AJAK BERWIRAUSAHA : Menurut Nanang, berwirausaha adalah satu-satunya peluang besar yang tersedia bagi anak muda untuk mencapai masa depan yang cerah. (Budi Setyawan/Jawa Pos Radar Semarang)
AJAK BERWIRAUSAHA : Menurut Nanang, berwirausaha adalah satu-satunya peluang besar yang tersedia bagi anak muda untuk mencapai masa depan yang cerah. (Budi Setyawan/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM – MENGHABISKAN waktu berorganisasi barang kali sudah menjadi pilihan hidup Nanang Husni Faruk. Bagaimana tidak, setidaknya sudah hampir 11 tahun terakhir ayah dua anak ini selalu konsisten untuk berkecimpung di dunia aktivis.

Bahkan saat ini, suami dari Oki Meriana Kusumastuti ini didapuk menjadi dua pimpinan organisasi besar di Kendal. Yakni Ketua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kendal dan Ketua DPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kendal.

Baginya dengan berorganisasi ia merasa  mendapatkan banyak manfaat dan memberikan manfaat untuk orang lain. “Ketika saya aktif di organisasi, saya bisa menuangkan ide gagasan untuk dijalankan bersama teman seperjuangan,” katanya.

Tidak hanya menuangkan ide, ia juga mendapatkan banyak ide dan bimbingan dari orang lain ketika bergorganisasi. Meskipun secara materi tidak mendapatkan apa-apa dari organisasi yang ia geluti saat ini. “Tapi saya merasa puas ketika saya bisa menelurkan ide-ide saya,” tandasnya.

Pengalaman bergorganisasi telah ia rintis sejak 2007 silam dengan aktif di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Kemudian merambah sampai ke organisasi-organisasi di NU seperti Ansor hingga Pengurus Cabang NU Kendal. Kemudian aktif di KNPI dan HIPMI sejak 2009.

Pengalamannya berorganisasi diakuinya memberikan manfaat untuk mengelola lembaga. Ia menjadi terbiasa menghadapi orang dengan berbagai karakter. “Satu organisasi dengan organisasi lainnya memiliki dinamika yang berbeda.  Hal itu membuat saya jadi paham posisi ketika dalam situasi apapun di sebuah lembaga atau tempat saya bekerja,” kata Kepala MTs Darusaadah, Rowosari ini.

Pengalaman pahit berorganisasi diakuinya terjadi ketika ia sudah berkeluarga. Awal pernikahan ia mengaku tidak bisa membagi waktu antara keluarga dengan organisasi. Bahkan  hari-harinya lebih banyak dihabiskan untuk organisasi ketimbang mengurus istri dan anak-anaknya.

Tak pelak, hal itu membuat Oki sang istri cemburu. Oki merasa kurang diperhatikan karena Nanang lebih banyak menghabiskan waktu organisasi. Bahkan banyak janji liburan bersama keluarga ia tinggalkan demi organisasi.

“Tidak hanya liburan tapi banyak hal. Semisal janjian untuk keluar bareng keluarga makan atau jalan-jalan. Pas tiba waktunya saya cancel karena ada kegiatan di organisasi. Dan itu berkali-kali terjadi sehingga istri saya sampai marah-marah,” tandasnya.

Namun dari pengalaman organisasi, hal itu segera teratasi. Ia menyadari bahwa keluarga juga butuh perhatian dan kasih sayangnya sebagai seorang suami sekaligus ayah.

“Dari masalah itu, kemudian saya mulai mengatur jadwal saya selama sepekan atau sebulan. Saya cocokkan jadwal saya dengan jadwal istri. Sehingga waktu keluarga bisa terjadwal disela waktu luang. Jadi tidak ada yang disakiti,” tandasnya. (budi setyawan/ric)