Era Disrupsi : Akankah Profesi Akuntan Punah?

1078
Devitia Putri Nilamsari
Devitia Putri Nilamsari

RADARSEMARANG.COM, Disrupsi – fenomena dalam cakupan perubahan kehidupan manusia yang ditandai oleh perkembangan teknologi informasi yang tampak pula dari terciptanya berbagai inovasi, teknologi mutakhir dan bentuk bisnis baru. Bahkan kegemparan disrupsi diibaratkan seperti predator ganas yang siap untuk menghabisi mangsanya. Munculnya perubahan yang terjadi begitu cepat, seakan-akan memporak-porandakan struktur lama dan menciptakan sebuah struktur baru.

Tidak dapat dipungkiri, disrupsi menciptakan segala sistem yang terintegrasi dengan teknologi dan digitalisasi. Sebagai contoh, munculnya aplikasi-aplikasi digital yang marak saat ini seperti Grab atau Gojek yang memudahkan segala aktivitas mulai dari transportasi hingga pemesanan makanan. Atau ATM yang memudahkan nasabah untuk menyetor dan menarik uang tanpa harus ke bank. Aplikasi e-tol yang memudahkan pembayaran tol. Aplikasi travel agent yang menjadikan travelling kita mudah dan menyenangkan namun tetap dengan biaya yang terjangkau. Bahkan Artificial Intelligence yang merupakan sebuah mesin kecerdasan buatan yang dirancang untuk membantu melakukan pekerjaan manusia secara spesifik.

Apabila diperhatikan dengan seksama, ada banyak aplikasi berbasis teknologi yang muncul demi memudahkan aktivitas manusia. Meski hal tersebut juga menimbulkan gejolak terkait peran para profesi dibidang mereka masing-masing. Dengan kata lain, munculnya perubahan-perubahan yang mengarah pada hal yang inovatif, kreatif, cepat dan holistik tersebut akan menimbulkan ancaman bagi para profesional.

Karena itu tidak mengherankan jika para akuntan pun bertanya-tanya apakah perkembangan teknologi juga akan menjadi ancaman bagi profesi tersebut. Bahkan akankah profesi akuntan punah. Semua itu tentu bukan tanpa alasan. Munculnya aplikasi canggih (software) akuntansi memang seakan mengeliminasi peran para akuntan. Salah satunya adalah QuickBooks online. Yang menawarkan program sertifikasi yang membantu akuntan dalam mengambil dan melaporkan data secara real time. Kemudahan dan harga yang terjangkau membuat software ini membuat banyak pelaku bisnis tertarik untuk mengadopsinya. Akibatnya, banyak profesi akuntan yang cenderung merasa takut, cemas dan gugup untuk menghadapi gelombang disrupsi ini.

Itu sebabnya, untuk menghadapi era disrupsi, para akuntan dituntut untuk dapat menyelaraskan diri dengan perubahan-perubahan yang muncul. Ada harapan agar para akuntan mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya agar tidak lagi hanya sekedar bisa melakukan inputing data dan membuat pelaporan keuangan. Namun mereka harus fleksibel dalam menanggapi hal-hal baru dan menjadikan teknologi sebagai alat bantu untuk berubah dan berkembang secara efektif.

Selain itu, lebih memperkuat dan mengembangkan kemampuan analisis baik secara fundamental maupun teknikal. Akuntan juga diharapkan dapat membawa diri berperan sebagai seorang adviser dan decision maker. Sehingga sekaligus bisa berperan untuk menguraikan, menganalisis dan memantau kesehatan keuangan bisnis sebuah perusahaan. Begitu pula auditor yang memainkan perannya sebagai pakar yang terpercaya dalam melakukan audit dan memilah-milah masalah terkait peraturan kompleks lainnya. Melalui cara-cara inilah akuntan dapat mempertahankan eksistensinya. Sehingga dunia bisnis tetap mengandalkan para akuntan. Dan tidak sekedar menyerahkan pekerjaan pembukuan kepada mesin yang sekedar hanya mampu mengolah data.

Kemampuan untuk bertahan dalam era disrupsi ini tak lepas pula dari peran perguruan tinggi yang menjadi akar pendidikan. Mengapa demikian? Karena perguruan tinggi merupakan wadah untuk mempersiapkan, mendidik, membentuk, dan mengembangkan para calon akuntansi. Sehingga diharapkan dapat membantu anak didiknya dalam menghadapi dinamika disrupsi.

Karenanya, sejak awal, perguruan tinggi harus mempersiapkan anak didiknya dalam menghadapi dunia kerja yang sangat turbulence. Pengembangan pengetahuan dan keterampilan baik secara hard skill maupun soft skill sangat dibutuhkan. Perguruan tinggi dapat membiasakan pembelajaran dalam bentuk praktik langsung ke lapangan sehingga dapat mengetahui keadaan sebenarnya, menekankan pada kemampuan penerapan pengetahuan berbasis teknologi, memancing mereka untuk dapat berpikir out of the box, dan mengutamakan pembelajaran yang arahnya pada practical analysis. Ibaratnya, seorang calon akuntan tidak hanya mahir dalam menghitung dan membuat laporan keuangan tetapi juga harus dapat melakukan analisis laporan keuangan sehingga ia dapat memprediksi, mengkomunikasikan dan mampu mengambil keputusan yang tepat bagi pihak-pihak yang bersangkutan.

Dengan demikian, punah atau tidaknya profesi akuntan saat ini tergantung dari bagaimana mereka mempersiapkan diri untuk menerima perubahan. Para akuntansi harus menentukan cara untuk dapat bertahan di era ini. Salah satu kuncinya adalah dengan beradaptasi terhadap setiap perkembangan dinamika disrupsi. Karena, bagaimanapun, siapa yang tidak mampu menyesuaikan diri atau menciptakan sesuatu yang baru harus bersiap-siaplah untuk tertinggal dan bahkan kehilangan eksistensinya. (*)