KREATIF: Ershad menunjukkan kerajinan perhiasan dari logam. (NURUL PRATIDINA / JAWAPOS RADAR SEMARANG)
KREATIF: Ershad menunjukkan kerajinan perhiasan dari logam. (NURUL PRATIDINA / JAWAPOS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Tujuh tahun berada di zona nyaman sebagai pilot penerbangan swasta, Ershad justru banting setir menjadi pengusaha logam. Ia pun memberdayakan warga sekitar untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Seperti apa?

NURUL PRATIDINA

SIANG itu, matahari bersinar terik di sentra kerajinan logam Desa Mijen, Kecamatan Kobonagung, Kabupaten Demak. Di desa ini, sejak beberapa tahun terakhir, sebagian warga mulai menekuni profesi sebagai perajin logam. Seperti yang terlihat di worshop milik Ershad. Dalam ruangan yang tidak terlalu besar, setidaknya sepuluh perajian tampak sibuk mengutak-atik lempengan-lempengan logam.

Seorang perajin pria khusus membuat rangka dasar dan mematri berdasarkan pola yang ditentukan, kemudian beberapa perajian wanita mengisi rangka-rangka tersebut.  Sisanya merangkai dan memadukan logam-logam tersebut menjadi perhiasan maupun pajangan. Di ruangan lain, masih terdapat lagi beberapa perajian yang mencetak lempengan-lempengan logam menggunakan electroplating.

“Perajin yang bekerja di workshop ada 23, mulai remaja, ibu-ibu, dan ada juga penyandang disabilitas. Kalau ditambah dengan yang dikerjakan di rumah masing-masing, total ada 50 karyawan,”ujar Ershad saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang.

Ershad bersama istri memulai usaha kerajinan logam ini sejak 2012 lalu. Awalnya, saat kali pertama datang ke desa ini, ia melihat pemasukan masyarakat yang dinilainya cukup minim. Di benaknya pun terbersit harapan untuk dapat membina dan meningkatkan pemasukan warga setempat. Ia yang juga kolektor perhiasan dan souvenir dari logam lantas terpikir untuk terjun ke industri tersebut.

“Saya sempat survei, di Indonesia sentra kerajinan logam tidak terlalu banyak. Padahal industri ini cukup potensial untuk dikembangkan. Karena itu, saya terpikir kenapa tidak kembangkan industri tersebut di desa ini,”katanya.

Profesinya di dunia kedirgantaraan pun dilepas. Ershad memutuskan keluar dari zona nyaman dan membangun Desa Mijen. Tabungan yang dikumpulkan selama tujuh tahun menjadi pilot maskapai penerbangan swasta, ia investasikan di industri ini.

Berhubung perajin bukanlah mata pencaharian utama di desa ini, maka tantangan pertama adalah melatih warga. Untuk itu, Ershad mendatangkan khusus perajin logam dari Kotagede Jogja untuk melatih warga.

“Saya ajak pemuda-pemuda dari Karang Taruna, siapa saja yang mau belajar silakan. Selama belajar, dalam sebulan per orang saya bayar Rp 1 juta. Bagi yang sudah ahli, saya bayar Rp 3 juta. Setelah bisa, saya belikan peralatan dan bahan baku. Silakan produksi sendiri di rumah, saya bantu sampai mandiri. Kalau belum bisa memasarkan pun, produk saya beli, saya yang pasarkan,”ujar pemilik Zem Silver ini.

Hasilnya, kini sudah cukup banyak warga yang mumpuni sebagai perajin logam. Per bulan, setidaknya bisa dihasilkan sebanyak 10 ribu pieces perhiasan logam. Dengan pemasaran baik dalam negeri maupun ke luar.“Untuk pasar domestik, saya rajin ikut pameran, kemudian untuk pemasaran melalui sosial media banyak dilakukan anak-anak muda yang tergabung dalam karang taruna, sedangkan pasar luar negeri masih melalui sejumlah buyer,” kata pria kelahiran Semarang pada 1985 ini.

Namun, lanjutnya, masih ada beberapa tantangan lain. Di antaranya kebutuhan peralatan modern serta infrastruktur pendukung. “Sumber daya manusia sudah cukup siap. Hanya saja memang perlu ada tambahan peralatan,”ujarnya.

Ke depan, ia berharap dapat terus mengembangkan desa ini menjadi sentra kerajinan logam. Tak hanya di Jateng, tapi juga terbesar di seluruh Indonesia. Selain itu, sentra ini juga diharapkan dapat menjadi destinasi wisata kerajinan.

“Saya sedang upayakan kerja sama dengan para pengusaha tour wisata agar ada paket wisata ke desa ini. Sehingga meskipun pengunjung tidak membeli, tapi bila jadi destinasi wisata paling tidak pengunjung ada yang beli makan minum yang dijajakan warga. Sehingga bisa jadi sumber pemasukan lain bagi warga,”harapnya. (*/aro)