Korban Pencabulan Guru Bertambah

Sanksi Tunggu Hasil Pemeriksaan

574

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Korban pelecehan seksual yang diduga dilakukan oknum guru SD Karangayu 2 Semarang Barat berinisial FO, diperkirakan lebih dari satu orang. Diduga ada siswi lain yang menjadi korban pencabulan, namun belum melapor. Kasus ini terungkap setelah FO dilaporkan oleh Williem Frits Priano Bura, 36, warga Tawang Rejosari, Krobokan, Semarang Barat.

Oknum guru tersebut dituduh telah melakukan pelecehan seksual terhadap CJB, 8, putri Williem yang masih duduk di bangku kelas 3 SD Karanganyu 2. Aksi pelecehan itu dialami CJB di salah satu ruang kelas pada Kamis (8/3) lalu.

Kasubag Humas Polrestabes Semarang, Kompol Suwarna, menjelaskan telah mendapat laporan dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Semarang jika ada  salah satu orang tua siswi di SD tersebut yang putrinya diduga menjadi korban pelecehan seksual oleh FO. “Iya ada lagi yang akan melapor. Satu orang. Inisialnya belum tahu. Kasusnya sama,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (13/3) kemarin.

Informasi yang diperolehnya, sesuai rencana pelaporan akan dilakukan pada Rabu (14/3) hari ini. Pihak pelapor kedua ini sedang melakukan visum et repertum di Rumah Sakit Tugu sebagai kelengkapan berkas untuk pelaporan. “Tadi baru diantar ke rumah sakit untuk dilakukan visum. Rencananya, besok (Rabu ini) akan datang ke Polrestabes Semarang membuat laporan,” bebernya.
Suwarna juga menjelaskan, sebelumnya oknum guru tersebut telah dilaporkan oleh orangtua siswi kelas 3  berinisial CJB, 8, terkait dugaan pelecehan seksual oleh FO. Bahkan, penyidik juga telah menindaklanjuti dan mendatangi sekolah terkait.
“Kemarin kan baru cek lokasi, cek Tempat Kejadian Perkara (TKP), sama ngecek kebenaran ke siswa dan guru di sekolah itu. Ya, ini nanti sama pelaporan besok (hari ini) dievaluasi untuk menentukan langkah lebih lanjut,” katanya.
Hal tersebut dilakukan sebagai langkah penelusuran mengumpulkan bukti sebagai bahan penyelidikan untuk mengetahui adanya unsur pidananya terkait kasus ini. Sehingga jika ditemukan unsur pidana, akan dilakukan penyidikan terhadap terlapor.

“Kalau nanti diketahui ada unsur pidananya, pihak orangtua akan dihubungi untuk membuat laporan resmi. Sehingga kasus tersebut bisa naik dari tahap penyelidikan ke penyidikan. Dalam artian proses hukum akan jalan terus,” tegasnya.
Terpisah, pengamat pendidikan Jawa Tengah, Dr Ngasbun Egar MPd mengaku prihatin dengan peristiwa tersebut. Menurut dia, seorang guru jika mematuhi kode etik guru tidak akan melakukan penyimpangan, dan seharusnya memberikan contoh yang baik kepada masyarakat. “Saya sudah dengar, sangat prihatin. Namun harus dikroscek dulu apakah benar terjadi atau tidak,” katanya saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang.

Dikatakan Ngasbun, kroscek harus dilakukan untuk mengetahui kebenaran dan fakta di lapangan. Misalnya, apakah benar-benar terjadi pelecehan atau salah satu bentuk pengajaran, namun dimaknai lain oleh orang tua siswa.

Menurut dia, peran Dewan Kehormatan Guru Indonesia (DKGI) Jawa Tengah harus dikedepankan jika memang ada penyimpangan kode etik. “Kalau dalam krocek ada dugaan penyimpangam dan melanggar hukum, kami akan serahkan ke pihak berwajib. Namun kita juga harus menjaga suasana kondusif, apalagi korbannya anak-anak, dan tetap menjaga azas praduga tak bersalah,” tambahnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin, mengaku telah mendatangi SD Negeri Karangayu 2. Saat itu, dirinya melakukan verifikasi atas dugaan pelecehan seksual yang dilakukan seorang oknum guru di sekolah dasar terhadap siswinya.  “Tadi kami melakukan verifikasi ke sekolah atas laporan dugaan pelecehan seksual yang terjadi,” katanya.

Keterangan dari korban, kasus dugaan pelecehan seksual terjadi ketika FO memanggil sejumlah siswi untuk masuk ke dalam kelas, kemudian mengunci pintu, dan meminta para siswi menanggalkan seragamnya.
“Saat ini, kami masih menunggu laporan pemeriksaan yang dilakukan atasannya langsung, yakni kepala sekolah atas dugaan pelecehan seksual dan hasilnya akan dikirimkan oleh sekolah yang akan kami tindaklanjuti,” tuturnya.

Diketahui FO adalah seorang guru PNS. Bunyamin menegaskan, tim dari Pemkot Semarang, seperti Disdik, Inspektorat, dan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) juga turun melakukan pemeriksaan setelah laporan sekolah selesai. “Ada jalurnya, dari kepala sekolah dulu, nanti dari pemkot juga akan turun. Hasilnya saat ini masih menunggu, karena masih diperiksa kepala sekolah,” bebernya.

Informasi yang dihimpun koran  ini, oknum guru FO pernah dimutasi dari sekolah lain ke SDN Karangayu 2 karena dugaan kasus yang sama. Disinggung informasi tersebut, Bunyamin mengaku belum mengetahui secara persis informasi yang ada, dan enggan berkomentar banyak.

“Memang sejak awal tidak ngajar di situ, tapi dari sekolah lain yang dimutasi. Nanti menunggu hasil pemeriksaan saja,” kilahnya.

Bunyamin mengaku sangat hati-hati dalam menangani kasus ini. Pasalnya, korban masih anak-anak. Namun ia menegaskan, jika FO terbukti bersalah, dipastikan akan ada sanksi tegas sesuai aturan tentang aparatur sipil negara (ASN). “Sanksinya nanti menunggu hasil pemeriksaan dan laporan yang di lapangan, karena PNS tentu sudah ada aturannya tentang ASN. Sanksinya ya sesuai tingkat pelanggaran yang dilakukan,” katanya. (mha/den/aro)