RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Sebuah makam seluas kurang lebih 5.300 meter persegi yang tergusur pembangunan Jalan Tol Semarang-Batang, tepatnya di dekat terowongan Plampisan, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, segera dilakukan pembongkaran untuk dipindahkan atau relokasi.

Penggusuran makam tersebut sempat terjadi pro-kontra warga sekitar. Sebagian warga ada yang melakukan penolakan. Namun, saat ini pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN) selaku tim pembebasan lahan mengeklaim telah disetujui warga setempat.

“Makam tersebut akan segera direlokasi atau dipindahkan. Rabu lalu (11/3) lalu, kami mengundang Paguyuban Makam Ngaliyan-Purwoyoso. Intinya, dulu kan ada penolakan, tapi sekarang sudah tidak ada yang keberatan. Untuk tanah penggantinya saat ini baru dilakukan appraisal,” kata Kepala Sub Seksi Pengaturan Tanah Pemerintah Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Semarang, B Wibowo Suharto, Minggu (11/3) kemarin.

Dijelaskannya, pembebasan lahan termasuk penggantian lahan jalan tol saat ini telah mencapai 98 persen. “Tinggal 2 persen. Sisa tersebut terkait sejumlah tanah wakaf, jumlahnya 15 bidang tanah wakaf di Kecamatan Ngaliyan dan Semarang Barat. Semuanya masih dalam proses,” katanya.

Mengenai rencana pemindahan makam tersebut, pihaknya mengaku belum bisa menyebut kapan waktunya. Namun segera dilakukan, mengingat proses pembangunan jalan tol juga telah berlangsung. “Bukan masalah kapannya, posisi sekarang baru dilakukan appraisal. Lokasi tanah pengganti sudah tidak keberatan, tanahnya digunakan untuk relokasi makam,” katanya.

Selain makam yang dikelola oleh Paguyuban Makam Ngaliyan-Purwoyoso, terdapat satu lagi lahan makam yang termasuk benda wakaf tak jauh dari lokasi makam tersebut. “Tapi tanah makam wakaf tersebut belum digunakan untuk pemakaman,” katanya.

Tanah wakaf 15 bidang tersebut termasuk salah satunya, Masjid Jami Baitul Mustaghfirin di Kelurahan Tambakaji, Ngaliyan, Kota Semarang yang saat ini masih berdiri membelah di tengah jalan tol. “Pengganti masjid itu saat ini sudah ada dan sudah dibangun,” katanya.

Sedangkan lahan milik warga yang masih sengketa adalah milik Sri Urip. “PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) sudah mengirimkan surat untuk Pengadilan Negeri Semarang untuk permohonan pengosongan lahan. Saat ini sedang menunggu jawaban terkait pengosongan lahan tersebut,” katanya.

Dijelaskannya, pembebasan lahan wakaf tersebut berlarut-larut dan tak kunjung selesai karena memang harus melewati regulasi Undang-Undang (UU) Wakaf dan Peraturan Pemerintah (PP) Perwakafan yang membutuhkan proses panjang. Salah satunya mensyaratkan bahwa pengganti benda wakaf yang terkena dampak untuk kepentingan umum tersebut harus berupa pengganti lahan. Artinya, tidak boleh dalam bentuk uang.

Prosesnya mulai dibentuk tim penilai pengganti benda wakaf yang dibentuk menggunakan dasar SK Wali Kota. Kemudian wali kota membuat SK kesepakatan tanah pengganti wakaf yang telah disiapkan. Penggantian itu harus mendapatkan izin dari Menteri Agama setelah mendapatkan rekomendasi dari Badan Wakaf Indonesia dan Menteri Agama.

Seperti diketahui, pembangunan Jalan Tol Batang-Semarang ini terdiri atas lima seksi, yakni seksi I; Batang-Batang Timur sepanjang 3,5 kilometer, seksi II; Batang Timur-Weleri sepanjang 33,84 kilometer, dan seksi III; Weleri-Kendal 14,65 kilometer. Berikutnya adalah seksi IV; dari Kendal-Kaliwungu sepanjang 12,10 kilometer, dan seksi V Kaliwungu-Krapyak sepanjang 10,05 kilometer. Totalnya, proyek Jalan Tol Batang-Semarang ini kurang lebih sepanjang 74 kilometer. (amu/ida)