Sudah Koleksi 200 Piala, Idolakan Ganjar Pranowo

Tiga Bersaudara  Warga Jomblang, Semarang, Juara Olimpiada Matematika Internasional

547
JAGO MATEMATIKA: Rio, Rico dan Rillo bersama kedua orangtuanya, David Anwar dan Desy Armalina. (DOKUMEN PRIBADI)
JAGO MATEMATIKA: Rio, Rico dan Rillo bersama kedua orangtuanya, David Anwar dan Desy Armalina. (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.COM – Pasangan suami istri (pasutri), David Anwar dan Desy Armalina pantas berbangga. Sebab, ketiga putranya ternyata jago matematika. Bahkan, saat olimpiade matematika internasional di Bangkok, Thailand, Februari lalu, ketiganya meraih medali. Seperti apa?

JOKO SUSANTO

ANAK adalah anugerah Tuhan yang sangat berharga. Apalagi jika dianugerahi kecerdasan yang super. Seperti yang dirasakan David Anwar dan Desy Armalina. Pasutri yang tinggal di Jalan Tanah Putih 2 No 10  RT 6 RW 2, Kelurahan Jomblang, Kecamatan Candisari, Semarang ini dianugerahi tiga anak yang jenius di bidang matematika.

Ketiganya adalah Kevan Vallerio Anwar (Rio), 11;  Brian Alvarico Anwar (Rico), 8, dan Dilan Cyrillo Anwar (Rillo), 6. Rio dan Rico saat ini tercatat sebagai siswa kelas VI dan III SDIT Hj Isriati Baiturrahman Semarang. Sedangkan si bungsu, Rillo, masih duduk di TK B Hj Isriati Baiturrahman, dan siap masuk SD tahun ini.

Ketiga anak yang biasa disapa 3R ini pada 20-23 Februari lalu berhasil meraih medali dalam event Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO) di Bangkok. Rio berhasil membawa pulang medali perunggu, Rico mendapat juara harapan, sedangkan Rillo mendapat medali perak.

Menurut ibunda 3R, Desy Armalina, dalam olimpiade tersebut sebenarnya Rillo hanya ikut mengantar saja, dan tidak berniat mengikuti kompetisi tersebut. Namun saat sampai di lokasi kompetisi, ternyata belum ada peserta dari Indonesia untuk tingkat Taman Kanak-Kanak (TK).  Akhirnya, Desy mendaftarkan Rillo, yang kebetulan suka mata pelajaran matematika sekalipun masih duduk di bangku TK. “Ini olimpiade pertama yang diikuti Rillo. Alhamdulillah mendapat medali perak. Padahal awalnya cuma ikut menemani dua kakaknya,” jelas Desy Armalina kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (12/3).

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) ini mengatakan, sebelumnya Rio kerap mewakili Indonesia bersama ratusan siswa lain dari seluruh Indonesia dalam olimpiade matematika tingkat internasional. Di antaranya, The Asia International Mathematical Olympiad Open Contest Trial (AIMO OPEN) pada 2016, dan berhasil menyabet medali perunggu.

Pada 2017, Rio mendapat juara harapan enam saat mengikuti American Mathematics Olympiad (AMO). Selain itu, Rio bersama adiknya, Rico, pernah mengikuti ajang Singapore & Asian Schools Math Olympiad (SISMO), yang mendapat peringkat dua dan lima. Rico juga pernah meraih medali perunggu dalam ajang Singapore Internatioal Math Olympiad Challenge (SIMOC) 2017.

Desy mengakui, kemampuan matematika Rio dan Rico sudah mulai tampak sejak kelas 1 SD. Saat itu, dikatakannya, Rio mulai sering menunjukkan kemampuannya memenangi banyak kompetisi matematika, sains, Bahasa Inggris dan lainnya di tingkat lokal. Setelah itu, Rio mulai menjuarai berbagai olimpiade matematika di tingkat regional, nasional hingga internasional.

“Rio juga ikut kelas sempoa di luar sekolah. Metode hitung-menghitung tersebut semakin merangsang kemampuannya. Adik-adiknya pun sering menemani sang kakak mengikuti setiap kompetisi, akhirnya saling memberikan prestasi,”ungkapnya.

Saat ini, sedikitnya 200 piala dari berbagai perlombaan telah dikoleksi. Bahkan tiga almari di rumahnya penuh sesak piala dari ketiga anaknya. Sebagian piala babkan harus ditempatkan di ruangan atas rumahnya.

“Kami sering belajar di perpustakaan mini di lantai dua. Pertama memang suka ikut-ikutan lomba gitu dari kecil, kepingin mencoba kemampuan setelah itu menang. Kalau paling seneng, saat mengikuti olimpiade matematika di Thailand, karena mendapat medali perunggu,”ucap Rio.

Atas prestasi anaknya tersebut, lanjut David Anwar, Rio pernah ditawari salah satu organisasi dari Malaysia untuk mengikuti olimpiade matematika internasional menggunakan bendera Malaysia. Namun tawaran itu ditolaknya, karena tak sesuai dengan hati nuraninya.

Diceritakan, kejadian itu dialami pada 2016 saat Rio mampu menembus olimpiade AIMO. Dalam peraturannya, peserta yang lolos harus dikarantina di Bogor tanpa didampingi orang tua sebelum berangkat pada babak final di Hongkong. Namun peraturan itu hanya berlaku pada kontestan Indonesia.

Nah saat itulah ada dari organisasi Malaysia menawari bila Rio bisa didampingi orang tua. Dengan syarat, mengikuti olimpiade mewakili Malaysia,”kenang Desy.

Yang menarik, idola ketiganya ternyata sama, yakni Gubernur Jateng nonaktif, Ganjar Pranowo. Bahkan hingga saat ini, ketiganya masih berharap besar bisa bertemu dengan gubernur berambut putih tersebut.

David menyampaikan, saat Ganjar kali pertama dilantik sebagai Gubernur Jateng pada 2013, ketiga anaknya rela menunggu di luar ruangan, walau akhirnya tak kesampaian bertemu. “Dulu tidak bisa masuk ke dalam kantor gubernur. Akhirnya, kami membeli PIN sebagai tanda agar dapat melihat beliau. Karena tetap tidak bisa bertemu, akhirnya anak-anak sekadar berfoto di depan mobil dinas gubernur,”kenangnya sambil tersenyum. (*/aro)