SANDAR 10 JAM: Wisatawan asing yang menumpang kapal pesiar berbendera Bahamas MS Seabourn Encore dihibur Tari Prau Layar saat tiba di Dermaga Samudera Pelabuhan Tanjung Emas sekitar pukul 09.00, kemarin. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SANDAR 10 JAM: Wisatawan asing yang menumpang kapal pesiar berbendera Bahamas MS Seabourn Encore dihibur Tari Prau Layar saat tiba di Dermaga Samudera Pelabuhan Tanjung Emas sekitar pukul 09.00, kemarin. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Selama Maret ini, sudah 6 kapal pesiar  sandar di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Sayang, kapal yang membawa ribuan wisatawan asing itu hanya singgah saja, dan tidak sampai bermalam di Kota Semarang. Praktis, kalangan perhotelan Kota Atlas tak bisa menikmati pundi-pundi dolar dari para wisatawan tersebut.

Seperti Senin (19/3) kemarin,  kapal pesiar berbendera Bahamas MS Seabourn Encore yang bertolak dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, bersandar di Dermaga Samudera Pelabuhan Tanjung Emas sekitar pukul 09.00. Kapal berbobot 41.865 GT (Gross Tonnage) dengan LOA (Length Over All) 210,5 meter itu sandar dengan dibantu kapal tunda milik PT Pelabuhan Indonesia III.

Setelah sandar, ratusan turis penumpang kapal tersebut melanjutkan perjalanan wisata dengan menggunakan bus yang telah disediakan oleh jasa tour and travel Destination Asia.

“Sebagian turis mengunjungi beberapa objek wisata di Jawa Tengah, seperti Candi Borobudur, Ambarawa, dan Candi Gedongsongo. Sisanya, ada yang memilih tetap tinggal di kapal, dan ada yang berwisata sendiri menggunakan taksi atau kendaraan pribadi,” kata General Manager PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) Cabang Tanjung Emas, Ardhi Wahyu Basuki kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Setibanya di dermaga, wisatawan disambut dengan beberapa pertunjukan tari.  Di antaranya, Tari Prau Layar dan live acoustic performance. Para wisatawan terlihat begitu menikmati pertunjukkan tari daerah. Tak sedikit dari mereka mengabadikannya dengan kamera ponsel dan kamera DLSR. Setelah bersandar 10 jam, sekitar pukul 19.00 tadi malam, kapal pesiar tersebut melanjutkan perjalanan ke Subang.

Ardhi menambahkan, sebelumnya, di Dermaga Samudera Pelabuhan Tanjung Emas juga bersandar kapal pesiar MS Costa Luminosa. Penumpang kapal yang memiliki panjang 294 meter ini juga singgah untuk mengunjungi tempat wisata di Jateng.

Dikatakan, selama Maret ini, sudah ada 6 kapal pesiar yang sandar di Pelabuhan Tanjung Emas. Dijadwalkan, akan ada lagi kapal pesiar pada  24 dan 26 Maret mendatang. “Bulan ini memang banyak kunjungan kapal dari luar negeri yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Emas. Tapi, rata-rata hanya singgah 10-12 jam, sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Jadi, tidak ada yang menginap di Semarang,” katanya.

Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (Asita) Jateng, Joko Suratno, mengakui saat ini pihaknya masih tergolong susah menjual paket longstay di Semarang. Selama ini, yang paling banyak mengambil porsi bermalam di Semarang karena adanya even. Mulai dari even pemerintahan seperti Pekan Olahraga Daerah (Popda), atau perusahaan yang mengadakan acara panjang di Semarang.

Sejauh ini, pihaknya selalu menggembar-gemborkan bahwa Semarang menjadi pintu utama wisata Jateng. Meski sebagai pintu utama, bukan berarti wisatawan hanya turun dan lewat saja. Tapi juga harus bermalam. “Semarang masih kalah dengan brand wisata Jogja. Terutama untuk wisman (wisatawan mancanegara). Kemarin, ada kapal pesiar yang membawa 2 ribu wisman. Tapi tidak ada yang bermalam di Semarang,” tuturnya.

Dilematis memang. Karena itu, Joko coba melobi operator kapal pesiar agar diarahkan untuk menginap di Ibukota Jateng ini. Tapi tetap saja tidak bisa karena lama tinggal kapal yang bersandar di Tanjung Emas Semarang relatif sebentar.

“Saya sudah komunikasi dengan operator cruise, ternyata brand wisatanya memang Candi Borobudur. Selain itu, lama tinggalnya hanya sebentar dan wisman itu sudah bayar mahal kamar di kapal. Jadi, tidak mungkin menginap di hotel Semarang,” terangnya.

Tak kalah akal, Joko memberikan fasilitas city tour dan memberikan suguhan seni budaya Semarang secara gratis kepada penumpang kapal pesiar. Dengan begitu, wisman akan kepincut dan ke depan punya rencana kembali melancong ke Semarang.”Ini kan kesempatan baik untuk menarik wisman. Siapa tahu ke depan ingin ke sini lagi tanpa kapal pesiar agar bisa menginap. Entah dengan keluarga atau komunitas mereka. Daripada kami yang melakukan promosi di Eropa, mahal dan belum tentu direspons,” tandasnya. (hid/aro)