tato gratis, Red) bisa dilakukan secara berkala,” paparnya.
Kepala Dinas Pendidikan Surakarta Etty Retnowati menjelaskan, masing-masing sekolah memiliki aturan sendiri soal murid bertato. “Jujur belum pernah ada laporan terkait itu (murid bertato, Red). Yang perlu diperhatikan, jika ada sanksi, pihak sekolah harus melihat berbagai aspek. Masalah ini tidak bisa dipukul rata, namun harus dilihat dari kasus per kasus,” ungkapnya. (ves/wa/bas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Tempat Berbelanja Produk Elektronik yang Nyaman

RADARSEMARANG.COM - Atlanta Electronics. Toko elektronik berkonsep modern pertama di Kota Semarang ini, lahir dari kerja keras sang pemilik, Santoso Kurniadi. MENGAWALI karier sebagai sales...

Tanam 1.800 Bibit Kelapa di Pulau Onggojoyo

DEMAK-Pemkab Demak terus berupaya melakukan penghijauan di wilayah pesisir. Bila biasanya menanam mangrove, kali ini yang ditanam adalah bibit pohon kelapa. Sebanyak 1.800 bibit...

Belum Putuskan Nasib Gilang Ginarsa

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG -  Mantan bek sayap Sriwijaya FC, Gilang Ginarsa memiliki kans untuk direkrut oleh tim PSIS Semarang. Pemain berusia 29 tahun itu telah...

Maju di Bidang Pertanian dan Peternakan

RADARSEMARANG.COM, SURUH – Desa Ketanggi memiliki sistem pertanian yang cukup bagus. Dikatakan oleh kepala Desa Ketanggi Sugiyarto, kelompok tani di desa ini memiliki sejumlah program...

Telkomsel Hadirkan Gadget Terjangkau

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Mendekati Hari Raya Idul FItri 1439H, Telkomsel menghadirkan Ramadhan Fair 2018 di Paragon Mall Semarang, 12 - 24 Juni. Telkomsel menghadirkan beberapa penawaran...

Pernah Jualan Buah, sampai Diancam Golok

Karir Kepala Seksi (Kasi) Tindak Pidana Umum (Tipidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang, Anton Rudianto, cukup cemerlang. Namun siapa sangka perjuangannya saat masih duduk di...