SMPN 5 Pati, Sekolah Beradiwiyata dan Berliterasi

246

SEJUK, damai, dan menyenangkan. Begitu kesan yang tertangkap saat Jawa Pos Radar Kudus masuk area sekolah yang berada di Jalan Panglima Sudirman tersebut. Banyak tetumbuhan yang memenuhi tiap sudut bangunan sekolah. Aneka tulisan bertemakan lingkungan juga bertebaran di tembok-tembok sekolahan.

SMP N 5 Pati ini memang menjadi sekolah berbasis kepedulian lingkungan, atau adiwiyata. Tak hanya adiwiyata, namun juga berliterasi juga. Kepala SMP N 5 Pati Sofia Bardina punya alasan khusus.

DAPAT PENGHARGAAN: SMPN 5 Pati mendapat penghargaan dari Bupati Haryanto untuk deklarasi komitmen sebagai sekolah adiwiyata berliterasi
(Smp 5 pati for radar kudus)

Menurutnya, tak cukup hanya beradiwiyata saja, atau berliterasi juga. Dua-duanya harus disatukan supaya tak stagnan. ”Kalau hanya adiwiyata saja itu bisa stagnan. Makanya diberi berliterasi supaya berkembang,” papar Sofia.

Dengan gerakan berliterasi dalam hal ini membaca, lanjut Sofia, pola berfikir anak didiknya akan berkembang dan menemukan hal-hal baru. ”Adiwiyata kan soal lingkungan. Itu bisa dikaitkan dengan kegiatan literasi. Melalui membaca buku, anak-anak tentu bisa menambah wawasannya, misalnya soal barang bekas, tak cukup hanya menjadi barang bekas saja. Namun ada nilai-nilai kemanfaatannya yang bisa diambil dari proses-proses membaca itu,” jelas kepala sekolah yang juga gemar menulis karya sastra ini.     

Maka tak heran, jika berkunjung ke sekolah ini akan dijumpai pojok-pojok baca. Setidaknya ada lima pojok baca. Setiap kelas juga diberi pojok baca. Bacaannya macam-macam, ada buku-buku, juga kliping di majalah dinding.

”Kedepan kami juga akan mengikuti perkembangan zaman. Anak sekarang biasanya enggan pegang buku. Mereka lebih betah di depan komputer. Makanya kami akan mengembangkan pojok baca dengan fasilitas bacaan dalam bentuk e-book juga,” imbuh Sofia.

Sementara itu, di SMP N 5 Pati, kegiatan pengembangan diri penelitian cukup moncer. Di penelitian bidang IPA maupun IPS keduanya berhasil menyabet prestasi yang cukup membanggakan. Juara kabupaten hingga meraih perak tingkat nasional.

Penelitian di bidang IPS, berhasil menyabet Juara 1 Lomba Penelitian Siswa Nasional (LPSN) tingkat kabupaten melalui penelitian bangunan-bangunan kuno di Pati sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya.

Sementara di bidang IPA, kelompok penelitiannya berhasil menyabet perak tingkat nasional pada 2017 lalu. Selain itu juga menyabet juara tingkat kabupaten. Ajeng Dian Puspita, guru pembimbing kegiatan penelitian IPA menuturkan, saat itu mengajukan dua jenis penelitian dengan bahan yang sama.

Bahannya daun pucuk merah. Penelitian satu digunakan untuk membuat sabun, lalu merebut juara satu LPSN tingkat kabupaten. Sementara penelitian satunya lagi tentang kegunaan daun pucuk merah sebagai bahan membuat pengawet alami untuk produk tahu.

”Untuk pengawet alami, tahu tak mendapat juara di tingkat kabupaten. Tapi saat dilombakan di tingkat nasional malah meraih medali perunggu tingkat nasional,” papar guru mata pelajaran IPA itu kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Penelitian itu, lanjut Ajeng, dilakukan dengan penuh perhitungan. Penelitian tentang daun pucuk merah itu awalnya gagasan dari siswa. ”Siswa kami suruh untuk menentukan bahan sendiri. Bahan itu yang mudah didapatkan di lingkungan sekitar. Lalu kemudian saya laboratoriumkan dulu. Hal itu untuk mengetahui kandungan kimia apa yang terkandung. Baru kemudian berjalan penelitian. Waktunya sekitar enam bulan,” papar Ajeng.

Sementara itu, dalam penelitian ini perlu upaya keras juga dari seorang guru pembimbing. ”Untuk melakukan sebuah penelitian di tingkat SMP, tentu sangat berbeda. Tingkat kesulitannya lebih tinggi,” imbuhnya.

Pembimbing penelitian untuk IPS juga mengungkapkan hal yang sama. Udi Utomo mengaku, harus ekstra dalam membimbing siswanya. ”Di sini, selain siswanya yang mesti kreatif, guru pembimbing harus intens dan telaten dalam membimbing siswanya. Karena pengetahuan soal penelitian anak setingkat SMP boleh terbilang sangat mendasar. Bimbingan harus berjalan terus-menerus tak boleh setengah-setengah,” papar Udi.

Untuk hasil penelitian sabun herbal pucuk merah saat ini sudah banyak dipakai. Namun hanya untuk kalangan lokal. Seperti para guru, maupun wali murid.

Selain pembelajaran formal, di SMP N 5 Pati, para guru juga menanamkan pelajaran sosial. Mereka dilatih beramal dan peduli terhadap sesama dan lingkungan. Hal itu dikemukakan kepala sekolah, Sofia Bardina.

Anak didik dilatih pula kepekaan sosialnya. Sekolah mengajarkan anak didik untuk peduli melalui sebuah kegiatan berbagi. ”Di beberapa sudut, kami sediakan beberapa kotak amal. Hasilnya nanti kami buat untuk kegiatan sosial,” papar Sofia.

Kegiatan sosial yang pernah dilakukan SMP N 5 Pati diantaranya, ikut membantu kekeringan di Kecamatan Batangan dengan membantu penyaluran air beberapa waktu yang lalu, juga turut memberikan bantuan saat terjadi musibah kebanjiran.

”Lalu, saat bulan puasa, biasanya anak-anak juga ada kegiatan bagi-bagi takjil. Mereka membagikan kepada pengguna jalan yang melewati depan SMP N 5 Pati,” terang Sofia.

Selain itu, baru-baru ini, SMP N 5 Pati juga mengajak anak-anak didiknya untuk ikut mengentaskan satu anak yang menderita gizi buruk di Papua sana. SMP N 5 Pati menitipkan donasi bantuan pengentasan gizi buruk itu kepada UNESCO. Sebuah organisasi untuk pendidikan dan anak internasional. Satu anak gizi buruk berhasil dituntaskan dari SMP N 5 Pati.

”Ya kami melatih jiwa kepeduliaan anak-anak, supaya peka dengan keadaan sekitar. Serta mampu menumbuhkan beramalnya” imbuh kepala sekolah yang pernah mendapat kesempatan belajar selama sebulan di Queensland University Of Teknologi ini.

(ks/aua/him/top/JPR)

Silakan beri komentar.