Punya Style Klasik dan Tenaga Besar

Harley Davidson Roadster 1962

751
GARANG : Herman Ngadihartanto berfoto dengan motor Harley Davidson Roadster keluaran 1962 miliknya. Meski motor tua, tunggangannya mampu diajak touring hingga Bali. (Nurchamim/jawa pos radar semarang)
GARANG : Herman Ngadihartanto berfoto dengan motor Harley Davidson Roadster keluaran 1962 miliknya. Meski motor tua, tunggangannya mampu diajak touring hingga Bali. (Nurchamim/jawa pos radar semarang)

RADARSEMARANG.COM – Memiliki body yang bongsor ternyata tidak membuat motor kesayangan Herman Ngadihartanto tak bisa berlari kencang. Motor Harley Davidson Roadster keluaran tahun 1962 miliknya itu tetap bisa lincah dan garang melibas jalanan di Kota Semarang.

“Motor ini memang dikenal sebagai penakluk jalanan pada zamannya. Tenaganya besar dan enak untuk diajak touring perjalanan jauh,” kata Herman kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Motor klasik tersebut memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Walaupun termasuk motor jadul dan masih menggunakan sistem pengapian platina, kuda besi ini dibekali mesin dengan kapasitas 1.000 cc V twin 2 silinder. “Getarannya cukup smooth saat digeber, bahkan motor ini sanggup menaklukan jarak Semarang-Bali pulang pergi tanpa mogok,” jelasnya.

Soal kenyamanan saat dikendarai, moge ini patut diacungi jempol. Cocok jika dipakai penghobi touring yang rela menghabiskan berjam-jam di jalan. Jok ala sadel depan dilengkapi shock jok khas motor era tahun 30-an yang dibungkus kulit dan hanya untuk single rider. “Bentuknya lebar dan nyaman, posisi duduk juga sangat nyaman karena sudah disesuaikan dengan tinggi badan orang Indonesia,” ucap pemilik Gold Rush Garage ini.

Memiliki style yang klasik, ia merasa bangga motor kesayanganya itu masih sanggup membelah jalanan. Padahal motor lain keluaran tahun tersebut kadang sudah tidak bisa jalan atau hanya buat pajangan semata. “Perawatannya nggak begitu ribet, kayak motor biasa, namun setelan pengapiannya harus sabar karena pakai platina. Selain itu juga harus rajin lihat tangki sirkulasi oli, karena terpisah nggak kayak motor jaman now,” tandasnya.

Walaupun motor jadul, Herman mengaku motor tersebut 80 persen masih orisinal. Dari tangki, shock depan belakang, velg, tangki sirkulasi oli, hingga spatbor. Herman hanya mengubah atau melakukan modifikasi pada lampu depan, karburator dan knalpot. “Dengan mengganti knalpot ini, komprersinya semakin padat, suaranya juga renyah untuk mengimbangi tenaga mesin yang besar,” tuturnya. (den/ric)