Oleh: Supadmi SPd
Oleh: Supadmi SPd

RADARSEMARANG.COM – APEM atau dikenal juga dengan nama Appam di negeri asalanya India, adalah penganan tradisional yang dibuat dari tepung beras yang didiamkan semalam dengan mencampurkan telur, santan, gula dan tape, serta sedikit garam kemudian dibakar atau dikukus. Bentuknya mirip serabi, namun lebih tebal. Istilah apem sebenarnya berasal dari bahasa Arab, afuan/ afuwwun, yang berarti ampun. Orang Jawa menyederhanakan bahasa Arab tersebut menjadi apem. Kue berbahan dasar tepung beras ini sangat dikenal di kalangan masyarakat Jawa dan Madura. Bahan dasar, bentuk, dan tekstur kue apem ini  hampir mirip dengan serabi atau dorayaki. Asal-usul dan penggunaan kue apem di beberapa daerah di Indonesia sangat beragam, khususnya Jawa.

Dalam masyarakat Jawa, apem tidak lepas dengan adanya kegiatan selamatan atau kenduri. Dalam kenduri itu pasti disitu ada kue apem. Berkaitan dengan penggunaan makna tersebut, masyarakat Jawa biasanya membuat apem saat menjelang bulan puasa atau Ramadan. Tradisi ini disebut megengan. Megengan berasal dari bahasa Jawa “megeng” yang berarti menahan diri, bisa diartikan sebagai puasa itu sendiri. Bila ditarik mundur melihat sejarah, ada legenda yang menuturkan bahwa kue apem ini bermula pada zaman Sunan Kalijaga. Adalah Ki Ageng Gribik atau Sunan Geseng, murid Sunan Kalijaga, yang waktu itu baru pulang ibadah haji dan melihat penduduk Desa Jatinom, Klaten, kelaparan. Beliau membuat kue apem lalu dibagikan kepada penduduk yang kelaparan sambil mengajak mereka mengucapkan lafal dzikir Qowiyyu (Allah Maha Kuat). Para penduduk itu pun menjadi kenyang. Hal inilah yang mendorong penduduk setempat untuk terus menghidupkan tradisi upacara Ya Qowiyyu setiap bulan Safar.

Dalam filosofi Jawa, kue ini merupakan simbol permohonan ampun atas berbagai kesalahan, sesuai dari pengertian kata apem itu sendiri. Kue apem dibuat untuk dibawa ke surau, musala atau masjid. Setelah berdoa bersama, kue apem dibagi kepada para tetangga atau mereka yang kurang beruntung. Sehingga bisa dikatakan, kue ini juga sebagai sarana untuk mengungkapkan rasa syukur terhadap rezeki yang sudah kita dapatkan. Hal ini seperti yang dilakukan Ki Ageng Gribik kepada masyarakat di Jatinom, Klaten.Bahkan, apem sebagai simbol rasa bersyukur juga dibuat ketika prosesi Tingalan Dalem Jumenengan ke-24 Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam memimpin Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada 2012. Di Cirebon, kue apem dimaknai sebagai kue kebersamaan. Pasalnya, dalam masyarakat Cirebon, kue ini dibuat ketika bulan Safar (bulan ke-2 dalam kalender Hijriyah) untuk dibagikan kepada para tetangga secara gratis.

Kue apem bukan sekadar kue yang enak dimakan. Melainkan ada makna filosofisnya yang bisa menjadi materi pendidikan karakter bagi siswa di sekolah. Pertama, nilai religius. Dalam masyarakat Jawa terkenal sebagai masyarakat yang religius. Religius maksudnya berhubungan dengan praktik Ketuhanan. Kue apem ini merupakan simbol permohonan ampun atas berbagai kesalahan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dari pengertian kata apem itu sendiri .

Kedua, nilai syukur. Masyarakat Jawa merupakan masyarakat pemeluk agama dan kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Karena itu mempunyai kesadaran akan kewajibannya dalam melakukan pengabdian dan selalu bersyukur kepada-Nya. Syukur atas segala karunia yang diberikan Tuhan setiap waktu. Dengan kue apem ini dijadikan sebagai sarana untuk mengungkapkan rasa syukur terhadap rezeki yang sudah kita dapatkan. Karena itu, dalam setiap acara selamatan atau kenduri selalu disertakan apem di dalamnya.

Ketiga, nilai peduli sosial. Dalam masyarakat Jawa memiliki jiwa kepedulian sosial yang sangat tinggi. Sesuai dengan sila ke-2 dari Pancasila, yang berbunyi Kemanusiaan yang adil dan beradab. Hal ini seperti yang dilakukan Ki Ageng Gribik kepada masyarakat di Jatinom. Beliau membuat kue apem lalu dibagikan kepada penduduk yang kelaparan sambil mengajak mereka mengucapkan lafal dzikir Qowiyyu. Hal serupa juga dilakukukan di Cirebon, kue apem dimaknai sebagai kue kebersamaan. Sebab, dalam masyarakat Cirebon, kue ini dibuat ketika bulan Safar untuk dibagikan kepada para tetangga secara gratis. Menunjukkan bahwa masyarakat saling membantu dengan sarana kue apem tersebut. Lambat laun kebiasaan‘membagi-bagikan’ kue apem ini berlanjut pada acara-acara selamatan, terutama menjelang Ramadan. (tj3/aro)

Guru SMP Negeri 2 Warureja Kabupaten Tegal