AJAK LUPAKAN GADGET : Tiga pemuda asal Kota Semarang, Pambuko Septiardi, Teguh Arif Romadhoni, Surya Cahyono dengan sukarela mendongeng dari kampung ke kampung bercerita kisah yang sarat pesan moral kepada anak-anak. (ISTIMEWA)
AJAK LUPAKAN GADGET : Tiga pemuda asal Kota Semarang, Pambuko Septiardi, Teguh Arif Romadhoni, Surya Cahyono dengan sukarela mendongeng dari kampung ke kampung bercerita kisah yang sarat pesan moral kepada anak-anak. (ISTIMEWA)

Pendongeng kreatif adalah pendongeng yang mampu menyajikan dongeng layaknya sarana hiburan, namun mendidik bagi anak. Seperti apa?

RADARSEMARANG.COM – SEPERTINYA, dongeng sudah menjadi sesuatu yang langka bagi anak modern. Padahal, dongeng yang sarat pesan moral bisa merangsang imajinasi anak yang diharapkan terpatri di alam bawah sadar. Tentu, pesan moral tersebut digadang-gadang ikut membentuk karakter anak menjadi lebih baik.

Sayang, terbatasnya pendongeng membuat anak nyaris tidak pernah mencicipi kenikmatan didongengi. Orang tua yang mau mendongeng pun tinggal hitungan jari. Tidak heran, jika anak sekarang lebih memilih berkutat dengan gadget untuk mereguk rasa haus akan keingintahuannya.

Tiga pemuda asal Kota Semarang, Pambuko Septiardi, Teguh Arif Romadhoni, Surya Cahyono hadir seolah sebagai penyelamat tradisi dongeng. Mereka dengan sukarela mendongeng dari kampung ke kampung untuk bercerita kisah yang sarat pesan moral kepada anak-anak.

Agar anak-anak tertarik mendengarkan dongengnya, tiga sekawan ini sadar butuh media. Sejumlah konsep telah dicoba. Akhirnya ketemu formula yang dirasa tepat, yakni dengan wayang suket atau yang lebih dikenal dengan wayang gaga. Pertunjukkannya pun tidak perlu panggung khusus, tapi asal digelar di pinggir jalan, sudah bisa main.

“Awalnya kami memang mencari bentuk pertunjukan yang paling familiar dengan anak-anak. Beberapa bentuk kami pelajari dan kami merasa masih belum menemukan model yang cocok untuk diadopsi. Kemudian kami coba menggunakan wayang alang-alang (suket),” terang Pambuko.

Diakuinya, wayang suket bukan hal baru yang mereka lahirkan. Seni pertunjukan itu sudah ada sejak dulu. Hanya saja, mereka menilai, wayang gaga bisa memancing interkasi antara dalang atau pendongeng, dengan anak-anak. “Tidak hanya mendongeng atau pertunjukan saja, kami juga menggelar workshop dalam setiap tampil. Jadi anak-anak dapat langsung belajar cara membuat wayang dari suket. Ada beberapa metode pemetaan kami terkait sikap anak terhadap hal baru (wayang suket). Mulai cara mereka menyelesaikan masalah dan cara mereka menunjukkan hasil karyanya melalui dongeng/bercerita,” paparnya.

Metode itu sepertinya cukup efektif. Sebab, setelah beberapa kali dilakukan, ternyata ada hal-hal yang membuat anak-anak jadi tertarik dan bersemangat mendengarkan dongeng. Jangan heran jika roadshow tim wayang gaga yang blusukan dari kampung-ke kampung di Kota Semarang selalu ditunggu anak-anak.

Pambuko mengaku nyaris tidak pernah kehabisan gagasan atau materi yang didongengkan. Meski secara prinsip, wayang gaga lebih banyak mengangkat cerita-cerita yang berkaitan dengan kesadaran ekologis atau lingkungan, pihaknya juga kerap merambah hal-hal lain.

Dia mengaku, materi dongeng muncul dari banyak cara. Ada yang secara sadar memunculkan tokoh dongeng sebagai branding figure. Tentunya memang dikemas sesuai dengan kebutuhan anak-anak saat ini. Untuk memancing interaksi dengan anak, tidak jarang Pambuko cs melemparkan cerita, mulai dari alur, plot, setting latar, dan tokoh, kepada anak-anak. Anak-anak dilibatkan memilih cerita untuk memancing imajinasi anak. Tentu dongeng yang diceritakan pun bisa lebih mengena karena didasari penasaran si anak.

