Penuhi Biaya Transportasi dan Ngurus Berkas Harus Ngutang

Bripda Rumaniyah, Anak Buruh Tani Lolos Menjadi Anggota Polisi 

845
KEBANGGAAN ORANGTUA : Bripda Rumaniyah merasa bersyukur dan berterima kasih kepada banyak pihak yang telah mendukung dan menguatkannya untuk diterima menjadi anggota Polri. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KEBANGGAAN ORANGTUA : Bripda Rumaniyah merasa bersyukur dan berterima kasih kepada banyak pihak yang telah mendukung dan menguatkannya untuk diterima menjadi anggota Polri. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Meski hanya anak buruh tani, Bripda Rumaniyah, 19, tak menyerah pada nasib. Anak pasangan suami istri (Pasutri), Kliwon dan Kismiyah warga Tangkil Kulon, Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, ini membuktikan kegigihannya bisa lolos masuk menjadi anggota Polri. Seperti Apa?

M HARIYANTO

TAK kuasa menahan tetes air mata, saat Bripda Rumaniyah berbagi kisahnya saat mulai mendaftar anggota Polri hingga lolos seleksi. Rumaniyah merupakan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri Jateng, Jurusan Otomasi Industri. Namun karena berasal dari keluarga tak mampu, dirinya sempat ragu dan merasa pesimistis untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang anggota Polri. Apalagi tinggi badannya kurang dari 160 sentimeter sebagaimana yang disyaratkan.

Namun tekadnya yang kuat, mendorongnya tetap mendaftar anggota Polri di Mapolda Jateng tahun 2017 lalu. Meski berkecil hati, tetap bertekad mengikuti seleksi dari tahap demi tahap. “Saya baru masuk satu kali ini. Alhamdulillah Allah SWT memberikan kemudahan kepada saya untuk lolos dan bergabung menjadi anggota Polri, dilantik 6 Maret 2018,” ungkap Rumaniyah di sela kegiatan Rakernis SDM Polri di Wisma Perdamaian, Kamis (15/3) kemarin.

Rumaniyah mengaku inginnya menjadi Polwan umum. Berhubung tinggi badannya kurang dari 160 sentimeter, akhirnya memilih mendaftar di bagian Teknologi Informasi yang sekarang bertugas di Mabes Polri.

Saat melewati tahapan seleksi, Rumaniyah tak didampingi oleh pihak keluarga maupun orangtuanya. Hal ini, berbeda dengan peserta seleksi lain yang selalu ditemani oleh kerabat dan para orangtuanya. “Tapi saya yakin, di belakang saya masih ada orangtua saya yang selalu mendoakan untuk anaknya agar sukses,” terangnya.

Selain itu, pendaftaran yang dipilih ini tidak dimiliki ilmu dasarnya, yakni kurangnya pengetahuan terkait komputer. Namun ia tetap berusaha keras mencari pengetahuan dengan dibantu teman-teman dekatnya beserta guru pendidiknya semasa masih di SMK. Dirinya diajari tentang pengetahuan umum dan tentang komputer. “Saya diajari TIK, diajari teknik informasi tentang jaringan, karena saya ingin mendaftar di Bintara Teknik Informatika,” bebernya.

Rumaniyah merasa bersyukur, usaha kerasnya mendapat banyak dukungan dari orang-orang dekatnya. Bahkan, saat proses seleksi dipertemukan dengan orang-orang yang berhati malaikat, entah itu teman-temannya, guru, maupun orang yang baru dikenalnya.

“Allah SWT mengirimkan perantara-perantaranya yang cukup banyak. Mereka sangat baik, walaupun baru kenal dan tidak membedakan, walaupun saya datang dari keluarga yang tidak mampu,” katanya.

Rumaniyah menyadari ia dilahirkan dari keluarga tidak mampu. Kedua orangtuanya hanyalah buruh tani yang tidak memiliki penghasilan tetap. Dia merasa beruntung, orangtua sangat mendukungnya dengan berusaha keras memberikan biaya transportasi meski harus berhutang.

“Orangtua saya itu punya hutang kepada saudara saya yang di Solo. Sebenarnya itu uang untuk membayar hutang, tapi saya gunakan dulu untuk biaya transportasi saya saat mengikuti seleksi dan mengurus berkas-berkas,” bebernya.

Bagi Rumaniyah, keberhasilannya ini berkat dukungan dari keluarganya. Utamanya sang adik, Safii Annam, yang ikut membantu menyisihkan penghasilannya sebagai tukang jahit, untuk tambahan ongkos transportasi. Yang lebih menyentuhnya, sang adik rela tidak melanjutkan sekolah agar bisa bekerja sebagai tukang jahit demi membantu ekonomi kedua orangtuanya.

“Saya anak ke-6, namun masih punya adik yang ikut membantu saya. Adik saya ini tak lulus SD, tapi memiliki sifat dan pemikiran yang lebih dewasa di banding saya. Dia ikut membiayai saya kesana-kemari, transportasi saya keluar kota untuk seleksi. Saya merasa seperti adiknya, bukan sebagai kakaknya,” katanya haru.

Perjalanan panjang yang harus ditempuh demi membahagiakan kedua orangtuanya, tak sampai disitu. Ia sempat merasa sedih setelah lolos seleksi dan mengikuti pendidikan SPN Polda Jabar, kemudian dilantik menjadi polisi. Namun kedua orangtuanya tidak bisa mengahdiri pelantikan tersebut di Jawa Barat.

“Dalam pelantikan pun, orangtua saya tidak bisa datang, karena jarak yang begitu jauh dan memerlukan biaya. Namun saya bersyukur, telah dipertemukan orang-orang baik. Kepala SPN dan Wakil Kepala SPN memberikan bantuan kepada saya, akhirnya orangtua saya bisa datang menamani saya untuk pelantikan menjadi Bripda,” katanya.

Atas kesuksesan ini, ia juga sangat berterimakasih kepada semua yang ikut membantu mulai dari pendidikan di SMK Negeri Jateng. Sebab di sekolah tersebut, ia juga mendapat beasiswa, tidak dipungut biaya mulai dari tempat tinggal hingga makan sehari-hari.

“Dari kecil saya bertekad membahagiakan kedua orangtua saya. Saya ingin membelikan rumah kedua orantua saya, kerena kami dari keluarga besar yang tingga di rumah yang sangat kecil,” katanya.

Sementara, Kliwon orangtua Rumaniyah yang ikut mendampingi anaknya mengaku tidak menyangka jika anaknya bisa masuk menjadi anggota Polri. “Saya tidak punya apa-apa, saya hanya buruh tani, tidak mempunyai biaya apapun, tidak punya sawah, penghasilan hanya Rp 60 ribu kalau musim tani saja, kalau tidak ya nganggur. Saya sangat bersyukur, terimakasih kepada bapak jendral dan semuanya,” pungkasnya. (*/ida)