49 Santri Ikuti Ujian Akhir

280
​ SERIUS: 49 Santri di Ponpes APIK Kaliwungu mengikuti UAPDFBN untuk mendapatkan ijazah setara SMA. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
​ SERIUS: 49 Santri di Ponpes APIK Kaliwungu mengikuti UAPDFBN untuk mendapatkan ijazah setara SMA. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, KENDAL – Sebanyak 49 santri di Pondok Pesantren (Ponpes) APIK, Kaliwungu mengikuti Ujian Akhir Pendidikan Diniyah Formal Berstandar Nasional (UAPDFBN). Dengan mengikuti ujian ini, para santri tidak perlu lagi sekolah disekolah formal atau mengikuti ujian kejar paket untuk mendapatkan ijazah formal. Sebab hasil UAPDFBN ini setara dengan ijazah formal.

Namun ujian ini tidak bisa digelar seluruh Ponpes Salaf di Kendal. Yakni hanya pesantren yang sudah terdaftar di Pendidikan Diniyah Formal (Pendif) di Kementrian Agama.  Pengurus Ponpes Apik Kaliwungu Kendal, KH Fadlullah Turmudzi mengatakan jika di Indonesia ini baru ada 14 Ponpes salaf yang dapat menggelar UAPDFBN.

Dari 14, baru dua ponpes di di Jateng. Yakni Pondok Pesantren Apik Kaliwungu Kendal dan  Pondok Pesantren Al Mubaroq Wonosobo. UAPDFBN atau lebih dikenal dengan istilah Imtihan Wathani dikalangan santri ini sederajat dengan sekolah menengah atas (SMA). “Dengan ujian ini santri nantinya tidak perlu mengikuti ujian kejar paket c untuk bisa mendapatkan ijasah formal,” katanya, kemarin.

Santri yang sendiri sudah mengenyam pendidikan di Ponpes karena sudah ada Pendif dianggap sama ijazah dengan lulusan SMA. “Sebelumnya tidak bisa, jadi santri yang mondok dulunya harus sekolah lagi atau ikut ujian kejar paket C, “ jelasnya.

Sementara itu Kabid Pendidikan Diniyah Pondok Pesantren, Kanwil Kementrian Agama Propinsi Jawa Rengah, Achyanni mengatakan ujian ini merupakan yang pertama digelar. “Harapanya dengan ujian ini memberikan motivasi kepada masyarakat untuk tidak ragu memasukkan anaknya di Ponpes Salaf. Juga bagi santri untuk bisa melanjutkan ke tingkat perngguruan tinggi,” ujarnya.

Dikatakan, jika dulu pendidikan diniyah formal belum bisa diukur secara nasional. Maka dengan ujian ini sudah bisa disetarakan dengan lulusan tingkat SMA. Pendidikan diniyah formal sendiri merupakan bagian dari upaya peningkatan kapasitas lembaga dunia pesantren. Disamping sebagai pengembangan dispilin ilmu keagamaan islam.

Dalam ujian kali ini pengawasan dilakukan oleh pondok pesantren dengan dibimbing dari kementrian agama. Sedangkan soal yang diberikan kepada santri berstandar nasional.  (bud/bas)

Silakan beri komentar.