Meta Tewas setelah Ditusuk 4 Kali

Reka Ulang, Warga Caci Maki Tersangka Lina

635
REKA ULANG: Tersangka Sarkoni Rifai alias Rembulan dan Yuliana Anggraini alias Lina memeragakan adegan saat datang ke rumah korban mengendarai motor Honda Supra nopol H 2560 BY. (kanan) Ibunda korban Meta Novita Handhayani, Kustantoniah, tampak sedih saat menyaksikan reka ulang. Inzet: Tersangka Yuliana Anggraini. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
REKA ULANG: Tersangka Sarkoni Rifai alias Rembulan dan Yuliana Anggraini alias Lina memeragakan adegan saat datang ke rumah korban mengendarai motor Honda Supra nopol H 2560 BY. (kanan) Ibunda korban Meta Novita Handhayani, Kustantoniah, tampak sedih saat menyaksikan reka ulang. Inzet: Tersangka Yuliana Anggraini. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG Pembunuhan sadis terhadap Meta Novita Handhayani, 38, warga Ngaliyan, Semarang, kemarin (12/3) direka ulang oleh petugas Polsek Ngaliyan. Rekonstruksi menghadirkan kedua tersangka, Sarkoni Rifai alias Rembulan, 23, dan Yuliana Anggraini alias Lina, 16. Pasangan kekasih ini tampak tenang saat memeragakan sedikitnya 36 adegan.  Reka ulang yang dimulai pukul 13.30 itu dilakukan di rumah korban di Jalan Bukit Delima B9 No 17 RT 03 RW 08, Kompleks Perumahan Permata Puri, Ngaliyan, disaksikan puluhan warga, termasuk Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Semarang.

Rekonstruksi diawali saat Rifai memboncengkan Lina turun dari motornya, dan parkir di depan rumah Sutarno. Saat itu, tak jauh dari lokasi, duduk dua warga, yakni istri Sutarno dan tetangganya, Puji.  Dua saksi ini sebelumnya melihat kedua tersangka mondar-mandir mengendarai sepeda motor. Setelah parkir, Rifai dan Lina berjalan menuju rumah Meta. Karena dianggap tamu biasa, istri Sutarno dan Puji masuk ke rumah masing-masing.

Tak berselang lama, Lina yang kemarin mengenakan penutup wajah kembali ke tempat sepeda motor Honda Supra nopol H 2560 BY diparkir. Namun tak berapa lama, ia kembali menyusul Rifai yang masuk ke dalam rumah Meta. Rupanya saat itu Rifai membuntuti Meta yang masuk ke dalam rumah hendak mengambil es batu di dalam kulkas. Begitu ada kesempatan, Rifai langsung membekap korban dari belakang hingga terjatuh.

Seketika itu, korban teriak.  Karena panik, Lina bergegas keluar rumah  dan kabur. Sedangkan di dalam rumah, korban yang terjatuh di lantai ruang tengah langsung ditusuk Rifai dengan senjata tajam hingga empat kali. Setelah tak bernafas, tubuh korban diseret ke dalam kamar.

Reka adegan selanjutnya saat aksi tersangka hendak membunuh putra bungsu korban, Ronako, 4, dengan dibekap guling. Namun aksinya keburu  tepergok empat mahasiswa UIN Walisongo yang kontrak di samping rumah korban bersama dua warga lainnya. Selanjutnya, tersangka kabur dengan motor Honda Supra yang sempat dipotret dengan kamera HP oleh salah satu mahasiswa.

Jalannya rekonstruksi kemarin dijaga ketat petugas Polsek Ngaliyan. Warga hanya diperbolehkan menyaksikan di luar police line. Saat melihat kedua tersangka, warga sempat melontarkan caci maki, utamanya kepada Lina yang tak lain adalah mantan Pembantu Rumah Tangga (PRT) korban. “Itu yang perempuan ditembak kakinya sekalian. Gak usah pakai penutup kepala, orang-orang juga sudah melihat wajahnya,” teriak seorang perempuan.

Kapolsek Ngaliyan, Kompol Donny Eko L, mengatakan, tersangka menjalani rekonstruksi dengan aktif sejak awal hingga akhir. Setidaknya, ada 36 adegan yang diperagakan oleh kedua tersangka. “Saat penusukan terhadap korbannya di adegan ke-21. Dari kronologisnya, korban dibekap dari belakang lalu jatuh kemudian ditusuk. Waktu dibekap, korban belum meninggal,” jelasnya.

Donny membeberkan, dari keterangan tersangka, aksi pembunuhan itu sudah direncanakan sehari sebelumnya. “Rekonstruksi ini untuk melengkapi pemberkasan. Besok secepatnya kita serahkan ke kejaksaan. Ini yang kita utamakan penanganan tersangka di bawah umur, karena terbatas waktu penanganannya,” katanya.

Emi Hidayati, adik korban, mengaku hingga kini, keponakannya, Ronako, masih trauma dengan kejadian yang menimpa ibunya. “Kalau anak pertama dan kedua sudah agak besar, sudah lebih kuat. Kalau yang kecil itu masih trauma. Sekarang ikut bapaknya di Jakarta. Kemarin saja sempat lari-lari sambil bilang ke mbahnya. ‘Mbah itu ada orang jelek, saya nanti ditangkap, dirampok,” cerita Emi di sela reka ulang, kemarin.

Dia mengatakan, Ronako telah dibawa ke psikolog untuk menghilangkan rasa trauma. Namun hal tersebut belum sepenuhnya mengobati rasa trauma yang dialaminya. Ia tak menyangka kakak kandungnya telah meninggal secara tragis. Bahkan, keluarganya, termasuk ibunya, Kustantoniah,  masih belum percaya Meta telah meninggal dengan cara dibunuh. “Keluarga shock berat, saya sampai sekarang juga gak nyangka kalau sampai terjadi seperti itu. Cuma kesalahan gitu aja kok sampai membunuh,” ujarnya.

Emi membeberkan, kakak kandungnya tersebut termasuk perempuan yang ramah. Kepada para pembantunya, juga tidak pernah kasar. Dia juga tidak eman memberikan sesuatu kepada para pembantunya. “Lina itu cuma diingetin supaya tidak pacaran di rumah, apalagi di sini tidak ada suami Mbak Meta, gak ada cowok, jadi takut. Cuma diingetin jangan pacaran,” terangnya.

Kepergian Meta mengingatkan Emi akan masa lalunya ketika masih kecil hingga masa-masa kuliah. Menurutnya, Meta adalah kakak kandung satu-satunya yang supel dan banyak memiliki teman. “Saya sangat kehilangan, dia itu kakak saya satu-satunya, dari kecil bareng, sampai kuliah juga bareng, kos juga bareng. Sekarang sudah tidak ada saudara,” kenangnya dengan mata sembab.

Kustantoniah, ibunda Meta juga tak kuasa menahan kesedihannya. Ia beberapa kali mengusap air matanya dengan tissu saat melihat reka ulang kemarin. “Semoga pelaku mendapat hukuman berat, jangan hukuman ringan,” harapnya. (mha/aro)