BANTUAN CSR : Dirut PT Geo Dipa Energi (Persero) Riki Firmandha Ibrahim menyerahkan bantuan bibit pohon dan ikan kepada Kepala Desa Dieng Wetan Wonosobo dan Dieng Kulon, Banjarnegara dalam Peringatan Hari Air Sedunia. (IST)
BANTUAN CSR : Dirut PT Geo Dipa Energi (Persero) Riki Firmandha Ibrahim menyerahkan bantuan bibit pohon dan ikan kepada Kepala Desa Dieng Wetan Wonosobo dan Dieng Kulon, Banjarnegara dalam Peringatan Hari Air Sedunia. (IST)

RADARSEMARANG.COM, WONOSOBO – Perusahaan pengolah energi panas bumi PT Geo Dipa Energi Dieng, berupaya meningkatkan hasil eksplorasi panas bumi menjadi energi listrik. Hingga saat ini, hasil eksplorasi masih jauh dari target. Karena rata-rata baru mencapai 40 megawatt dari target 400 megawatt. Sengketa hukum yang tak kunjung usai menjadi salah satu kendala.

“Kami saat ini sedangkan lakukan penelitian untuk Unit Candradimuka dan Unit Wanasaya, dari dua lokasi ini kita perkirakan bisa menghasilkan 30 – 55 megawatt,” ungkap Dirut PT Geo Dipa Energi (Persero) Riki Firmandha Ibrahim di sela Peringatan Hari Air Dunia dan peluncuran Program Kali Bersih (Pro Kasih), Kamis (22/3).

Riki menyebutkan, hasil eksplorasi energi listrik bersumber dari panas bumi Dieng hingga saat ini belum memenuhi target. Untuk itu, sembari menunggu kasus sengketa hukum, pihaknya melakukan penelitian untuk mengembangkan dua unit ekplorasi yang keduanya masih di wilayah Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara.

“Kami masih lakukan penelitian, kami berharap tahun depan sudah bisa beroperasi dan menghasilkan energi, sehingga menambah hasil energi terbarukan,” ujarnya.

Dikatakan dia, untuk mampu menembus angka 400 megawatt, pihaknya tetap mengandalkan unit Dieng 1, 2 dan Dieng 3 serta tiga unit lainnya. Namun hingga saat ini keempat unit tersebut belum beroperasi karena terkendala kasus sengketa hukum.

Riki berharap, proses sengketa hukum dengan PT Bumigas segera kelar. Karena dalam kasus ini sebenarnya sangat terang. Sesuai kontrak, kewajiban Bumigas adalah membangun lima unit pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) yaitu Dieng 2 dan Dieng 3 serta Patuha 1, 2, dan Patuha 3. Tak terpenuhinya kewajiban kontrak Bumigas itu juga telah diputuskan oleh Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) melalui putusan No 27/XI/ARB-BANI/2007 pada 17 Juli 2008.

Keputusan BANI tersebut bersifat final dan mengikat. Bumigas kemudian mempersoalkan keputusan BANI tersebut. Hingga saat ini proses hukum terus berlanjut. “Saat ini kasus sudah di BANI, kami menunggu proses hukumnya,” katanya.

Riki menyebutkan, keberadaan PT Geo Dipa Energi Dieng saat ini bagian dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Tujuan pokoknya ikut terlibat dalam pelayanan energi listrik nasional. Selain itu keberadaan perusahaan akan berdampak terhadap masyarakat di seputar Dieng. Selain memberikan lowongan kerja, juga berdampak kepada sektor lain. “Kami berharap kasus ini tahun ini tuntas, sehingga tahun depan, hasil eksplorasi kita bisa memenuhi target dan menyumbang pemenuhan energi nasional,” jelasnya. (ali/ton)