Lagi-Lagi Pekerja Diberi Janji

136

KUDUS – Kegaduhan terjadi di halaman Lingkungan Industri Kecil (LIK) Desa Megawon, Kecamatan Jati, kemarin (12/3). Sekitar seribu pekerja PR Gentong Gotri menuntut pesangon. Sebab, sejak 2016 lalu hingga sekarang mereka belum mendapatkan.

Sebelumnya, PR Gentong Gotri memutus hubungan kerja dengan karyawan sejak 26 Januari 2016. Tidak jelas penyebabnya. Diperkirakan perusahaan rokok ini mengalami kebangkrutan. Untuk itu, sekitar 1.151 pekerja di-PHK. Dengan rincian pekerja bulanan, borongan, dan harian.

Semestinya, pihak perusahaan memberikan pesangon. Uang tersebut rencananya diberikan pada 31 Desember 2017. Namun, hingga kemarin belum dibayarkan. Padahal, pabrik Gentong Gotri unit Kudus di perempatan Sleko sudah dijual.

Dalam mediasi kemarin, hadir Direktur PT PR Gentong Gotri Budi Hartanto dan kuasa hukumnya William Tutoarima. Hadir pula kuasa hukum pekerja Daru Handoyo, dan perwakilan dari Dinas Tenaga Kerja Perindustrian Koperasi dan UKM.

Sutinah, salah satu pekerja menyetop William untuk menagih uang pesangon. Dia marah karena haknya tidak diberikan. ”Bapak harus tahu nasib orang miskin. Kami sudah tidak ada pekerjaan, juga tak dapat pesangon,” katanya.

Kuasa hukum pekerja Daru Handoyo mengaku, dalam mediasi kali ini, PT Gentong Gotri  siap memberikan pesangon pekerja. Pihak perusahaan juga akan memberikan santunan kematian 19 karyawan borong dan harian. Namun, semua itu menunggu aset perusahaan di Semarang.

”Kami mau menuntut ya bingung, mereka tidak ada uang. Sedangkan tuntutan kami ada Rp 41 miliar. Untuk itu, kami minta komitmen perusahaan untuk mengganti. Dan perusahaan kooperatif,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya akan membantu menjual aset perusahaan di Semarang. Diperkirakan harganya sekitar Rp 200 miliar. ”Nanti kami mencoba membantu menjualkan. Kami juga ada relasi. Sebab, saya yakin hasil penjualan mampu menutup pesangon untuk pekerja,” jelasnya.

Daru meminta perusahaan untuk memberikan tunjangan hari raya (THR) kepada karyawan. Dengan begitu pekerja dapat menikmati THR tahun ini.

Kuasa hukum perusahaan rokok 1947 ini William Tutoarima menjanjikan akan memberikan hak pekerja. Namun, dia meminta agar pekerja bersabar. ”Kami ini bangkrut. Kami tidak bisa produksi lagi. Pekerja sudah tidak kami pekerjakan. Kira-kira uang dari mana untuk beri pesangon?” tanyanya di depan pekerja.

Sedangkan Budi Hartanto memilih memisah dari kerumunan dan menghindar. Dia tidak mau memberikan keterangan terkait pesangon karyawan. ”Tadi sudah dijelaskan kuasa hukum saya,” katanya.

(ks/mal/lil/ris/aji/JPR)

Silakan beri komentar.