Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Kantor Perwakilan Semarang, Fanny Rifqi El Fuad
Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Kantor Perwakilan Semarang, Fanny Rifqi El Fuad

RADARSEMARANG.COM – Literasi masyarakat Jawa Tengah akan pasar modal harus diakui masih sangat minim. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Fanny Rifqi El Fuad selaku Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Kantor Perwakilan Semarang. Dia giat menyosialisasikan industri ini pada masyarakat hingga ke pelosok.

“Masyarakat sebetulnya bukan enggan untuk berinvestasi di pasar modal, tapi masalahnya mereka kurang atau justru mendapatkan informasi yang salah mengenai pasar modal,” ujarnya saat ditemui oleh Jawa Pos Radar Semarang, baru-baru ini.

Beberapa mitos negatif yang kerap menjadikan orang enggan mengenal industri ini diantaranya, pasar modal mirip judi, membutuhkan uang banyak untuk masuk sebagai investor di pasar modal, dan seorang investor harus mencurahkan waktu seharian untuk mengamati pergerakan saham.

“Hal ini menjadi suatu tantangan bagi saya, bagaimana mengklarifikasi sekaligus memberikan pemahaman yang berbeda, khususnya mengenai mitos-mitos yang salah tadi,” ujarnya.

Oleh karena itu, dalam tiap kesempatan mengedukasi masyarakat, baik yang berpendidikan tinggi maupun sedang, remaja, ibu rumah tangga, karyawan hingga pensiunan, Fanny menggunakan pemilihan kata-kata dan kalimat sederhana yang mudah dipahami dan cepat dicerna. Termasuk juga penggunaan analogi sehari-hari yang cukup umum di masyarakat.

“Beberapa peserta yang pernah belajar pasar modal mengalami kesulitan karena mereka mendapatkan informasi pasar modal dengan bahasa yang cukup rumit. Karena itu saya sesekali pakai analogi,” katanya. Misalnya reksadana laiknya pergi naik bus, pasar modal laiknya sebuah mal atau pasar tradisional. Dengan begitu orang akan lebih mudah memahami pasar modal.

Ya, menurutnya, berbicara pasar modal sama dengan berbicara sesuatu yang universal. Semua orang berhak untuk sejahtera. Semua orang ingin nilai uangnya tidak tergerus inflasi dan beberapa hal dalam kaitannya dengan pasar modal.

“Dengan demikian masyarakat menjadi paham, bahwa produk-produk di dalam pasar modal merupakan investasi yang legal dan memberikan return yang cukup maksimal. Meskipun ada risiko, namun bisa diminimalkan,” ujar alumnus Magister of Science Universitas Gajahmada ini.

Hasilnya, tak sedikit para peserta Sekolah Pasar Modal (SPM) yang digelar rutin di BEI Kantor Perwakilan Kota Semarang, kantor perwakilan Otoritas Jasa Keuangan, kuliah pasar modal di kampus-kampus maupun lainnya mengaku tertarik untuk berinvestasi di pasar modal. “Setelah ikut SPM, kebanyakan pada bilang, kenapa nggak dari dulu ikutan,” ujarnya.

Tantangan lain dalam mengembangkan industri pasar modal di Jawa Tengah adalah masih minimnya perusahaan terbuka yang asli daerah tersebut. Sejauh ini, baru terdapat lima perusahaan yang sudah terdaftar di bursa efek.

“Kebanyakan perusahaan di Semarang dan Jateng adalah perusahaan keluarga dengan karakteristik tertutup. Padahal, kalau perusahaan ingin mendapatkan permodalan di pasar modal mereka harus terbuka,” ujarnya.

Sehingga, pemberian pemahaman yang tepat terkait manfaat go public bagi para pemilik perusahaan keluarga ini menjadi sangat penting. Bahwa dengan go public, bukan berarti para pemilik perusahaan ini kehilangan kewenangan. Tapi mereka hanya berbagai sebagian kecil dari kepemilikannya, yaitu sekitar 15-25 persen.

Selain itu, lanjutnya, perusahan yang masuk ke pasar modal tidak hanya mengejar sisi finansial. Tapi jauh dibalik itu bagaimana perusahaan keluarga yang go public diupayakan untuk terus langgeng dan berkembang. Jangan sampai ketika tampuk pimpinan dari founding father beralih ke penerus berikutnya, perusahaan semakin lemah dan menurun.

“Ada banyak perusahaan yang akhirnya gulung tikar karena sengketa dalam keluarga, dan adapula perusahaan keluarga yang memilih go public kemudian bertambah besar,” ujarnya. (nurul pratidina/ric)