Hanny Indri Hapsari (DOKUMENTASI PRIBADI)
Hanny Indri Hapsari (DOKUMENTASI PRIBADI)

RADARSEMARANG.COM – PENGALAMAN adalah guru terbaik. Seperti yang dialami Hanny Indri Hapsari. Wanita yang berkarir di Dinas Komunikasi dan Informatima (Diskominfo) Jateng ini menjadi mahir berenang setelah punya pengalaman buruk, terseret ombak Pantai Pangandaran.

Dia menceritakan, ketika duduk di bangku kelas 2 SD, dia diajak piknik keluarganya ke Pantai Pangandaran. Waktu itu, sedang asyik-asyiknya main ombak di pantai, dia terseret arus. “Lagi enak-enakan renang, ada ombak gede banget datang. Kan suka gitu Pantai Selatan. Dulu itu aku sempat keseret jauh banget ke tengah laut,” kenangnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.,

Saat itu, dara kelahiran Denpasar, 19 Mei 1991 ini hanya bisa ‘bergerak’ semampunya untuk menyelamatkan diti. “Udah kondisi minum air laut banyak banget. Mau melek, mata pedes kena air garam. Jadi merem terus. Pas bisa melek dikit, aku lihat udah banyak orang yang kumpul di pinggir dan teriak-teriak. Kebetulan nggak ada penjaga pantainya waktu itu. Terus ada mas-mas renang nerjang ombak untuk menyelamatkanku,” ceritanya.

Setelah tragedi yang hampir merenggut nyawanya itu, Hanny jadi punya tekad untuk belajar berenang. Setidaknya untuk jaga diri ketika melancong ke pantai. Selain itu, jika suatu saat ada yang butuh bantuan karena tenggelam, dia bisa menolongnya. “Sekarang jadi doyan renang. Tapi nggak pernah ikut lomba, jadi gak punya prestasi di renang,” bebernya.

Sayang, hobi berenangnya itu mengendur ketika mulai meniti karir. Sebab, jam kerjanya kerap terbentur dengan jadwal renang. Maklum, di tempat dia bekerja, ada kalanya harus pulang lebih dari jam kerja.

Untuk menyiasati agar hobi olahraganya tetap bisa jalan, Hanny mulai terjun ke senam zumba dan gym. “Kebetulan saya ada keturunan riwayat sakit jantung. Jadi, tetap harus olahraga untuk menjaga kesehatan jantung. Sering latihan kardio juga di rumah,” tuturnya.

Dari hobi nge-gym dan senam itu, wanita berhijab ini  jadi punya  obsesi membangun sanggar senam khusus cewek. Apalagi dia melihat, saat ini tidak ada sanggar khusus cewek yang bisa dijangkau kalangan mahasiswi.

“Di Semarang memang sudah banyak sanggar khusus cewek. Tapi mahal-mahal. Nah, suatu saat saya pengin punya sanggar senam yang harganya terjangkau. Jadi, mahasiswi bisa ikutan tanpa menguras dompet,” harapnya. (amh/aro)