Ngobrol Santai soal Pribadi hingga Berita Hoax

Kunjungan ke Bupati Semarang dan Wali Kota Salatiga

329
SILATURAHMI: Wali Kota Salatiga Yuliyanto dan Kabag Humas Satuti berfoto bersama dengan Direktur Jawa Pos Radar Semarang Baehaqi dan jajaran manajer di Rumah Dinas Wali Kota Salatiga, kemarin. (Bawah) Bupati Semarang Mundjirin berbincang santai dengan Baehaqi dan General Manager Iskandar. (DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SILATURAHMI: Wali Kota Salatiga Yuliyanto dan Kabag Humas Satuti berfoto bersama dengan Direktur Jawa Pos Radar Semarang Baehaqi dan jajaran manajer di Rumah Dinas Wali Kota Salatiga, kemarin. (Bawah) Bupati Semarang Mundjirin berbincang santai dengan Baehaqi dan General Manager Iskandar. (DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA – Akrab bak kawan lama. Itulah suasana yang tergambar dalam pertemuan Wali Kota Salatiga, Yuliyanto, dengan Direktur Jawa Pos Radar Semarang, Baehaqi. Nyaris sepanjang pertemuan diwarnai canda tawa.  Pembicaraan mengalir begitu saja. Mengenai pribadi, keluarga dan kedinasan.

Baehaqi tak segan menceritakan wira-wirinya Surabaya – Semarang – Kudus. Keluarga tinggal di Surabaya. Dia juga harus bolak-balik ke Kudus karena merangkap jabatan sebagai Direktur Jawa Pos Radar Kudus. “Naik apa?” tanya Yulianto mulai tertarik cerita Baehaqi.  ‘’Tadi saya naik kereta api. Nyaman, bersih, dan dingin,’’ katanya.

Kereta yang ditumpanginya adalah Maharani dengan tarif flat Rp 49.000. Sangat murah dibanding bus. Apalagi pesawat.

EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG
EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG

Baehaqi diterima di rumah dinas wali kota Jalan Diponegoro No 1, Selasa (13/3)  sekitar pukul 15.00. Dia didampingi General Manager Iskandar, Pimpinan Redaksi Arif Riyanto, Manajer Keuangan Indah Fajarwati, Manajer Iklan Tri Sutristyaningsih dan Manajer Pemasaran Koran Bambang Krisnadi. Mereka mengobrol di teras hampir sejam. ‘’Saya sudah menunggu sejak tadi,’’ kata Yulianto.

Baehaqi tertawa. ‘’Kami minta maaf,’’ jawabnya merasa bersalah karena terlambat.

Kedatangan seluruh pimpinan Jawa Pos Radar Semarang itu untuk bersilaturahmi. Kebetulan Baehaqi baru menjabat Direktur Jawa Pos Radar Semarang sejak sebulan lalu. Pertemuan kemarin adalah kali pertama. Sedangkan para manajer sudah sering menemui wali kota yang masih muda dan ganteng tersebut. ‘’Kami ingin mempererat kerja sama,’’ ujar Baehaqi mengenai maksud kedatangannya.

Pemkot Salatiga dan Radar Semarang sudah lama menjalin kerja sama. Bentuknya bermacam-macam. Intinya untuk bersama-sama mengembangkan masyarakat terutama generasi muda. “Kami mengembangkan filosofi part of the show,”  ujar Baehaqi.  Yaitu, bersama-sama seluruh stakeholder melaksanakan berbagai kegiatan. “Itu sangat kami perlukan,” jawab Yulianto.

Wali Kota menyatakan, jika Pemkot Salatiga sangat senang bisa bermitra dengan Jawa Pos Radar Semarang dan selama ini sudah berjalan dengan baik. Ia berharap ke depan hubungan bisa semakin erat, dan bersama ikut membangun Kota Salatiga.

Dikatakan, jika pemkot siap dan membuka diri untuk menjalin
kerja sama untuk lebih mengembangkan potensi yang ada di Kota Salatiga.

