Siswa yang Berkuasa

231
Oleh: Nurcholis, ST
Oleh: Nurcholis, ST

RADARSEMARANG.COMFENOMENA pendidikan saat ini membuat  kita miris. Kita mungkin belum lupa, kejadian di Sampang, Madura, beberapa waktu lalu. Di sana, ada seorang guru telah dianiaya muridnya sendiri. Padahal, dilihat dari akar masalahnya, cukup sederhana. Yakni, guru menegur siswa dengan cara lain. Karena teguran lisan yang sudah diberikan tidak membuat anak didiknya sadar, maka guru tersebut mencoba berimprovisasi dengan cara lain. Tidak lagi dengan kata-kata. Tapi dengan tindakan, mencoret wajah siswa, dengan cat air.

Jelas, tindakan si guru tidak menyebabkan siswa sakit. Sehingga tidak termasuk penganiayaan. Cat air juga mudah dibersihkan. Artinya, tidak merusak kulit. Mungkin dalam pemikiran guru tersebut, ingin memerintahkan siswa untuk cuci muka, dengan cara mencoret wajahnya. Karena secara nurani, orang yang wajahnya kotor, maka  segera mencuci muka, apalagi siswa tersebut sedang tidur.

Padahal, dalam konteks tertentu,  guru dituntut untuk berani berimprovisasi dalam koridor yang berbatas. Hanya saja, pada kasus di atas,  improvisasi atau mungkin penelitian tindakan kelas yang dilakukan guru di Sampang, Madura, justru  membawa maut. Tentu saja ini sebuah ironi. Semangat berimprovisasi dari seorang guru karena begitu peduli pada masa depan anak didiknya, justru maut yang merenggutnya. Betapa sangat berkuasanya siswa, sampai menganiaya guru. Sekolah sebagai lembaga pun, sepertinya tak dapat berbuat bayak.

Sepertinya, ruang gerak guru untuk berimprovisasi,  terbatasi oleh watak dan perilaku siswa. Kebebasan guru dalam memberikan sanksi dan teguran, terkungkung oleh UU Perlindungan Anak. Kebebasan guru dalam memberi penilaian, juga terbelenggu oleh pimpinan sekolah.

Dalam konteks yang lain, sistem belajar tuntas yang memberikan peluang pada anak untuk remidiasi, sesungguhnya membuka peluang bagi penguasaan anak terhadap guru. Bagaimana tidak, dengan diberikannya kesempatan pada anak untuk remidiasi, membuat anak berkuasa atas guru; tentang kapan anak tersebut harus remidiasi. Seolah, anak melalui remidiasi, sebagai sarana untuk memaksa guru memberikan nilai sampai batas ketuntasan belajar. Padahal, kalau mau jujur, ada beberapa siswa yang sudah melampaui beberapa kali remidiasi, tetap saja belum mencapai ketuntasan belajar. Tetapi karena sudah remidiasi, anak menuntut guru untuk mendapat nilai baik.

Maka, diperlukan sikap-sikap ksatria dari siswa dan orang tua wali.  Siswa dan orang tua wali harus menyadari bahwa tidak setiap siswa mampu mencapai nilai ketuntasan belajar. Para guru harus punya idealisme dalam memberikan penilaian kepada siswa. Evaluasi maupun tugas membelajarkan terhadap siswa, harus dilaksanakan dengan benar sesuai prinsip penilaian. Pembelajaran yang dilakukan dengan lebih menekankan pembelajaran partisipatif. (*/isk)

Guru SMK  Negeri 1 Windusari, Kab. Magelang