“Kami ingin mengajak mereka (anak-anak) dengan mainan barunya (wayang suket). Membuka imajinasi yang luas, tapi tetap dilandasi dengan kesadaran lingkungan. Tak hanya itu, kadang kami juga menceritakan persoalan-persoalan yang umum terjadi di masyarakat,” tuturnya.

Meski berasal dari ide-ide liar, mereka berusaha meringkasnya sesederhana mungkin tanpa menurunkan kualitas penyampaian pesan moral. Yang jelas, ketiga pendongeng ala wayang gaga ini, punya sejumlah jurus.

“Kadang ada pola-pola yang sangat baik dari teknik bercerita yang mengusung cerita-cerita lawas. Tapi kami selalu mencoba memodifikasi cerita-cerita sesuai dengan persepsi anak-anak masa kini. Tujuannya, supaya tidak ada kesenjangan yang terlalu jauh antara dongeng dengan imajinasi anak-anak,” tuturnya.

Kadang, ketika ide-ide tidak bisa dimunculkan di tempat pertunjukan, mereka memilih dongeng yang diadopsi dari beberapa karya orang lain. “Atau tangkapan kami terkait kejadian yang benar-benar terjadi di lingkungan masyarakat. Seperti ‘Wagimin Tikus’ cerpen karya Gunawan Budi Susanto, dan ‘Gandos Precil Ngelu’,” imbuhnya.

Pemilihan tokoh wayang pun sangat beragam. Meski sudah punya karakter baku, tapi tidak melulu dipakai, tergantung dari cerita yang diinginkan anak. Karena itu, sering muncul tokoh-tokoh dadakan yang disepakati bareng anak-anak. “Jadinya macam-macam. Superhero masuk, tapi tokoh pewayangan sangat jarang. Kebanyakan menciptakan tokoh sendiri, sih. Misal Min Kebal Stroom, Mul Kepis, Dhe Lastri, Dani Dino,” jelasnya.

Tidak hanya mengejar misi membudayakan dongeng. Karena konsep pertunjukan wayang gaga bisa dikategorikan sebagai dolanan bocah. Jadi, sebetulnya siapapun bisa mengikuti permainan ini dan bisa mengikuti ceritanya.

Mereka ingin, setidaknya ada waktu minimal dua jam bersama wayang gaga. Anak-anak bisa sejenak melupakan smartphone. “Maksudnya, persoalan yang dihadapi banyak anak kan orang tua yang sibuk bekerja. Seharusnya, anak-anak mendapat perhatian dari minimal salah satu, ayah atau ibu. Jika ayahnya bekerja terus, ibu yang perlu memberi perhatian dan pengertian bahwa ayah sedang bekerja. Jadi, meskipun nalarnya belum terbentuk optimal, anak dapat memahami bahwa ayahnya bekerja. Jadi, semisal ada waktu bersama dengan sang ayah, bisa menjadi waktu yang demikian menyenangkan bagi si anak, atau sebaliknya,” bebernya.

Dia melihat, kondisi saat ini justru memaksa para orang tua bekerja keras demi rumah tangga. Sangat ironis ketika anak mengetahui orang tuanya bekerja, namun dia bingung mencari figur di dalam rumah. “Pergilah dia keluar rumah, bersama teman. Kalau mereka masih bisa diawasi, cukup baik. Kalau tidak, banyak hal bisa terjadi dengan kemajuan zaman saat ini. Apalagi, saat pulang, di rumah orang tua hanya ingin melepas lelah tanpa gangguan bentuk apapun karena tekanan pekerjaan. Bagaimana kondisi anak? Sudah banyak kajian akan hal itu,” tegasnya.

Masyarakat pun sepertinya bisa menangkap maksud tersebut. Setidaknya di tempat-tempat yang kerap disambangi tim wayang gaga. Seperti areal Mijen dan Bumi Palir Sejahtera. “Salah satu tolok ukur yang cukup relevan ialah, orang tua mau mempercayakan anak mereka kepada kami. Orang tua, meski tidak tahu apa yang kami ajarkan kepada anaknya, tetap saja tidak berprasangka buruk,” jelasnya.

Meski diapresiasi masyarakat, mereka tidak pernah meminta imbalan. Karena itu, waktu menjadi kendala performa mereka. Dari semua pelaku di Wayang Gaga, memiliki kesibukan masing-masing. “Bagi kami itu berat, karena kami harus menyesuaikan jadwal supaya bisa berkumpul. Tak jarang, saat diminta memberikan materi workshop wayang suket, hanya dikerjakan oleh dua orang. Seorang saja juga pernah. Tapi, bagaimana pun kegiatan dan niat kami harus terus berjalan,” tandasnya. (amh/ida)