Yuliyanto yang didampingi Kabag Humas Satuti berdiskusi cukup
panjang dan santai. Beberapa kali gelak tawa terdengar sebagai bentuk
keakraban yang terjalin dalam pertemuan sore itu.

Sebelum bertemu Wali Kota Salatiga, jajaran pimpinan Jawa Pos Radar Semarang  juga bersilaturahmi dengan Bupati Semarang, Mundjirin. Kunjungan tersebut langsung diterima Mundjirin di ruang kerjanya di lantai 2 Kantor Pemkab Semarang.

Baehaqi mengungkapkan, kunjungan tersebut untuk perkenalan dirinya sebagai Direktur Jawa Pos Radar Semarang yang baru, sekaligus untuk lebih mendekatkan kepada pemangku kepentingan di Kabupaten Semarang.  “Visi kami selalu dekat dengan stakeholder. Ini yang dilakukan oleh Jawa Pos dengan memberikan apresiasi yang dilakukan oleh masyarakat,” katanya.

Melalui kunjungan tersebut, lanjutnya, diharapkan semakin mempererat kerja sama antara Pemkab Semarang dan Jawa Pos Radar Semarang ke depannya.

Pada kesempatan tersebut, Baehaqi juga menjelaskan tentang maraknya berita hoax di media sosial. Perkembangan teknologi, membuat media sosial juga ikut berkembang dengan pesat. “Itu punya kerawanan seperti banyaknya berita hoax gampang menyebar ke mana-mana,” ujarnya.

Kondisi tersebut, lanjutnya, juga bisa mempengaruhi performa dari Pemkab Semarang untuk membangun Kabupaten Semarang. Sehingga keberadaan media mainstream seperti Jawa Pos Radar Semarang  sangat membantu Pemkab Semarang dalam sosialisasi hasil pembangunan kepada masyarakat.

“Kehadiran koran atau media mainstream akan menetralisir adanya berita-berita hoax yang banyak muncul di media sosial. Koran juga menjadi media rujukan yang bisa dipertanggungjawabkan, karena kita memiliki kode etik, pimpinan redaksinya jelas, kantornya jelas, semuanya serba jelas,” katanya.

Ia menambahkan, program peningkatan literasi yang saat ini gencar dilakukan Pemkab Semarang perlu untuk diapresiasi dan disinergikan dengan media mainstream. “Keberadaan media sosial justru bisa ‘membunuh’ minat membaca anak itu sendiri,” tandasnya.

Bupati Semarang, Mundjirin, mengatakan, peningkatan literasi di Kabupaten Semarang diharapkan bisa mendongkrak kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) setempat. “Pak Dahlan Iskan (salah satu pemegang saham Jawa Pos, Red) dulu sering datang ke Kabupaten Semarang. Beliau itu tulisan-tulisannya luar biasa. Saya juga tahu, Jawa Pos pernah mendapat predikat koran terbaik di dunia,” ujar Mundjirin.

Ia berharap, sinergitas antara Pemkab Semarang dan Jawa Pos Radar Semarang ke depan bisa berjalan terus. “Tahun lalu digelar even Desa Hebat yang di-support pemberitaan setiap hari di Jawa Pos Radar Semarang. Terima kasih atas kerja samanya selama ini,” katanya.

Ia tak menampik  jika banyak informasi yang tidak bertanggungjawab beredar luas di media sosial. Bahkan, lanjutnya, Mundjirin pernah tertipu adanya informasi tidak bertanggungjawab di media sosial. “Saya pernah tertipu saat rapat ada pesan masuk yang menjelaskan jika jalan tol Bawen-Salatiga putus. Banyak mobil yang  celaka. Ada gambarnya pula. Saya langsung lari dari rapat untuk melihat ke lokasi, tapi ternyata sampai sana tidak ada apa-apa. Ternyata hanya hoax,” ceritanya sambil tersenyum.

Menurutnya, keberadaan media mainstream seperti halnya Jawa Pos Radar Semarang untuk menetralisir informasi yang tidak bertanggung jawab memang sangat diperlukan. Apalagi dengan tujuan untuk membantu menyukseskan pembangunan daerah. (sas/ewb/aro)