Hampir 100 Bayi di Wonogiri Mengalami Kekerdilan

227

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Wonogiri, Adhi Dharma menjelaskan, stunting menggambarkan adanya masalah gizi kronis. Dipengaruhi kondisi ibu atau calon ibu, masa janin, dan masa bayi atau balita. Termasuk penyakit yang diderita. Dari pendataan yang dilakukan DKK Wonogiri, sekitar 93 bayi mengalami stunting

“Balita pendek stunting menggambarkan adanya masalah gizi kronis,” terang Adhi Dharma kepada Jawa Pos Radar Solo, Rabu (14/3). 

PIntervensi gizi spesifik umumnya dilakukan di sektor kesehatan. Namun hanya berkontribusi sekitar 30 persen saja. Sementara sisanya merupakan kontribusi intervensi gizi sensitif yang melibatkan berbagai sektor.

“Sisanya seperti ketahanan pangan, ketersediaan air bersih dan sanitasi, penanggulangan kemiskinan, pendidikan, sosial, dan sebagainya,” jelas Adhi Dharma. 

Upaya intervensi gizi spesifik untuk balita pendek difokuskan pada periode waktu 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia 0-23 bulan. Karena penanggulangan balita pendek yang paling efektif dilakukan pada 1.000 HPK. 

Sementara itum Puskesmas Wonogiri 1 memberikan tablet penambah darah bagi 1.878 remaja putri di sekolah yang berada di wilayah Puskesmas Wonogiri 1. Tujuannya meningkatkan status gizi remaja. Sehingga dapat memutus mata rantai stunting, mencegah anemia, dan meningkatkan cadangan zat besi dalam tubuh.

“Akan kami berikan seminggu sekali setiap hari Rabu selama 4 bulan (16 minggu),” kata Kepala UPTD Puskesmas Wonogiri 1 Pitut Kristiyanta.

(rs/kwl/fer/JPR)

Silakan beri komentar.