Beginilah Penjelasan DLH soal Anggaran Pengembangan TPA

107

Kepala DLH Kabupaten Rembang Suharso menjelaskan, paling utama dalam pengembangan TPA memang perluasan lahan. Lahan TPA diperluas dari tiga menjadi lima hektar.

”Lahan yang sekarang sudah penuh dengan sampah. Untuk perluasan, sudah ada pengukuran lahan. Tahun ini kita selesaikan,” jelasnya.

Perluasan lahan itu menentukan pengembangan lainnya. Yakni, pengolahan sampah dengan sistem sanitary landfill. Karena sistem tersebut membutuhkan lubang yang dalam untuk menampung sampah.

Dalam sistem tersebut, sampah-sampah non-aktif yang sudah tertimbun lama akan diolah menjadi gas metan. Gas metan itulah yang bisa dimanfaatkan masyarakat menggantikan elpiji.

Suharso sendiri belum bisa memastikan apakah  pemanfaatan gas metan oleh masyarakat itu berbayar atau tidak. Yang jelas tujuan pengolahan sampah menjadi gas metan memang agar bisa dimanfaatkan warga.

Untuk perancangan sistem tersebut, DLH sudah berkonsultasi dengan beberapa ahli dari perguruan tinggi di Malang. ”Di TPA itu ada sampah aktif dan non-aktif. Yang aktif bisa dimanfaatkan lagi. Yang tidak aktif ini ditimbun untuk gas metan,” imbuhnya.

Sektor lain yang menjadi fokus dalam pengembangan TPA adalah kelengkapan sarana dan prasarana. Terutama alat berat. DLH sendiri baru mempunyai satu unit buldoser. Itu pun kondisinya sempat rusak. Pengadaan alat berat baru tetap diupayakan dengan menyesuaikan anggaran yang ada. 

(ks/ali/lid/top/JPR)

Silakan beri komentar.