Pertanyaan :

RADARSEMARANG.COM – Assalamu’alaikum Bapak DR. KH. Ahmad Izzuddin, M. Ag di Radar Semarang yang saya hormati dan dimuliakan oleh  Allah SWT. Saya ingin meminta penjelasan mengenai masalah iddah. Ada seorang perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya. Namun belum sampai selesai masa iddahnya, perempuan tersebut mendapat berita duka untuk kedua kalinya, yakni ayah kandungnya ikut menyusul kepergian suaminya, alias meninggal juga. Bagaimana hukum perempuan tadi menghadiri pemakaman ayahnya sedangkan dia masih dalam masa iddah? Dan bagaimana jika ada perempuan yang menggunakan obat pelancar haid untuk mempercepat masa iddah? Demikian pertanyaan saya, terima kasih atas penjelasan dan jawaban bapak. Wassalamu’alaikum Warahmatullah

Yassirly Amriya, di Jepara 085740557xxx

Jawaban :

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Ibu Yassirly Amriya di Jepara yang saya hormati dan juga dirahmati Allah SWT. Perlu diketahui bahwa kami memandang perlu menjelaskan macam macam iddah terlebih dahulu. Iddah adalah masa menunggu dan menahan bagi seorang perempuan setelah ditinggal meninggal oleh suami atau juga setelah bercerai. Iddah bertujuan untuk memastikan apakah rahimnya sedang dalam keadaan mengandung atau tidak. Mengandung yang dimaksud adalah baik mencakup makna janin, atau proses biologis sperma menjadi janin.

Iddah bagi perempuan yang sedang hamil adalah sampai perempuan tersebut melahirkan. Kemudian, Iddah bagi perempuan yang tidak hamil adalah 4 bulan 10 hari. Sedangkan bagi yang masih memiliki siklus haidl, masa iddahnya adalah sampai 3 kali suci dari menstruasi. Berbeda jika perempuan tersebut sudah tidak lagi memiliki siklus haidl (menopause) iddahnya adalah 3 bulan.

Dari pengertian ini, telah dijelaskan dalam Fatawa Fiqhiyah Kubro Jilid 4 bahwa status iddah seorang wanita yang minum obat pelancar haidl dengan asumsi agar iddahnya cepat selesai adalah dianggap selesai, meskipun tidak menunggu sampai habisnya masa iddah.

Mengenai jawaban atas pertanyaan yang Ibu kemukakan diatas, terdapat perbedaan diantara imam madzhab dalam menjawabnya.  Menurut Syafi’iyah, keluar rumah untuk menghadiri pemakaman orang tua, kerabat atau sanak seperti dalam permasalahan diatas tidak diperbolehkan. Namun menurut sebagian kalangan Malikiyah tetap disunahkan melakukan hal diatas bagi wanita tua. Sementara bagi wanita muda hukumnya makruh, bahkan bisa menjadi haram jika dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah. Demikian jawaban yang dapat saya sampaikan semoga ada manfaatnya dan barokah. Amin. Wallahu a’lam bishshowab.