MEMBANGGAKAN : Sekda Provinsi Jawa Tengah, Sri Puryono memberangkatkan satu kontainer kayu Merbau yang akan diekspor ke Amerika. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MEMBANGGAKAN : Sekda Provinsi Jawa Tengah, Sri Puryono memberangkatkan satu kontainer kayu Merbau yang akan diekspor ke Amerika. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pasar ekspor Amerika yang sebelumnya belum bisa ditembus oleh ekspor kayu di Indonesia, kini mulai berubah dan bisa ditembus Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI). Yaitu dengan melakukan inovasi perdagangan kayu olahan secara online (e-commerce) ‎melalui Indonesian Timber Exchange (ITE).

Ketua Umum APHI, Indroyono Susilo‎ mengatakan sistem ITE saat ini bisa mendukung transaksi produk kayu olahan antara produsen dan konsumennya. Melalui sistem tersebut, 40 Hak Pengusaha Hutan (HPH) telah bergabung dan bisa melakukan ekspor. Sebelumnya di tahun 2017, transaksi produk kayu ‎dan kayu olahan mencapai US$ 11 miliar setiap tahunnya.

“Jumlah tersebut diperkirakan meningkat, karena ada kemudahan transaksi yang ditawarkan APHI melalui sistem ITE. Jadi konsumen tidak perlu datang ke Indonesia, transaksi bisa dilakukan melalui online,” katanya saat Ekspor Perdana Produk Kayu Olahan dengan Sistem ITE E-Commerce Berbasis V-Legal di CV Indo Jati Utama, Senin (19/3).

Ia menjelaskan, untuk mensinergikan Sistem Informasi Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (SI-PHPL) yang dikembangkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan pemasaran hasil hutan oleh pelaku usaha sektor kehutanan. APHI bekerjasama dengan PNORS Technology Group saat ini mengembangkan pilot ITE E-Commerce. “Tujuan adalah untuk memfasilitasi perdagangan produk hasil hutan Indonesia secara online sehingga diperoleh margin yang lebih baik,” jelasnya.

Sekda Provinsi Jateng, Sri Puryono mengatakan jika saat ini Jateng punya potensi hutan yang cukup besar. Yaitu mencapai 1.387 ribu hektare hutan negara negara dan rakyat atau sekitar 34 persen dari total wilayah yang ada. Wilayah Perhutani Divisi Regional I Jateng merupakan produsen hasil hutan terbesar dibandingkan daerah lainnya. “Total komoditas yang diproduksi setiap tahunnya yang terbesar kayu jati 175.000 m3, kemudian mahoni, sonokeling dan sonokembang sebesar 80 m3, serta getah pinus sebesar 40.000 ton,” ucapnya.

Dengan besarnya potensi yang ada, lanjut Sri Puryono, bisa dimanfaatkan industri pengolahan kayu untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Mayoritas komoditas yang menjadi andalan adalah produk dari kayu jati, mahoni, sonokeling dan sonokembang, yang tersebar di hutan negara dengan luas 647 ribu hektare. “Angka tersebut belum termasuk hutan rakyat yang memiliki luas sekitar 740 ribu hektare, sehingga totalnya mencapai 1.387 ribu hektare hutan rakyat dan negara.” bebernya.

Direktur CV Indo Jati Utama, Gunawan Budikentjana‎ menjelaskan, pada ekspor perdana kali ini, dikirim sebesar 40 m3 kayu olahan merbau untuk pasar Amerika, yang dijadikan lantai di dalam ruangan dan juga luar ruangan. Nilai ekspor olahan kayu tersebut menyentuh angka Rp 1 miliar “Pasar mereka memang susah ditembus, dan akan terus kami genjot untuk menggarap potensi yang ada,” ujarnya.

Dalam satu bulan, kira-kira 30 kontainer, dalam satu kontainer berisi sekitar 20 meter kubik. Pihaknya memasarkan paling banyak ke luar negeri, yaitu 60 persen ke Australia, New Zealand, 30 persen ke Tiongkok,  dan 10 persen ke India,  Korea dan Eropa. (den/ric)