Kampanye Sosial lewat Tulisan

326
Dhyanara Novi Paramita (DOKUMEN PRIBADI)
Dhyanara Novi Paramita (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.COM – HOBI menulis sejak SMA, disadari oleh Dhyanara Novi Paramita memiliki manfaat yang besar. Tak hanya bagi dirinya, namun juga lingkungannya. Meski sejak SMP hingga SMA, ia terdidik secara Islami dalam pesantren, tidak lantas membuatnya menjadi penulis seputar keagamaan.

“Justru saya pikir sudah ada orang-orang yang berpikiran terkait Islam dan mendalami serta lebih pantas menuliskannya. Toh, isu di sekeliling saya khususnya secara sosial lebih banyak,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (13/3).

Dhyan –sapaan akrabnya– mengaku justru lebih mendalami isu sosial, namun cukup krusial berkaitan dengan perempuan. Sehingga tulisannya kini lebih mengarah ke arah kampanye sosial ketimbang keagamaan. Menurutnya, persentase tulisan agamanya hanya 0,5 persen saja.

“Sekarang lebih mengarah ke kampanye sosial, saya arahkan ke persoalan feminisme. Karena perempuan itu masih banyak yang menganggap dirinya lemah, tidak percaya diri, objek kekerasan, dan lainnya,” terang lulusan jurusan D3 broadcasting Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang yang kini tengah menempuh S1 Komunikasi.

Dara kelahiran Jogjakarta, 22 tahun lalu ini sering menggunakan kesempatan saat dirinya menjadi asisten dosen (asdos) untuk mengajak mahasiswa yang lain, khususnya perempuan, untuk lebih percaya diri. Menurutnya, perempuan tidak boleh hanya diam, namun harus berani mengutarakan pendapat. “Saya asdos di mata kuliah teknik penyajian dan wawancara, saya minta mahasiswa untuk menuliskan apa yang membuat mereka tidak pede di depan kamera maupun wawancara. Nah dari situ ketahuan, bahwa masalah yang paling banyak dihadapi ya kekurangan fisik,” jelas  presenter TVKU ini.

Lulusan PPMI Assalam ini mengatakan, membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa lepas. Kendati begitu, Dhyan mengaku tidak memiliki role model dalam menulis. Namun beberapa waktu terakhir ia sering membaca karya Seno Gumira Ajidarma. “Novel Seno Gumira ini gaya penulisannya mirip dengan saya,” ucapnya. (tsa/aro)