PRIHATIN: Kondisi rumah Warniningsih yang penuh dengan sampah. (kanan) Warniningsih yang selalu mengenakan mantel plastik. (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)
PRIHATIN: Kondisi rumah Warniningsih yang penuh dengan sampah. (kanan) Warniningsih yang selalu mengenakan mantel plastik. (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)

RADARSEMARANG.COM – Gerakan Wonosobo Bersih yang dihelat Pemkab Wonosobo di kecamatan kota mendadak berubah. Acara dalam rangka mendukung penilaian Adipura itu menjadi gerakan keprihatinan setelah ada informasi seorang warga Kauman Selatan, Kelurahan Wonosobo Timur tinggal di tumpukan sampah.

SUMALI IBNU CHAMID, Wonosobo

NAMA lengkapnya Warniningsih, sejumlah tetangga memanggilnya Yu Warni atau nenek Warni. Usia perempuan itu sekitar 65 tahun. Hidup menjanda, tuna wisma. Sehari-hari, nenek Warni bekerja memulung. Dari satu tempat ke tempat yang lain, dia mengais sampah. Sampah yang dikumpulkan Warni lalu dipilah. Sebagain dijual, namun sisanya tetap dibiarkan di pekarangan berukuran sekitar 100 meter persegi miliknya.

PRIHATIN: Kondisi rumah Warniningsih yang penuh dengan sampah. (kanan) Warniningsih yang selalu mengenakan mantel plastik. (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)
PRIHATIN: Kondisi rumah Warniningsih yang penuh dengan sampah. (kanan) Warniningsih yang selalu mengenakan mantel plastik. (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)

Makin hari sampah makin menggunung. Padahal tanahnya berada di permukiman kota, di bilangan Jalan Bismo, Kota Wonosobo. Kanan kiri lahan tersebut, berdiri rumah warga. Di sebelahnya rumah anak kandungnya. Namun entah karena apa, anak kandungnya selama ini tidak merelakan Warni tinggal bersamanya. Sehingga sehari-hari Warni terpaksa tinggal dan tidur di tumpukan sampah.

Warni pribadi tertutup. Dia seperti ogah bersosialisasi. Kemarin (16/3), Jawa Pos Radar Kedu berhasil ngobrol dengan nenek kurang beruntung itu. Warni berkisah, sebelumnya dia memiliki rumah, warisan orang tuanya. Namun sekitar 25 tahun lalu, terbakar. Lantaran tidak memiliki apa-apa lagi, Warni terpaksa memulung. Setiap hari, dia mencari sampah. Beberapa jenis sampah yang bisa dijual, dipilah, kemudian sisanya tetap dibiarkan, lama-lama menggunung. “Saya kalau malam tidur di sampah itu, karena takut ada pencuri. Beberapa kali ada pencuri ngambil sampah yang sudah saya pilah,”ceritanya sembari menitikkan air mata.

Warni mengaku, tidak memiliki hubungan baik dengan anaknya. Padahal sebelah tumpukan rumah tersebut adalah rumah anak kandungnya. Namun selama ini tidak dibolehkan tinggal bersama anaknya. Ia bahkan bercerita pernah dipukul oleh anak perempuannya itu. “Padahal cucu saya dari putri saya itu,  selama 20 tahun yang merawat saya. Sekarang cucu saya itu sudah kerja di Bandung,” kenangnya sembari menangis.

Untuk mandi, Warni mengaku mandi di selokan di tepi sungai Jalan Bismo. Sementara pakaian gantinya berada di tumpukan sampah. Dia mengaku tidak berani menumpang di rumah anak kandungnya. “Saya mandi di selokan situ,” ujar Warni sembari menggaruk kakinya yang menderita penyakit kulit.

Warni mengaku tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP), apalagi Jamkesda atau BPJS Kesehatan. Kala sakit, mengobati dengan cara dia. Sehari-hari Warni selalu mengenakan mantel plastik. Karena harus tidur dan memilih sampah di pekaranganya.“Saya tidak bisa membangun rumah lagi, dulu terbakar habis,” katanya sambil menambahkan  mantan suaminya telah pergi lama.

Ketua RW 12, Kauman Selatan, Karyono, menjelaskan, masalah di kampungnya ini sudah berlangsung lama. Sebelumnya sampah pernah menumpuk serupa. Warga kemudian bekerja bakti memindahkan sampah. Namun peristiwa terus berulang. Sampah yang saat ini ada merupakan sampah sejak sekitar 3 tahun lalu yang terus menumpuk.“Kami seperti kehabisan cara untuk menjelaskan. Kami warga beberapa kali memindahkan sampah, tetap tidak berubah,”ujarnya.

Dikatakan Karyono, hubungan antara Warni dan anaknya tidak harmonis. Beberapa kali diketahui tetangga sering kisruh. Bahkan menurut cerita sejumlah tetangga, anaknya membolehkan Warni tinggal di rumahnya, dengan syarat harus membayar Rp 10 juta.

“Anaknya juga jarang sosialisasi. Seperti contoh hari ini, Pak Bupati ketuk pintu saja anaknya tidak mau membukakan pintu rumahnya,”terang Karyono.

Mendengar ada kasus ini, Bupati Eko Purnomo dan Sekda Eko Sutrisno Wibowo kemarin berkunjung ke lokasi ini. Bahkan, Camat Wonosobo Zulfa Akhsan langsung mengambil langkah. Kemarin bersama Dinas Lingkungan Hidup, berupaya mengangkut semua sampah yang ada di pekarangan tersebut. “Ini tidak bisa bersih hari ini, kita akan lakukan pembersihan sampai sampah habis,”katanya.

Untuk solusi, kata Zulfa, pihaknya sudah berkomunikasi dengan Pemerintah Kabupaten, Warni dalam waktu dengan akan dibangunkan rumah sederhana. Sehingga aktivitas harian seperti mandi, tidur, dan hidup sosial bisa dilakukan. Selain itu, pihak kelurahan juga akan melakukan pendampingan pelan-pelan, sehingga meski tetap hidup memulung, Warni tidak menimbun sampah sampai menggunung. “Nenek Warni tidak punya teman curhat. Dia seperti malu. Sehingga tertutup. Semua masalah dia selesaikan sendiri,”ujarnya.

Zulfa mengatakan, sejak sepekan ini, pihaknya sudah melakukan pendekatan dengan Warni. Namun pribadinya tertutup, sehingga susah diajak komunikasi. Secara perlahan pihaknya akan melakukan pendekatan. Setelah dibangun rumah, Warni akan didorong ikut komunitas ibu-ibu di lingkungannya.“Kami akan lakukan pendampingan secara perlahan. Termasuk dalam pengelolaan sampah hasil memulungnya agar tidak mengganggu lingkungan,”katanya.(*/aro)