Makanan Organik Bisa Menjadi Murah

299
Oleh: Budi Nuryani
Oleh: Budi Nuryani

RADARSEMARANG.COM – APA itu “makanan organik”? Sekilas, kita pasti berpikir makanan organik harganya mahal. Dalam konteks masyarakat saat ini yang sudah sadar betapa pentingnya menjaga kesehatan dan pola makan, makanan organik mulai banyak digemari. Sebaliknya, bagi yang belum paham kandungan gizi makanan organik, tentu kurang suka.

Penulis bersyukur, masyarakat saat ini mulai sadar bahaya akibat pemakaian bahan sintetis dalam produk pertanian. Masyarakat semakin arif memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Maka, gaya hidup sehat berslogan back to nature telah menjadi trend kekinian.

Lantas, apa sebenarnya makanan organik? Mengapa makanan organik bisa mahal? Padahal, di satu sisi, Indonesia yang notabene berada di garis khatulistiwa, tanahnya cukup subur.

Makanan organik sendiri merupakan jenis makanan yang bebas dari penggunaan bahan kimia pupuk dan kimia pestisida. Pertanian organik merupakan kegiatan bercocok tanam yang ramah lingkungan. Pertanian jenis ini berusaha meminimalisasi dampak negatif bagi alam sekitar. Karenanya, hasil pertanian organik sangat sehat.

Di Indonesia, makanan organik menjadi mahal karena berbagai sebab. Pertama, tidak banyak petani yang paham bertanam organik. Sebagian besar petani memiliki lahan cukup luas. Hanya saja, mereka menggarap lahan pertanian untuk kehidupan sehari-hari.

Yang terjadi, petani menggunakan cara pemeliharaan tanaman dengan memanfaatkan pupuk maupun pestisida kimia. Mereka tidak menggunakan cara-cara pengendalian hama dan penyakit yang alami. Karena memang pembuatan pestisida berbahan alami, saat ini sulit dicari bahan bakunya. Selain itu, efeknya juga tidak membunuh. Tetapi, hanya mengusir atau mengendalikan saja.

Sedangkan pemakaian pupuk kimia lebih mudah dicari. Satu sisi, respons pupuk anorganik bagi tanaman kecenderungannya juga lebih cepat. Padahal, efek bahan kimia sangat berbahaya, jika penggunaannya tidak tepat. Di antaranya: memadatkan tanah, meracuni tanaman, dan lingkungan. Sebab, bahan kimia sulit terurai.

Penggunaan bahan kimia yang tidak sesuai dosis, menyebabkan banyak masalah bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Jika masalah ini terus-menerus terjadi, maka lingkungan pertanian Indonesia akan semakin rusak. Produk pertanian pun semakin tidak sehat

Nah, bagi petani yang paham cara bertanam organik, mereka bisa saja mengatakan bahwa bertanam organik syaratnya banyak. Di antaranya, butuh dana banyak untuk membuat pupuk dan pestisida alami. Juga butuh lokasi atau lahan yang steril dari bahan- bahan kimia.

Jika lahan pernah dipakai untuk budidaya tanaman anorganik, maka lahan harus dikonversikan terlebih dahulu. Misalnya, untuk tanaman semusim butuh waktu 2 tahun, sedangkan tanaman tahunan 3 tahun. Jika konversi tidak bisa dilakukan, maka syarat penanaman dengan tanaman lain yang anorganik harus jauh. Pengelolaan pengairan juga harus dijauhkan dari air yang mengandung kimia.

Para petani sebenarnya mampu dan mau mengembangkan teknologi pertanian organik. Hanya saja, mereka perlu dukungan kebijakan yang pas bagi mereka. Petani butuh rangsangan yang dapat menyakinkan bahwa bertani secara organik mudah dan lebih aman. Caranya, dengan memberikan pengetahuan melalui pelatihan-pelatihan dibidang pertanian organik oleh lembaga – lembaga terkait yang berwenang dan berkompeten.

Dalam mendorong penggunaan pupuk organik, misalnya, pemerintah perlu mengalihkan subsidi pupuk anorganik ke subsidi pupuk organik. Sehingga pupuk organik menjadi murah. Petani juga membutuhkan ilmu pemasaran yang menjanjikan di bidang pertanian organik. Rantai ini bisa teratasi, dengan menggunakan lembaga koperasi erbadan hukum . Di era digital, penerapan teknologi informasi berbasis digital di bidang pertanian, akan menjadi solusi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani. Semua menjadi lebih cepat dan lebih efisien.

Upaya yang juga penting adalah memotivasi generasi muda yang berminat belajar pertanian, agar setelah lulus berkomitmen pengelola lahan pertanian organik karena menjanjikan. Semua manusia butuh makan. Semakin banyak produksi pertanian organik yang dihasilkan, maka harga produksi pertanian organik jadi semakin murah. Dan, masyarakat Indonesia akan lebih sehat. Semoga. Amin. (*/isk)

Guru SMK 1 Salam, Kab. Magelang