Masyarakat Lebihi Kapasitas, Atlet Terganggu

GOR Tri Lomba Juang antara Prestasi dan Rekreasi

187
LATIHAN : Para atlet cabang olah raga atletik melakukan latihan fisik rutin untuk menghadapi Porprov Jateng yang akan dilaksanakan di Surakarta pada Oktober 2018 mendatang. (ADITYO DWI RIANTOTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
LATIHAN : Para atlet cabang olah raga atletik melakukan latihan fisik rutin untuk menghadapi Porprov Jateng yang akan dilaksanakan di Surakarta pada Oktober 2018 mendatang. (ADITYO DWI RIANTOTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Gedung Olahraga (GOR) Tri Lomba Juang (TLJ), Mugas ini, telah menjadi kebanggaan masyarakat dan para atlet Kota Semarang sejak resmi dibuka Selasa (9/1) silam. Namun masyarakat ingin leluasa berolahraga dan berwisata di GOR. Demikian halnya para atlet juga ingin fokus latihan tanpa gangguan agar mencetak prestasi. Seperti apa pemerintah mengaturnya?

SEBAGIAN masyarakat tampak memadati GOR TLJ yang masih baru tersebut, pada sore hari. Sebagian ada yang memang melakukan jogging, sebagian ada yang menikmati suasana GOR yang membanggakan, sebagian lagi asyik melakukan selfie ria dengan sesama rekannya dan sebagian kelompok lagi latihan olahraga atletik serius untuk persiapan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jateng.

Ikun warga Telogosari mengaku senang dengan kondisi GOR yang sekarang bagus. Dia dan komunitasnya pecinta olahraga tiap pagi rutin berolahraga di GOR TLJ, mulai olahraga lari hingga badminton. “GOR yang dibuka untuk umum, berarti pemerintah juga menyehatkan masyarakatnya. Kami jadi senang berolahraga di GOR TLJ,” tuturnya.

Berbeda lagi dengan Septiadi, warga Banyumanik. Tiap sore dirinya bersama rekan sejawat kerap memanfaatkan waktu berolahraga lari di lintasan atletik GOR TLJ. Namun dirinya jengah, jadwal dibukanya GOR untuk masyarakat kerap berubah-ubah. Awal-awal, masyarakat umum bisa memanfaatkan GOR tanpa batasan jam, tapi semakin kesini dibatasi mulai pukul 06.00-11.00.

ASYIK JOGGING : Masyarakat Kota Semarang melakukan jogging di GOR Tri Lomba Juang, Jumat (13/3) kemarin. (AFIATI STALISTATI/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
ASYIK JOGGING : Masyarakat Kota Semarang melakukan jogging di GOR Tri Lomba Juang, Jumat (13/3) kemarin. (AFIATI STALISTATI/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

“Masyarakat luas umumnya bisa memiliki waktu luang untuk olahraga dan berwisata, kalau sore hari. Kalau dibuka hanya pagi hari, hanya orang-orang tertentu yang bisa memanfaatkannya. Yang lain sibuk kerja,” keluhnya.

Dirinya juga tidak menampik GOR tersebut untuk latihan para atlet yang butuh waktu latihan dan konsentrasi tanpa terganggu. “Saya berharap, pemerintah memfasilitasi keduanya. Baik masyarakat yang bangga dengan GOR yang sekarang keren, tapi juga memfasilitasi para atlet untuk berprestasi,” harapnya.

Tapi dia tidak setuju jika ada batasan jam, baik untuk atlet maupun masyarakat. “Kami berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang membangun GOR TLJ dengan bertingkat, lantai bawah untuk masyarakat, lantai atas untuk atlet. Atau membangun GOR lagi yang representatif di tempat lain, khusus untuk atlet agar bisa mengukir prestasi,” harapnya.

Lain halnya dengan Pelatih Pandanaran Athletic Club Semarang, Paryanto, 49, ditemui Jawa Pos Radar Semarang di GOR Tri lomba Juang, Jumat (9/3) kemarin. Pria yang telah menjadi pelatih di cabang olahraga atletik selama 21 tahun ini mengaku senang dengan diselesaikannya lapangan atletik bertaraf internasional tersebut. Menurutnya, kondisi lapangan ini jauh lebih baik dan lebih mumpuni dibandingkan lapangan yang sebelumnya.

“Sekarang ini masih bagus, tapi kalau dibiarkan apalagi beberapa dari mereka (masyarakat umum) tidak menggunakan sepatu standar untuk olahraga. Lapangan bisa jadi gundul atau halus,” ungkapnya.

