Bahasa Jawa sebagai Sarana Pendidikan Karakter Anak

667
Oleh : Ngamini
Oleh : Ngamini

RADARSEMARANG.COM – Sebagaimana telah kita ketahui, bahasa Jawa merupakan bagian dari kebudayaan. Bahasa Jawa adalah kekayaan daerah yang juga merupakan dari kebudayaan nasional yang perlu kita lestarikan agar tidak punah dari peradaban.

Namun melihat kenyataan saat ini, di masyarakat banyak orang tua yang tidak menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi dengan anaknya. Akibatnya, banyak yang kurang memahami ketika berkomunikasi dalam bahasa Jawa. Hal ini mungkin dikarenakan orang tua sendiri yang tidak memahami bahasa Jawa atau merasa gengsi sehingga merasa lebih bangga dengan bahasa Indonesia. Apabila hal ini tidak dikendalikan, dimungkinkan pada masa yang akan datang semakin sedikit orang yang berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Sehingga bahasa Jawa akan tersisih sebagai alat komunikasi bagi orang Jawa (Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur).

Jika kita telaah lebih dalam, Bahasa Jawa memberi pelajaran tentang pendidikan karakter, terutama tata krama atau sopan santun. Kenyataan bahwa bahasa Jawa sebagai alat komunikasi mengenal tingkatan dalam penuturannya. Tingkat tutur bahasa Jawa dibagi menjadi dua, yaitu ngoko dan krama.

Ngoko dibagi menjadi dua, yaitu ngoko lugu dan ngoko alus. Ngoko lugu adalah ragam pemakaian bahasa Jawa yang seluruh kalimatnya dibentuk dari kosakata ngoko (tidak formal). Ragam ini digunakan oleh peserta tutur yang mempunyai hubungan akrab dan tidak ada usaha saling menghormati. Contoh kalimat yang menggunakan ngoko lugu adalah “Andi lagi mangan”.

Ngoko alus adalah ragam pemakaian bahasa Jawa yang dasarnya adalah leksikon ngoko tetapi juga menggunakan leksikon krama. Ragam ini digunakan oleh peserta tutur yang mempunyai hubungan akrab tetapi di antara mereka ada usaha saling menghormati. Contoh kalimat yang menggunakan ngoko alus adalah “Bapak maos koran.”

Krama lugu adalah ragam pemakaian bahasa Jawa yang seluruh kalimatnya berupa leksikon krama (formal). Tingkat tutur ini digunakan oleh peserta tutur yang belum akrab, misalnya baru kenal. Contoh kalimat yang menggunakan krama lugu adalah ”Sampean sampun kesah”.

Krama alus adalah unggah-ungguh (tata krama) bahasa Jawa yang semua kata-katanya terdiri dari leksikon krama. Tingkat tutur ini digunakan oleh penutur yang lebih muda kepada orang yang lebih tua.Contoh kalimat yang menggunakan krama alus “Bapak sampun dahar”.

Penerapan kata-kata dalam bahasa Jawa ini apabila tidak dipahami melalui belajar dan latihan, peserta didik dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari mata pelajaran yang diperoleh di sekolah. Adapun masyarakat umum yang berkeinginan turut melestarikan bahasa Jawa sebagai bagian dari kebudayaan yang kita miliki, dapat berpartisipasi melalui kegiatan kursus bahasa Jawa yang ada di masyarakat.

Dengan memotivasi generasi muda supaya suka belajar berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Jawa sehari- hari, maka akan semakin memasyarakat terutama di daerah Jawa (Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur).

Demikian beberapa permasalahan yang kita hadapi di tengah – tengah masyarakat, khususnya di Jawa (Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur). Upaya pelestarian budaya dirasa memprihatinkan, sehingga penulis memandang perlu adanya upaya nyata untuk melestarikan budaya yang ada.

Guru SMK N 1 Salam Magelang