Guru Ikut Worskhop Kepenulisan, Berburu Sertifikat atau Ilmu?

323
Oleh: Fathul Hayati, S.Pd.Bio
Oleh: Fathul Hayati, S.Pd.Bio

RADARSEMARANG.COM – BUKAN narsis atau sok pintar, jika dua tahun terakhir ini, saya antusias mengikuti kegiatan berbau literasi guru, utamanya kepenulisan. Terbaru, pada 24 Februari 2018 lalu, saya mengikuti Workshop Menulis Artikel di Media Massa yang dihelat Jawa Pos Radar Semarang bekerja sama dengan BP2MK Wilayah IV Jawa Tengah di SMK TN Magelang.

Kegiatan berjalan luwes dan menarik, karena diselingi tanya jawab langsung di akhir sesi. Hingga di ujung kegiatan, peserta workshop diminta menuliskan beberapa paragraf ide yang akan dituangkan dalam tulisan. Ini seperti sebuah feedback untuk mengukur tingkat keberhasilan transfer ilmu sang narasumber.

Tak sedikit peserta workshop antusias mengerjakan PR-nya. Tapi, tak sedikit pula yang kertasnya hanya berisi biodata pribadi. Saya sendiri hanya sempat menuliskan beberapa paragraf hasil pikir secara mendadak.

Bagi saya pribadi, duduk berjam-jam di ruang penyelenggaraan workshop, bukan karena sudah membayar biaya diklat. Tapi karena saya senang, bisa bertemu sosok-sosok sukses di bidangnya. Setidaknya, pengalaman mereka bisa memantik semangat saya pribadi untuk yakin; bahwa jika saya mau berlatih dan berguru pada pakar-pakar itu, Insya Allah saya bisa.

Menurut saya pribadi, yang berat bukan transfer atau bayar biaya diklat/workshop. Tapi, bagaimana mengendalikan diri sendiri. Maksudnya, mengendalikan rasa tidak percaya diri atau minder dan nervous saat datang ke kegiatan seperti itu. Sebab, saya pribadi orang yang paling sulit menaklukkan rasa itu.

Toh, saya tidak pernah kapok untuk datang ke acara-acara diklat seperti itu, bertemu banyak penulis hebat, editor hebat, dan orang-orang hebat lainnya. Mereka setidaknya bisa memotivasi dan memberikan pengaruh positif. Hal berikutnya yang menantang adalah; mampu tidak kita memunculkan ide atau materi apa yang akan ditulis?

Bagaimana jika kita tidak mampu menghasilkan tulisan sebagai output dari diklat menulis? Bisakah kita menyatakan kira-kira ada keterbatasan di mana dari penyelenggaran diklat tersebut? Sekadar evaluasi sederhana, sistem penyampaian materikah? Mutu materinya-kah ? Atau, daya penerimaan peserta? Menurut saya, ada baiknya kita bisa menelaah beberapa faktor di atas, menurut kemampuan telaah kita masing-masing, dengan sudut pandang proporsional/berimbang.

Toh, tidak dapat dipungkiri, hal pertama yang saya ingin dapatkan pada sebuah diklat adalah sertifikat. Kedua, bertambah pengalaman. Ketiga, tambah teman dan sudah dipastikan biasanya akan ada group WhatsApp (WA) baru, yang biasanya sesuai nama diklat yang diikuti.

Bahkan, obrolan di WA mulai seru ketika anggota satu dengan lainnya, saling beradu komentar. Beberapa kali saya sempat menyimak obrolan di grup WA; yang intinya saling curhat bahwa motivasi ikut diklat itu hanya menginginkan sertifikatnya saja. Tak jarang panitia juga dikejar pertanyaan, kapan sertifikatnya terbit? Kapan sertifikatnya dikirim?.

Biasanya juga obrolan WA masih berlanjut dengan topik seputar keinginan bisa ikut membuat dan mengirimkan tulisan atau artikel. Tapi, tak sedikit juga yang masih berusaha ngeles dengan alasan sibuk tugas kantor, ngurus anak, suami, dan seabrek curhatan – curhatan ala ibu-ibu rempong lainnya, di mana menurut mereka sudah bisa curhat dengan teman di grup, rasanya sudah berasa plong.

Lalu, bukankah curhatan berbalas tadi tidak ubahnya seperti sebuah acara penuangan ide kreatif sederhana? Lalu, kenapa kita masih merasa belum punya ide atau belum bisa menemukan ide buat sebuah tulisan kita? Semoga yang sederhana ini bisa memotivasi kita, semua para guru yang sering tidak punya kata “sempat” untuk mencoba menulis. Semoga. (*/isk)

 Guru SMK 1 Salam, Kab. Magelang