Saat berbincang dengan Koran ini, Paryanto yang mengenakan celana training hitam dan berbaju putih ini membeberkan jika saat ini dirinya sedang memantau para atlet yang dalam persiapan Porprov Jateng, Oktober 2018 mendatang di Surakarta.

“Stadion taraf internasional ini, dibuka begitu saja dan pengawasannya kurang. Bahkan, masyarakat yang berdatangan melebihi kapasitas. Lebih-lebih kalau hari Sabtu dan Minggu, untuk lari saja sulit,” keluhnya.

Padahal sebelumnya, Paryanto mengatakan bahwa porsinya sudah pas yakni masyarakat umum di pagi hari, sementara saat sore dikhususkan untuk atlet Kota Semarang yang sekarang dalam persiapan menuju Porprov.

Namun dalam kurun waktu dua minggu terakhir, kenyataannya Pemkot Semarang justru membuka GOR tersebut untuk umum tanpa batasan waktu. Hal ini, sangat mengganggu persiapan para atlet.

Meskipun selama ini, memang telah diberikan kebijakan yang memudahkan para atlet saat berlatih. Seperti lintasan lari jarak jauh yang dibagi menjadi dua, untuk masyarakat menggunakan trek bagian luar sementara para atlet di trek nomor 1 sampai 4 atau trek bagian dalam.

“Sudah dibagi begitu saja, kadang masih tabrakan juga. Ya ini karena overload itu. Apalagi kalau Sabtu dan Minggu, untuk lari saja sudah tidak bisa,” imbuhnya.

Sebenarnya, Paryanto tidak masalah dengan dibukanya fasilitas bertaraf internasional yang pengerjaannya membutuhkan waktu tiga tahun anggaran itu untuk masyarakat umum. Hanya saja, aturan yang belum jelas dan kurang tanggung jawabnya individu pada kebersihan dan kondisi lapangan membuatnya prihatin.

Di sisi lain, tak sedikit masyarakat yang datang ke GOR, bukan semata-mata untuk berolahraga, melainkan hanya berjalan-jalan dan ber-swafoto. Keadaan seperti itulah yang menurutnya, menjadi salah satu faktor pengganggu latihan para atlet.

Kepada Jawa Pos Radar Semarang, pria ini berharap Pemkot Semarang dapat meninjau kebijakan dibukanya GOR Tri Lomba Juang untuk umum dengan pertimbangan prestasi atlet dan mempertahankan kondisi lapangan bertaraf internasional tersebut.

“Misalnya, Senin Rabu Jumat hanya khusus untuk latihan atlet yang sedang dalam persiapan menuju Porprov. Selasa Kamis Sabtu dipersilahkan untuk masyarakat. Nah maunya hari Minggu itu biar (lapangan) rest, karena ini juga harus rest. Selain itu, biar ada pembersihannya juga efektif,” pungkasnya.

Salah satu atlet yang tengah mempersiapkan diri untuk Porprov, Florencia Amanda menyayangkan kurangnya kesadaran masyarakat pada aturan penggunaan fasilitas olahraga tersebut. Salah satunya adalah membuang puntung rokok sembarangan dan menggunakan sandal.

“Sebenarnya saya setuju saja kalau dibuka, tapi ya itu, kadang-kadang suka pada ngerokok sembarangan. Terus suka pakai sandal, padahal sudah diatur kalau harus pakai sepatu,” tutur siswi SMAN 6 Semarang itu di sela-sela latihan.

Selain itu, ia juga berharap masyarakat bisa lebih sadar dan menghargai para atlet yang sedang melakukan persiapan dalam rangka Porprov ataupun peraihan prestasi lainnya. Khususnya ketika menggunakan lintasan lari, untuk menghindari tabrakan antara atlet pelari cepat dan masyarakat.

Atlet lainnya, Juan Muhammad Farhan, 19, berkomentar pada kebiasaan buruk pengguna arena skateboard yang berada di bagian pojok stadion bagian selatan. Para Skater seringkali merokok dan membuang puntung rokok sembarangan. Meski telah diingatkan, tak jarang mereka tetap melakukannya secara sembunyi-sembunyi.

Juan juga sependapat dengan pelatihnya tentang dibukanya fasilitas tersebut untuk umum yang cukup mengganggu porsi latihan para atlet. Ia hanya berharap pada pihak terkait untuk membuat peraturan yang tegas pada stadion tersebut.

“Peraturannya itu ditegaskan lagi, pengawasannya juga perlu. Jadi semuanya enak. Apalagi kalau dibikin terjadwal, hari-hari tertentu untuk atlet,” tandasnya. (tsa/ida)

Silakan beri komentar.