Dua Desa Terendam Banjir

301
BANJIR BANDANG:  Sejumlah anak-anak di Desa Manggungsari bermain ditengah banjir desa setempat, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BANJIR BANDANG:  Sejumlah anak-anak di Desa Manggungsari bermain ditengah banjir desa setempat, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, KENDAL – Dua desa di Kecamatan Weleri yakni Desa Manggungsari dan Sumberagung terendam banjir setinggi satu meter yang mengakibatkan sekitar 500 rumah terendam banjir.

Banjir disebabkan karena meluapnya Kali Kalut di Desa setempat. Meluapnya sungai diduka lantaran hujan lebat dari wilayah Kendal bagian atas seperti Pageruyung hingga Sukorejo. Pasalnya sungai merupakan aliran dari wilayah atas.

Selain itu meluapnya sungai juga diduga karena sungai dibangun jembatan beton dengan  dua gorong-gorong. Pembangunan jembatan dilakukan PT Waskita sebagai jalan produksi untuk menangkut material bangunan dan pengurukan jalan.

Namun akibat dibangun jembatan tersebut, justru aliran air menjadi tersendat karena jembatan yang dibangun dengan gorong-gorong sempit selebar 3 meter itu justru menghambat aliran air. Sehingga sungai meluap dan membanjiri rumah-rumah warga.

“Kebetulan sungai ini berbatasan langsung dengan dua desa. Yakni  Desa Manggungsari dan Sumberagung. Akibat perkampungan warga terendam banjir dari luapan sungai,” kata Sukarnain salah satu pekerja tol.

Sukarnain mengatakan jika jembatan benton baru selesai dibangun sebulan terakhir.  Sebelumnya jembatan penghubung desa adalah jembatan besi dengan rangka yang hanya bisa dilewati mobil dan motor saja. “Akhirnya untuk mempermudah pembangunan tol, dibangunlah jembatan ini,” katanya.

Warga dua desa yang kesal akhirnya melakukan unjuk rasa ke pengelola proyek. Warga menuntut agar jembatan dibongkar karena telah mengakibatkan banjir. “Warga demo, akhirnya PT Waskita membongkar dan merobohkan jembatan beton ini,” kata Kepala Desa Manggungsari, Marijan.

Ia berharap agar Wakista bisa membangun kembali jembatan dengan tinggi dan lebar yang lebih. Sehingga tidak ada aliran sungai yang terhambat. Akibat banjir yang tinggi sekolah-sekolah SD terpaksa diliburkan karena  ruang kelas yang kebanjiran.

Dewi Tri Damayanti, warga setempat yang juga perangkat desa Manggungsari mengaku tidak bisa masuk kerja lantaran banjir tinggi. “Banjir masuk rumah itu pukul 05.00 pagi.  Sampai pukul 09.00 banjir juga belum surut. Sehingga tidak bisa kerja, anak-anak juga tidak bisa sekolah,” katanya. (bud/bas)