Oleh: Eva Ratihwulan, S.Pd, M.Pd
Oleh: Eva Ratihwulan, S.Pd, M.Pd

RADARSEMARANG.COM – GERAKAN Literasi Sekolah (GLS) yang dicanangkan Kemdikbud melalui Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti di lingkungan sekolah, semakin gencar. Penumbuhan Budi Pekerti dilaksanakan di semua jenjang pendidikan. Mulai pendidikan usia dini hingga jenjang SMA/SMK. Tiap sekolah berlomba menyukseskan GLS dengan berbagai cara. Sebab, tujuan akhir gerakan ini adalah membangun budaya literasi di kalangan pelajar.

Budaya literasi dimaksudkan untuk pembiasaan berpikir yang diikuti oleh sebuah proses membaca hingga akhirnya tercipta sebuah karya. Juga menciptakan kemampuan mengakses, mencerna, dan memanfaatkan informasi secara cerdas. Penumbuhan budaya baca menjadi sarana untuk membentuk sekolah yang literat, dekat dengan buku, haus akan bacaan, dan menumbuhkan rasa ingin tahu melalui berbagai literatur dan sumber wacana.

Membangun manusia yang literat di lingkungan sekolah perlu dilakukan berkesinambungan. Bila seluruh warga sekolah berperanan aktif, sadar akan pentingnya membaca, maka harus memiliki rancangan/ program yang menarik agar cita-cita itu terwujud. Untuk itu, menurut penulis, pendekatan MANTAP kiranya dapat diterapkan di setiap sekolah. MANTAP yang dimaksud adalah M (urah), A (kses mudah), N (yaman), T (tekun), A (man), dan P (raktis).

Murah, artinya menciptakan GLS tanpa biaya besar, bahkan gratis. Sediakan bahan bacaan yang masih layak baca. Tidak harus buku/majalah yang baru. Asal media tersebut dapat dijadikan wahana menambah wawasan, maka bisa saja digunakan. Siswa tidak harus keluar uang untuk dapat membaca. Berbagai bacaan bisa mereka nikmati. Usahakan sekolah menjalin hubungan dengan penerbit /Balai Bahasa untuk memperoleh buku-buku yang bermanfaat dan gratis.

Akses Mudah, maksudnya, memberikan fasilitas kepada seluruh warga sekolah untuk memudahkan mengakses internet sebagai sumber literasi selain buku /media kertas. Koran elektronik pun dapat dijadikan media. Minimal, di perpustakaan sekolah, menyediakan fasilitas ini. Akses mudah juga mengandung arti bahwa seluruh siswa mudah menjangkau bacaan. Semisal, sekolah menyediakan ruang pojok baca, di sudut kelas ada rak buku, di halaman/ taman sekolah ada gazebo yang terdapat buku-buku di rak. Di koridor sekolah pun disediakan rak berisi buku-buku yang bermanfaat. Sehingga siswa tidak perlu jauh harus menjangkau ke perpustakaan.

Nyaman, dalam arti sekolah menyediakan tempat duduk yang nyaman untuk membaca. Ada ruang yang representatif untuk duduk dan membaca. Agar nyaman, sediakan kipas angina atau AC. Berikan pula pelayanan yang ramah agar siswa senang dan nyaman berada di ruangan.

Tekun, artinya memberi stimulus agar siswa menjadi tekun membaca, baik melalui tugas pelajaran maupun tugas sekolah secara umum. Ketenunan belajar dan membaca, akan membuahkan hasil positif.

Aman, dalam arti memberikan rasa aman selama siswa berada di sekolah. Sekolah harus menyediakan perlindungan penuh selama siswa melakukan literasi di sekolah. Misalnya, melengkapi sarana CCTV di beberapa tempat agar tidak ada perilaku kejahatan.

Sedangkan praktis, artinya dengan kepraktisan, menjangkau sumber literasi. Sekolah memberikan fasilitas yang memadahi. Berikan kepraktisan untuk meminjam buku di perpustakaan. Kepraktisan tersedia pula di ruang kelas, bahkan di kantin pun disediakan tempat pojok baca agar bisa mendapatkan sumber literasi sambil menunggu pesanan makanan tiba.

Dengan demikian, diharapkan siswa akan menjadi terbiasa melihat di manapun tempat ada buku/sumber bacaan. Meski kepraktisan itu dapat mereka peroleh melalui HP, maka perlu pula pemantauan akan sumber bacaan. Untuk itu, dibutuhkan kerja sama yang sinergi antara orang tua siswa dan pihak sekolah. Serta, penanaman pendidikan karakter yang berkesinambungan.

Dengan pendekatan MANTAP, minimal harapan untuk membangun manusia literat dan membudayakan budaya baca, bisa terwujud. Utamanya, di lingkungan sekolah. Guru sebagai sosok panutan dan teladan pun, selayaknya memiliki jiwa literat.

Ini wajib dilakukan, karena dunia saat ini tanpa batas. Anak kadang lebih cepat tahu perkembangan dunia luar, daripada gurunya. Guru dan siswa berlomba mendapatkan pengetahuan sebanyak dan seluas mungkin, agar tidak ketinggalan informasi. Guru harus lebih cepat tanggap, dan mumpuni dari siswanya. Maka, tuntutan guru untuk meluangkan waktu membaca, harus dilakukan. Semoga dengan pendekatan MANTAP, guru maupun siswa sadar diri dan semangat berliterasi tanpa rasa malas. Semoga. (/isk)

Guru SMAN 5 Magelang